Mengapa kita orang Katolik mengaku dosa-dosa kita pada para imam yang sama-sama manusia?

Ini adalah pertanyaan yang berulang kali dikemukan oleh kelompok Protestan. Sebagai orang protestan (dulu) aku juga bertanya soal itu setiap kali aku berbicara dengan orang Katolik tentang soal agama. Bahkan orang Katolik sering bingung karena soal itu.

Bahkan satu dari anak lelakiku bertanya, “Pap, mengapa kita harus mengaku dosa kita pada para imam padahal Allah yang mengampuni kita? Mengapa tidak langsung pada Yesus saja?”

Ini pertanyaan yang hebat dan untuk menjawab itu tidak cukup dengan jawaban satu paket dari kaum apologet. Kita semua tahu jawaban tercepat dan termudahnya:
1. Yesus Kristus memberi Para Rasul kuasa untuk mengampuni dosa dalam Yoh
20:21-23.
2. Para Rasul adalah imam-imam pertama dan mereka hanyalah manusia.
3. Para imam (dengan suksesi historis dari Para Rasul) hanya dapat menyatakan
pengampunan dosa jika dosa-dosa itu diungkapkan oleh mereka yang
melakukan dosa.
4. Karena itu, kita harus mengungkapkan dosa-dosa kita pada para imam
sehingga dosa-dosa ini kemudian akan diampuni melalui sarana yang telah
ditetapkan Kristus yang adalah Allah.

Logis dan bisa diterapkan.

Tetapi ada pertanyaan yang lebih sukar:
“Mengapa Yesus mengaturnya demikian? Tidak dapatkah Kristus mengatur hal-hal itu sehingga kita cukup mengungkapkan dengan kata-kata dosa-dosa kita pada-Nya? Mengapa Kristus mengatur suatu sarana perantara?”

Di sini kita beranjak dari suatu apologetika sederhana, dan masuk ke dalam intinya. Mengapa aku harus mengungkapkan hal-hal yang mendalam, gelap dan memalukan pada seorang pria yang menggunakan stola ungu? Kristus sudah tahu, tapi mengapa harus ada manusia penengah? Orang awam, biarawan-biarawati, imam, uskup, cardinal bahkan paus, semuanya, harus mengaku dosa kepada manusia. Mengapa?

Aku tak bisa mengira-ngira pikiran Allah. Tapi aku punya satu gagasan

Kristus tahu bahwa kita akan menipu diri kita sendiri. Itu benar. Kita tidak akan menganggap serius terhadap dosa. Dan itu berarti tidak pula kita akan menganggap serius rahmat yang akan kita terima.

Aku telah mengalami mengaku dosa langsung pada Allah (saat masih Protestan). Aku juga telah mengaku dosa di hadapan seorang imam yang mendengarkan setiap kata-kataku. Ada suatu perbedaan kualitatif antara keduanya.

Melalui diriku sendiri, aku menyesali “dosa-dosaku” itu hanya secara umum dan kurang teliti. Tetapi ketika aku mengaku dosaku di hadapan imam, itu akan menjadi spesifik. Lebih daripada itu, ada suatu rasa takut yang diikuti oleh gelombang rahmat belaskasih yang menghantam jiwaku.

Aku pikir perbedaannya adalah seperti makan di Taco Bell (restoran cepat saji) versus makan di Restoran Prancis yang mewah dan elegan. Keduanya sama-sama menyediakan makanan, tetapi restoran Prancis memberikan juga suatu pengalaman. Pengalaman di restoran Prancis termasuk pria yang mengenakan seragam hitam dan putih.

Tanpa melihat makanannya, pengalaman lebih baik dan lebih tertanam di restoran Prancis karena dimediasi oleh pelayan-pelayan manusia yang memiliki pengalaman manusiawi yang rela dengan kita.

Pramusaji Prancis care terhadap kita selama pengalaman itu, membawa dan menghidangkan hidangan utama bagi kita, membersihkan meja dengan rapi, membersihkan remah-remah roti di taplaknya dengan suatu alat pembersih, dan kemudian memastikan kita nyaman dan senang. Hidangan penutup adalah juga bagian besar dari pengalaman itu.

Tak seorangpun mengalami hal itu di Taco Bell dan memang itulah Taco Bell.

Dugaanku adalah Kristus menetapkan Sakramen Rekonsiliasi Dia sungguh-sungguh menginginkan kita untuk mengalami Belaskasih Ilahi-Nya dengan cara yang dapat kita rasakan secara real. Pengampunan membutuhkan suatu pengalaman manusiawi – bukan melulu kata-kata.
Akan sangat sulit bagi seorang wanita untuk merasakan penyembuhan di atas tempat tidur ketika ia mengaku telah melakukan aborsi 25 tahun yang lalu. Tetapi dengan kehadiaran seorang sahabat bagi pendosa (seorang imam), dia mendengarkan kata-kata yang menenangkan dan kemudian suatu penyataan yang ilahi dan dapat didengar bahwa dosa-dosanya secara resmi diampuni dan dibuang jauh.

Itulah perbedaan antara “Burrito Supreme” di “drive-through” dan menikmati “Blanquette de Veau or Beef Bourguignon” dengan perhatian dari pramusaji Prancis dengan bantuan seorang “sommelier” (orang yang punya keahlian dalam urusan anggur/wine).

Tentu saja, pengalaman akan “Blanquette de Veau or Beef Bourguignon” menuntut biaya yang lebih banyak daripada “Burrito Supreme” yang terbungkus kertas. Tetapi manakah yang akan Anda pilih?

Ya, pengakuan pada seorang imam memiliki “biaya emosional” (pengalaman emosional). Tetapi akankah Anda mendapatkannya dengan cara yang lain?

Saatnya untuk memberi komentar: apakah Anda setuju bahwa Kristus telah menetapkan pengampunan dosa dengan cara yang paling baik dan mungkin? Apakah “biaya emosional” itu pantas/berharga? Bagaimana dengan pengalaman Anda?

Diterjamahkan dari:
== “http://www.taylormarshall.com/2013/05/why-confess-sins-to-man-blanquette-de.html?utm_source=Canterbury+Tales&utm_medium=email&utm_campaign=f41c4218b6-RSS_EMAIL_CAMPAIGN&utm_term=0_64accbc3c7-f41c4218b6-59079605” ==

 

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s