Di sebuah grup, ada seorang rekan yang membagikan gambar ini. Belum sampai membaca rinci, saya agak tergelitik untuk tidak berkomentar pada judul yang diberikan. Tertera dalam gambar tersebut, frasa “Misa Akbar”. Sejenak saya mengernyitkan dahi. Tapi setelah saya membaca isinya, saya lalu menerka-nerka beberapa kemungkinan.

1. Saya menduga bahwa kata “akbar” dipilih untuk menyatakan “kemegahan” atau “kebesaran” acara yang dimaksud (dalam hal ini : misa). Namun yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah benar perlu disebut “Misa Akbar”?

Sepengetahuan saya, kata “Misa” berasal dari kata-kata terakhir yang diucapkan oleh selebran: “Ite, missa est!” (“Pergilah, kamu diutus!”). Dalam perjalanan waktu, kata “Misa” dalam Gereja Katolik, kemudian sangat erat dikaitkan dengan “Korban Kristus”, sehingga muncul kemudian frasa “Misa Kudus” atau “Korban Misa”. Saya tidak habis pikir, jika kemudian kata “Misa” disandingkan dengan kata “Akbar”. Kita tahu, bahwa umat Katolik tidak perlu menunggu berlama-lama “kedatangan Kristus” (walaupun memang Kristus akan datang kembali untuk kali yang kedua secara definitif). Mengapa demikian? Kristus datang setiap kali kita menyambut Komuni. Lebih lanjut jika ini memang kita maknai sebagai kedatangan, sebenarnya pikiran kita seharusnya sedikit banyak mengenang kedatangan-Nya yang pertama. Kedatangan-Nya yang pertama sama sekali bukan peristiwa yang “akbar”. Kedatangan-Nya memang diwartakan oleh barisan malaikat pemuji Allah di langit, namun inti peristiwa kedatangan-Nya yang pertama sama sekali jauh dari kesan “akbar”. Bukankah kelahiran-Nya terjadi di dalam kandang hina? Bukankah kita terpaku ketika kita menyanyikan “Malam kudus…sunyi senyap…”? Maka agaknya, terjadi, meminjam istilah Jaya Suprana, suatu kelirumologi dalam padu padan kata “Misa” dan “Akbar”.

2. Saya menduga bahwa kata “akbar” dipilih sebagai sinonim kata “raya” sehubungan karena “Misa” yang dimaksud adalah dalam rangka “merayakan” pembukaan dan penutupan bulan Maria. Namun demikian, apakah benar-benar perlu bahwa kata “misa” dan “akbar” disandingkan dalam konteks ini?

Agaknya kita perlu kembali memantapkan pengertian kita tentang Ekaristi, yang berasal dari bahasa yunani, yang berarti suatu “(perayaan) ucapan syukur”. Kiranya dalam konteks ini, kita mengerti bahwa sesuatu yang bersifat “syukuran” adalah sudah pasti merupakan suatu peristiwa sukacita, suatu “perayaan”. Jadi bagaimana?
Gereja memiliki frasa lain untuk menyebut “Misa Kudus”, yaitu “Perayaan Ekaristi”. Menurut hemat saya, frasa ini sangat jauh lebih tepat dari pada “Misa Akbar”. “Ekaristi” sendiri sudah berarti “syukuran” dan kata “perayaan” menambah lagi makna sukacita dalam kata Ekaristi. Jika kita perhatikan pula, jika kita memakai kata “Perayaan Ekaristi”, maka sebenarnya kesan “akbar” dalam konteks “raya” sudah amat sangat termaktub di dalam frasa ini – dan tentunya jauh lebih baik. Dalam frasa “Perayaan Ekaristi” selain sukacita dan sifat “raya” yang sudah sangat tersirat, sebenarnya ada sesuatu yang lebih dalam. Jika kita katakan “Perayaan Ekaristi” maka ada beberapa pertanyaan yang bisa digali.

a. Perayaan apa? Ekaristi >>> Di sini tersirat bahwa yang kita lakukan bukan perayaan duniawi namun ada motif yang lebih mendalam, yaitu suatu “Ekaristi”, suatu “ucapan syukur” kepada Allah.

b. Siapa yang merayakan? GEREJA. >>> Inilah sebabnya akan jauh lebih baik untuk tidak menggunakan frasa semacam “Misa Akbar”, karena dengan mengatakan “Perayaan Ekaristi”, sebenarnya secara tersirat kita mau menyatakan bahwa ada subyek yang merayakan, yaitu Gereja, yang tidak bisa hidup tanpa Ekaristi.
Jadi bagaimana? Menurut hemat saya pencantuman frasa “Misa Akbar” merupakan sesuatu yang terkesan dipaksakan. Frasa “Perayaan Ekaristi” sudah merupakan frasa tepat yang padat makna.

Selain penggunaan frasa “Misa Akbar”, saya sungguh tergelitik melihat kata UJUB. Dalam bahasa indonesia yang benar, padanan untuk INTENSI adalah UJUD (DOA), dan bukan UJUB. Saya lebih tergelitik untuk berkomentar, setelah saya melihat kalimat “prosesi pembakaran ujub”. Ini adalah suatu “kelirumologi” yang lain lagi, namun biarlah saya bahas sekaligus di sini. Saya pribadi sungguh tidak tahu konsep “prosesi pembakaran kertas ujud misa” ini datang dari mana. Sempat terbesit dalam pikiran saya bahwa ini adalah “turunan” budaya Tionghoa, yang membakar rumah-rumahan dan uang kertas pada upacara pemakaman agar benda fana itu akhirnya sampai di “alam sana”. Apakah prosesi ini dilatarbelakangi konsep semacam itu, saya tidak tahu. Namun demikian, Gereja Katolik sebenarnya sudah mempunyai “sarana” liturgi yang dapat memfasilitasi penyampaian doa kepada Yang Di Surga. Jika memang ini yang sungguh ingin ditekankan pada “misa akbar” tersebut, mengapa tidak menggunakan wiruk berdupa?

Asap dupa yang membubung dari wiruk sudah merupakan gambaran doa-doa Gereja (bahkan ketiga bentuk Gereja, yatu Gereja Jaya, Gereza Peziarah, dan Gereja Menderita). Ini menurut saya, sudah lebih dari cukup. Maknanya pun sudah sangat dalam, yaitu penyatuan doa-doa kita dengan keseluruhan doa Gereja. Dari sinilah kita bisa tahu bahwa Ekaristi akhirnya memang tidak pernah merupakan tindakan pribadi, namun selalu adalah tindakan Gereja. Saya rasa, pembakaran kertas ujud misa, tidak dapat menandingi keluhuran makna simbolik ini.

Kelihatannya memang pemilihan kata (dan istilah) yang tepat itu merupakan sesuatu yang sepele. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa ketepatan pemilihan kata bisa menjadi tolak ukur sejauh mana pemakai bahasa mengerti konsep dari kata yang ia pilih. Jika ini berlaku dalam dunia sekular, maka lebih-lebih menyangkut “hal-hal rohani”. Namun demikian, saya masih percaya bahwa para imam pasti berusaha keras agar umat mengenali, mencintai, dan menghidupi imannya dengan “baik dan benar”.

Akhir kata, semoga tulisan ini benar-benar bermanfaat untuk membangun –dan memang hanya ini tujuan saya.Selamat menyambut datangnya Bulan Maria bagi umat paroki penyelenggara dan bagi kita semua.

Salam bahasa persatuan, bahasa Indonesia!215247_4859979822288_2055886202_n

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s