Mungkin akhir tahun lalu, seorang teman memposting tentang buku terbaru karya Romo FX.Sugiyana, Pr. yang berjudul: “SMS UMAT.” Membaca ringkasannya, saya langsung tertarik untuk membaca dan memilikinya karena isi buku itu merupakan kebutuhan riil umat Katolik tentang imannya.

Waktu untuk memiliki buku itu akhirnya datang juga ketika dua Minggu lalu saya dirawat di Rumah Sakit St. Carolus, Jakarta. Melalui seorang teman, saya diberi buku itu dan langsung saja membacanya dalam seharian saja karena isinya yang ringkas, padat dan jelas.

Setelah membacanya, saya membuat beberapa catatan kritis tentang isinya, khususnya penggunaan istilah dan beberapa bagian yang seharusnya ditambahkan atau diberi penjelasan lebih sehingga benar-benar mencerahkan hati dan pikiran umat Katolik, yang membacanya.

BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPERJELAS DARI BUKU “SMS UMAT”

1) Pertama-tama saya salut dengan usaha briliant dari Romo Sugiyana, Pr dan Timnya di keuskupan Semarang untuk menerbitkan sebuah buku pembelajaran yang singkat, padat dan menjawab kebutuhan riil umat Katolik yang bertanya.

2) Meskipun demikian, izinkanlah saya untuk memberikan beberapa masukan, yang kiranya perlu untuk memperjelas beberapa hal yang disebutkan berulang-ulang dalam buku kecil yang luar biasa itu, antara lain:

a> Penggunaan istilah “KRISTEN dan KATOLIK”

Misalnya dalam nomor 2-4

Nomor 2: Saya sudah menikah secara KATOLIK, namun saya baptisan dari Gereja Kristen…..atau dalam
Nomor 3: Istri saya Kristen dan saya Katolik…..dst…

Romo tidak menjelaskan persamaan dan perbedaan di antara kedua istilah itu ketika umat bertanya, tapi langsung menjawab pertanyaan umat, sehingga terkesan bahwa ada perbedaan besar atau bahkan lebih mengerikan lagi bahwa umat Katolik berpikir “KATOLIK ITU BUKAN KRISTEN.” Padahal seorang Katolik adalah Kristen sejati, sedangkan BELUM TENTU semua aliran Protestan yang menyebut dirinya KRISTEN adalah KRISTEN dalam arti yang sebenarnya. Penjelasan bagus tentang topik ini bisa dibaca dalam tulisan saudara Robby Sitohan di group facebook GEREJA KATOLIK tentang “KELIRUMOLOGI “KRISTEN DAN KATOLIK.” Saya mengutip sebagian isinya untuk menjelaskan pengertian yang benar tentang dua istilah di atas:

Robby Sitohang menulis:

Banyak umat Katolik di Indonesia terjebak pada istilah yang salah kaprah yaitu “Kristen dan Katolik” di mana umat Katolik berpikir bahwa Katolik bukanlah Kristen. Ada pula yang ditanya, “Anda seorang Kristen?”; tetapi umat Katolik tersebut malah menjawab “Bukan, saya seorang Katolik”. Salah kaprah di Indonesia termasuk dalam pembuatan KTP menyebabkan istilah yang tidak tepat “Kristen dan Katolik” mendarah-daging di mana pemahamannya nama “Kristen” itu merujuk kepada Protestan sementara “Katolik” kepada Katolik.

Sayangnya, karena kesalahkaprahan yang sudah mendalam ini, sulit sekali untuk mengoreksinya secara luas. Meskipun begitu, umat Katolik hendaknya berprinsip membiasakan yang benar daripada membenarkan kebiasaan.

Permasalahan ini ternyata sudah pernah dijelaskan oleh seorang Bapa Gereja, St. Pacianus (310-391 M), Uskup Barcelona dari tahun 365-391 M. St. Pacianus menulis sebuah surat-surat (epistula) kepada Sympronianus yang berisi Seruan Pertobatan dan Penjelasan Mengenai Pembaptisan. Pada surat pertamanya, St. Pacianus berbicara mengenai nama “Katolik”.

St. Pacianus berkata:
“Kristen adalah nama saya, tetapi Katolik adalah nama belakang saya (my surname). Yang pertama memberikan saya sebuah nama, yang terakhir membedakan saya. Oleh yang satu saya diterima, oleh yang lainnya saya ditandai.”

St. Pacianus melanjutkan:
“Dan bila pada akhirnya kita harus memberikan pertanggungjawaban atas kata “Katolik” dan mengambilnya dari bahasa Yunani oleh interpretasi Latin; [makna] “Katolik” adalah “di seluruh” atau sebagaimana orang terpelajar pikir “ketaatan dalam semuanya” yaitu dalam semua perintah Allah. Yang dari Rasul [Paulus], “apakah kamu taat dalam segala sesuatu” (2 Kor 9:12) dan lagi “sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.” (Rom 5:19). Oleh karena itu, barangsiapa adalah Katolik, orang yang sama adalah taat. Barangsiapa adalah taat, orang yang sama adalah seorang Kristen dan dengan demikian Katolik adalah Kristen. Oleh karena itu, umat kita (our people), ketika dinamai Katolik, dipisahkan oleh sebutan ini dari nama yang sesat (heretical name).”

2) Nomor 5 dari buku “SMS UMAT”.

Pertanyaan umat: “Mengapa waktu kita dibaptis hanya diperciki air suci, koq tidak dibaptis seperti Yesus?”

Jawabab Romo: Tradisi pembaptisan Gereja Katolik tidak mengikuti tradisi zaman Yesus yang ditenggelamkan dalam sungai, tapi mengikuti tradisi Gereja (para Bapa Gereja) sejak abad-abad awal, yaitu dengan dicurahi air di dahi tiga (3x) sambil sambil mengucapkan forma: “Aku membaptis engkau, demi Nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amen.

Menurut hemat saya, penjelasan ini terlalu minim sehingga tidak memberikan pelajaran atau pengetahuan yang benar tentang baptis Katolik. Ada beberapa hal yang kiranya harus ditambahkan, yakni:

a> Dalam tradisi baptisan Gereja Katolik, TIDAK ADA istilah “BAPTIS PERCIK.” Baptisan Katolik terbagi atas atau dapat dilakukan dengan dua cara sesuai dengan aturan Gereja, yakni entahkah calon baptis “DIMASUKKAN KE DALAM AIR ATAUKAH DITUANGI AIR (Kanon 854). Oleh karena itu, dalam Gereja Katolik, terutama baptisan bisa dilakukan dengan salah satunya sesuai dengan keputusan KWI setiap Negara. Kita di Indonesia, lebih terkenal dengan baptisan dituangi air di kepala 3 x seperti penjelasan Romo di atas. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan bagi para imam untuk menggunakan cara kedua, yakni memasukan calon baptisan ke dalam air.

b) Gereja Katolik memiliki 3 fondasi kuat dalam hal iman dan moral, yakni “KITAB SUCI, TRADISI dan MAGISTERIUM. Tidak semua hal (tradisi) tertulis dalam Kitab Suci atau dibuat oleh Yesus, yang tercatat oleh para penulis Injil. Dalam konteks ini maka hal-hal lain mengenai iman yang kemudian menjadi Tradisi Gereja ditentukan juga oleh kuasa Magisterium Gereja (Paus dan Para Uskup lewat Konsili dalam bentuk Dogma) yang juga berperan penting seperti Kitab Suci dalam menumbuh kembangkan iman umat. Oleh karena itu, tradisi pembaptisan TIDAK HARUS mengikuti apa yang dialami oleh Yesus, tapi adalah kewenangan Magisterium untuk menentukan aturan dan tata caranya di dalam Gereja, yang lebih lanjut diberi kewenangan kepada para uskup untuk menentukan cara mana yang lebih cocok digunakan dalam konteks Negara dan budaya tertentu.

Penutup

Mohon maaf bila saya memberikan tambahan bahkan koreksi terhadap isi buku SMS UMAT. Semuanya kulakukan dengan niat baik demi pembelajaran kepada umat Katolik untuk mengenal dan mencintai iman Katoliknya.

Semoga bermanfaat…..

Salam hormat,

Romo Inno Ngutra

 

47981_649826908376620_57302994_n (1)

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s