Deuterokanonika

Deuterokanonika

Alkitab Gereja Katolik (dan juga Gereja Yunani Ortodoks) mempunyai perbedaan dengan Alkitab gereja-gereja Kristen Protestan. Alkitab Gereja Katolik memuat juga kitab-kitab yang disebut Deuterokanonika. Istilah Deuterokanonika dipakai untuk menyebut tujuh kitab dan tiga tulisan tambahan yang tidak terdapat dalam daftar Kitab Suci Ibrani, tetapi terdapat dalam daftar Kitab Suci Yunani (Septuaginta), yakni: Tobit, Yudit, Barukh, 1-2 Makabe, Kebijaksanaan Salomo, Yesus bin Sirakh, Surat Nabi Yeremia (Barukh 6), Tambahan pada Kitab Ester (Est. 10:4-16:24), dan Tambahan pada Kitab Daniel (Dan. 13-14).

 

1. Kitab Tobit

 

Berkisah tentang seorang bernama Tobit yang tertimpa kemalangan, tetapi anaknya yang bernama Tobia dapat menyembuhkannya. Dan Tobia kemudian menikah dengan Sara. Lalu seluruh keluarga itu berbahagia kembali. Tuhan memang melindungi orang yang takwa.

 

2. Kitab Yudit

 

Berkisah tentang seorang perempuan Israel di negeri Kanaan. Ia berhasil menyelamatkan umat Israel dan kota Yerusalem dari serangan musuh yang dahsyat. Yudit menandaskan bahwa umat kecil yang tidak berdaya tetapi setia kepada Tuhan, dapat bertahan dan bahkan dapat memusnahkan kuasa jahat yang mengancam.

 

3. Kitab 1 Makabe

 

Berkisah tentang perang kemerdekaan umat Israel melawan penjajah. Tokoh utamanya adalah Yudas yang bergelar Makabe. Mereka mendapatkan kemerdekaan politik dan agama. Umat percaya bahwa hanya dengan iman dan kepercayaan mereka mendapat kekuatan hingga berhasil mengalahkan musuh.

 

4. Kitab 2 Makabe

 

Berkisah tentang perang kemerdekaan yang sama. Kisah lebih pendek karena hanya berkisah tentang Yudas Makabe saja.

 

5. Kitab Kebijaksanaan Salomo

 

Berupa wejangan dan renungan tentang berbagai masalah, khususnya soal kematian orang baik dan nasibnya di alam baka nanti. Juga ada renungan tentang sejarah umat Israel yang dipimpin oleh Hikmat Allah.

 

6. Kitab Yesus bin Sirakh

 

Berupa sekumpulan wejangan, renungan, petuah dan pepatah Yesus bin Sirakh.

 

7. Kitab Barukh

 

Melukiskan semangat orang-orang Yahudi di perantauan menjelang zaman Perjanjian Baru. Pada kitab ini ditambahkan sebuah tulisan lain, yaitu surat dari Nabi Yeremia.

 

Gereja-gereja Kristen Protestan menyebut kitab-kitab Deuterokanonika sebagai tulisan-tulisan Apokrif.[1] Kata Apokrif berasal dari bahasa Yunani yang artinya tersembunyi, terselubung, rahasia.[2] Gereja Katolik menyebutnya sebagai Deuterokanonika (artinya: kanon kedua). Sedangkan kitab-kitab yang tidak pernah diragukan kedudukannya sebagai bagian dari Kitab Suci disebut Protokanonika (artinya: kanon pertama).

 

Bagaimana sejarah munculnya perbedaan?

 

Perbedaan ini terkait dengan sejarah agama Yahudi dan terbentuknya Kitab Suci. Sejak zaman pembuangan Babel (abad 6 SM) tidak semua orang Yahudi tinggal di Palestina. Banyak di antara mereka yang tinggal di luar Palestina, seperti di Mesir, Yunani, Roma, Babel dan sebagainya. Orang Yahudi di Palestina memiliki daftar kitab yang disebut sebagai Kitab Suci, demikian pula orang Yahudi di luar Palestina memiliki daftar mereka sendiri. Sekitar tahun 100 Masehi, para rabbi (imam Yahudi) berkumpul di Jamnia (Palestina) dan menetapkan daftar kitab-kitab yang diterima sebagai Kitab Suci.

 

Daftar Kitab Suci yang dipakai oleh orang Yahudi di luar Palestina lebih luas dari yang dipakai di Palestina, karena mencakup juga kitab-kitab yang sekarang digolongkan sebagai kitab-kitab Deuterokanonika. Umat kristiani mengikuti daftar Kitab Suci yang berlaku di kalangan orang Yahudi di luar Palestina itu. Mereka tetap mengakui kitab-kitab yang tidak lagi diterima oleh orang-orang Yahudi. Gereja-gereja Protestan, yang kemudian memisahkan diri dari Gereja Katolik, menyesuaikan diri dengan daftar Kitab Suci orang Yahudi di Palestina, sehingga muncullah perbedaan antara Katolik dan Protestan mengenai daftar Kitab Suci.

 

[1] Disini harus membedakan kata “apokrif” menurut paham protestan dan menurut paham katolik. Apa yang oleh orang protestan disebut “apokrif” oleh katolik disebut “deuterokanonika.” Sedangkan apa yang disebut apokrif oleh orang katolik, oleh orang protestan disebut “pseudepigrapha” (tulisan tiruan).

 

[2] Maka, kitab-kitab apokrif adalah kitab-kitab yang ditulis dan beredar, tetapi tidak diterima sebagai tulisan yang terinspirasi dari Roh Kudus dan tidak termasuk dalam kanon.

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s