images (2)

Pertanyaan ini menunjuk pada ketegangan yang dapat muncul antara Gereja dan budaya. Khususnya, berbagai gagasan yang orang bawa ke dalam perencanaan perkawinan kadang-kadang bertentangan/berselisih dengan liturgi Gereja. Hollywood, tradisi Kerajaan, dan dongeng memberi pengaruh primer pada banyak orang katolik. Karakterisasi dari perayaan Sakramen Perkawinan berikut ini mungkin masih menjadi ide-ide asing bagi kita:
Iman Gereja mendahului iman perorangan, yang diajak supaya menyetujuinya. Kalau Gereja merayakan Sakramen-sakramen, ia mengakui iman yang diterima dari para Rasul… Cara doa adalah cara iman; Gereja percaya, seperti yang ia doakan. Liturgi adalah unsur dasar tradisi yang suci dan hidup. (KGK 1124)
Upacara-upacara Liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan Gereja sebagai sakramen kesatuan, yakni Umat kudus yang berhimpun dan diatur dibawah para Uskup.
Maka upacara-upacara itu menyangkut seluruh Tubuh Gereja dan menampakkan serta mempengaruhinya; sedangkan masing-masing anggota disentuhnya secara berlain-lainan, menurut keanekaan tingkatan, tugas serta keikut-sertaan aktual mereka. (Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium (SC) 26)
Semua liturgi sungguh kaya akan doa pemberkatan dan epiklese, yang memohon dari Allah rahmat dan berkat untuk pasangan Perkawinan yang baru, terutama untuk mempelai Wanita. Dalam epiklese Sakramen ini kedua mempelai menerima Roh Kudus sebagai persatuan cinta antara Kristus dan Gereja. (Bdk. Ef 5:32) Roh Kuduslah meterai perjanjian mereka, sumber yang selalu mengalir bagi cinta mereka, kekuatan untuk membaharui kesetiaan mereka. (KGK 1624)

Perkawinan di Gereja Paroki

Banyak (mungkin sebagian besar) orang Katolik tidak mengerti bahwa Gereja memohonkan Roh Kudus pada perkawinan mereka dengan epiklese (yaitu, doa memohonkan Roh Kudus untuk menguduskan perkawinan mereka dengan cara yang sama seperti Roh Kudus dimohonkan selama Misa dan perayaan sakramen lain). Tetapi, umat yang sama ini pula, merasa bahwa tindakan seperti itu harus dilakukan dalam (bangunan) Gereja. Gereja adalah tempat kudus untuk kegiatan yang kudus. Pantai dan gunung mungkin memunculkan sense kebesaran Allah bahkan kehadiran-Nya, tetapi tempat seperti itu tidak dikonsekrasi untuk tindakan ilahi seperti turunnya Roh Kudus dalam perayaan sakramen.
Bangunan Gereja juga memiliki fungsi untuk mengumpulkan komunitas umat beriman. Perayaan sakrmane perkawinan bersifat komunal. Upacaranya, normalnya, dilaksanakan di paroki salah satu pasangan pengantin, dan janji-janji diucapkan di hadapan komunitas.
Setiap kali suatu upacara, menurut hakekatnya yang khas, diselenggarakan sebagai perayaan bersama, dengan dihadiri banyak Umat yang ikut-serta secara aktif, hendaknya ditandaskan, agar bentuk itu sedapat mungkin diutamakan terhadap upacara perorangan yang seolah-olah bersifat pribadi. Terutama itu berlaku bagi perayaan Misa, tanpa mengurangi kenyataan, bahwa setiap Misa pada hakekatnya sudah bersifat resmi dan umum, begitu pula bagi pelayanan Sakramen-sakramen. (SC 27)
Hukum Kanonik menentukan perayaan perkawinan di Gereja paroki, jika pasangan tidak mendapat dispensasi dari uskup untuk suatu alasan yang memadai (KHK 1118 §1, 2). Tetapi mengapa? Upacra perkawinan adalah upacara sakramental dan bukan melulu suatu kesaksian publik atas suatu komitmen privat antara 2 pribadi. Gereja adalah tempat suci dan tempat komunitas.

Prosesi Memasuki Gereja

Penerimaan pengantin wanita adalah momen penting dalam suatu upacara perkawinan. Gambaran romantisnya adalah putri raja dengan gaun pengantin yang panjang dan organ memainkan “Bridal Chorus” dari Wagner. Dalam upacara yang biasa, beberapa pengiring pengantin pria dan wanita, pembawa cincin, dan gadis pembawa bunga akan berjalan di lorong antara deretan orang banyak. Kemudian ada paduan nada dari “Bridal Chorus,” dan pengantin wanita masuk diantar oleh ayahnya. Beberapa menyebutkan imam dan pelayan altra masuk dari samping.
Dalam liturgy Gereja, prosesi masuk menandakan “keteraturan, ketenangan, kepercayaan, dan kegembiaraan, kebutuhan akan doa bersama, dan kegembiraan akan kemenangan Penyelamat kita” [Jovian P. Lang, O.F.M., Dictionary of the Liturgy (New York: Catholic Book Publishing Co., 1986), hlm. 523.]. Karena itu, ritus perkawinan mencakup opsi untuk prosesi meriah yang di dalamnya imam menerima pengantin pria dan wanita di pintu gereja. Urutan prosesi: putra altar, lalu meungkin orang tua dan para pengirin pengantin, kemudian imam dan terakhir kedua mempelai. Harus dicatat bahwa prosesi ini meniadakan gambaran bahwa pengantin perempuan “diserahkan.”
Apakah imam dan pengantin pria menanti pengantin wanita, kedua mempelai masuk bersama atau semuanya masuk bersama, hymne atau musik yang tepat yang mengiringi prosesi di sepanjang lorong tengah. Ada banyak hymne atau musik yang sesuai dengan karakter suci dari ritus perkawinan, tetapi “Bridal Chorus” Wagner (atau yang lebih dikenal “Here Comes the Bride”) tidak termasuk salah satu yang sesuai itu.
“Bridal Chorus” Wagner berasal dari opera romantic, Lohengrin, yang mungkin dapat digambarkan sebagai opera tragis atau setidaknya sedih. Seorang pahlawan wanita Elsa tidak bersalah dan murni, tetapi ia dituduh membunuh saudaranya yang adalah pewaris tahta. Ketidakbersalahan Elsa harus ditentukan melalui ujian dengan pertarungan, teapi tidak seorangpun di kerajaan itu akan membelanya melawan para penuduhnya. Maka, seorang ksatria dengan baju baja berkilau datang. Dia akan membela Elsa dengan syarat bahwa Elsa menerima seluruh dirinya dan jika ksatria itu menang Elsa berjanji untuk menikah dengannya dan dia tidak boleh bertanya siapa namanya dan dari mana asal usulnya. Elsa setuju, ksatria itu menang dan mereka menikah. Tetapi “Bridal Chorus,” tidak berasal dari upacaya perkawinan ini. “Bridal Chorus” adalah musik dan nyanyian yang mengiring Elsa dan ksatrianya dari ruangan pesta ke kamar pengantin untuk mengkonsumasi perkawinan mereka. Konsumasi itu tidak pernah terjadi. Elsa digoda oleh rakyat yang jahat untuk meragukan ksatrianya. Dan dijalan menuju kamar pengantin, dia kalah terhadap godaan itu dan bertanya siapa nama ksatria itu. Ksatria itu adalah Lohengrin, pelayan “the Holy Grail” dan pembela kebenaran dan orang yang tidak bersalah. Elsa hanya harus percaya akan kesungguhan maksudnya dan mencintai dia tanpa syarat selama setahun dan kemudian semuanya akan diungkapkan. Tetapi, rahasianya terungkap dan ksatria itu harus pergi. Elsa meninggal dalam kesedihan yang mendalam.
Singkatnya “Bridal Chorus” tidak ditulis untuk suatu maksud yang suci, bukan juga untuk perarakan perkawinan. Musik dan kata-katanya (bukanlah “Here comes the bride”) adalah suatu serenade (rayuan musik) tentang pasangan yang meninggalkan ruang pesta menuju kamar pengantin untuk meresmikan ikatan yang tak terpisahkan sampai kematian. Karena alasan ini, “Bridal Chorus” disingkirkan dari daftar musik yang diijinkan untuk ritus perkawinan.
Yang juga popular dan disingkirkan dari ritus perkawinan adalah “Wedding March” Mendelssohn. Lagu itu ditulis sebagai musik insidental untuk A Midsummer Night’s Dream, suatu drama komedi yang bercampur dengan musik seperti biasa dalam gaya Shakespeare. Yang bercerita tentang raja dan ratu peri, Oberon and Titania. Dalam salah satu babaknya, untuk mengalihkan Titania selama Oberon menjalankan suatu rencana, ia membuat Titania tertidur di hutan, terpesona sampai jatuh cinta dengan mahluk hidup pertama yang ia lihat ketika ia bangun.
Makhluk pertama itu ternyata seorang pekerja biasa yang kepalanya telah diubah menjadi kepala keledai. Satu dari baris puisi Bottom: “alasan dan cinta sulit bersatu pada masa sekarang.”

“Wedding March” adalah musik untuk suatu suatu komedi; bukan musik suci untuk peribadahan kepada Allah.

diterjemahkan secara bebas dari:
http://www.cuf.org/2010/05/ask-cuf-must-a-catholic-wedding-be-held-in-a-church-building-why-is-the/

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s