Satu dari hal-hal yang menarik tentang pelayanan/misi paroki adalah betapa banyak umat yang selalu mengemukakan pertanyaan menyelidik. Suatu sore di Indianapolis seorang pria bernama Frank bertanya apakah salah jika tidak mempercayai hal-hal yang Gereja ajarkan. Dia seorang ilmuwan dan dia tidak bisa menerima cerita mengai Adam dan Hawa. Dia bertanya apakah benar Gereja berharap kita mempercayai adam dan hawa historis.

Jadi, aku menjelaskan perbedaan antara keraguan dan kesulitan. Kesulitan adalah ketika kita dikonfrontasikan dengan sesuatu yang nampaknya luar biasa atau tidak mungkin dan kita berkata, “bagaimana itu bisa seperti itu?” Kita menyimpan rasa penasaran dan membuka pikiran yang selalu bertanya. Itu tidak masalah. 
Sementara keraguan adalah ketika kita dikonfrontasikan dengan hal-hal yang luar biasa atau tidak mungkin dan kita bertanya, “Tidak bisa seperti itu.” Pada titik itu, kita menutup pikiran kita dan berhenti bertanya tentang solusi-solusi yang penting untuk suatu masalah. Kesulitan berkatian dengan iman bukan hanya diperbolehkan, tetapi juga didukung, karena dengan berhadapan dengan kesulitan-kesulitan kita berpikir soal iman kita dan menemukan solusi-solusi. Mindset “bagaimana bisa seperti itu?” penuh dengan keheranan dan percaya, dan sebagian besar open-minded. Keraguan adalah negatif dan tertutup.

Lalu apa yang akan kita lakukan dengan kisah Adam dan Hawa? Aku bertanya pada Frank apa yang tidak dia percayai dari kisah Adam dan Hawa. Ternyata dia dulunya adalah seorang Kristen Baptis dan apa yang tidak dia percayai adalah gambaran kisah Kitab Suci versi fundamentalis tentang bab kedua kitab Kejadian. Dia tidak percaya akan pria telanjang yang tampan yang berdiri di belakang semak-semak setinggi pinggang dan wanita cantik telanjang dengan rambut panjang yang menutupi dadanya ketika ia berbicara dengan seekor ular tentang sebuah apel. Dia tidak percaya hanya ada 2 orang di dunia yang hidup di taman entah di mana di sekitar Irak kira-kira 6000 tahun yang lalu.

Bagus, karena untuk menjadi seorang Katolik yang baik, kita tidak harus percaya semua tentang Adam dan Hawa. Semua yang harus kita percayai adalah bahwa entah di mana pada satu titik waktu ada seorang pria dan wanita yang adalah orang tua pertama kita dan bahwa mereka telah membuat suatu keputusan monumental untuk tidak taat pada Allah. Aku mengingatkan dia bahwa kisah-kisah dalam Kitab Kejadian adalah mitos-mitos penciptaan Ibrani kuno. Kisah itu adalah kisah-kisah simbolik yang hendak mengungkapkan suatu kebenaran. Kisah-kisah itu tidak harus merupakan laporan-laporan faktual tentang apa yang tepatnya terjadi. Tetapi, tidaklah benar bahwa kisah-kisah itu dimaksudkan melulu mitos – suatu dongeng tidak sama sekali tidak mengisahkan apa-apa.

Jadi kapan dan di mana mereka hidup? Jawabannya adalah kita tidak tahu. Kisah-kisah dalam 12 bab pertama dalam Kejadian hilang di tengan kabut yang kita sebut “pra-sejarah”. Hanya dengan Bapa Abraham kita bisa mulai menyatukan potongan-potongan sejarah tentang tempat dan orang. Apa yang dapat kita katakan tentang Adam dan Hawa? Pertama-tama, kita dapat menyimpulkan bahwa mereka bukanlah satu-satunya makhluk manusia yang ada di muka bumi pada masa itu, karena Kain pergi dan menemukan seorang istri.

Teoriku sendiri adalah bahwa ada manusia lain di bumi, tetapi Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang secara khusus diciptakan dengan jiwa, dengan kehendak bebas dan mungkin yang pertama dengan bahasa. Mereka adalah yang pertama yang memiliki realsi dengan Allah, dank arena itu orang tua pertama bagi semua yang percaya. Apakah mereka hidup di taman? Telanjang? Berbicara dengan ular? Makan apel? Apakah ada suatu pohon pengetahuan yang baik dan jahat? Aku tidak mengatakan bahwa itu tidak ada, tetapi mungkinlah untuk percaya bahwa sebagaian dari elemen-elemen itu bersifat simbolis. Dan percaya bahwa kisah esensialnya adalah bahwa laki-laki dan perempuan yang diciptakan khusus hidup di bumi dalam keadaan tanpa dosa seperti anak kecil dan bahagia–bahwa mereka memiliki relasi yang unik dengan Allah yang mereka rusak dengan ketidaktaatan. Sisa dari detil-detil tetaplah dengan akhir yang terbuka terhadap penafsiran dan penelitian. Kita bisa percaya secara hurufiah, tetapi itu tidak perlu.

Mengapa hal itu berarti? Hal itu berarti karena iman kita bersifat historis. Dari permulaan Kitab Kejadian, melalui genealogi bangsa Yahudi kita diingatkan bahwa karakter dari pra-sejarah dihubungkan dengan karkater-karakter historis yang kita ketahui. Penulis-penulis yahudi bermaksud untuk memperlihatkan bahwa interaksi Allah dengan manusia bersifat historis dan real dan bukan mitologis dalam arti dongeng. Karena itu, kita mengafirmasi bahwa Adam dan Hawa adalah figur-figur historis–bagaimana dan kapan mereka hidup dan detil-detil dari kejatuhan mereka tetap terbuka untuk penafsiran yang didasarkan pada kisah dalam kitab suci.

Diterjemahkan secara bebas dari:
http://www.patheos.com/blogs/standingonmyhead/2013/05/difficulties-with-adam-and-eve.html

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s