Tentang peranan para wali baptis dalam Gereja Katolik. Tetap kita berpatokan pada kebenaran ini bahwa “Dalam merumuskan aturan-aturannya, Gereja sangat hati2 dan penuh bijak mengurangi resiko dari salah penafsiran dari berbagai pihak. Begitu pun dengan peranan para wali baptis bagi mereka yang dibaptis dalam Gereja Katolik. Sangat disayangkan bahwa “BANYAK WALI BAPTIS HANYA HADIR DALAM ACARA PEMBAPTISAN DAN SETELAH ITU TAK PERNAH LAGI MENEMANI ANAK BAPTISNYA, KHUSUSNYA DALAM PERKEMBANGAN IMANNYA. Demikian pun seketat apapun aturan yang dirumuskan oleh Gereja namun dalam prakteknya di setiap keuskupan/paroki dan stasi, banyak aturan dilonggarkan. Misalnya; para wali baptis tidak pernah dipersiapkan layaknya persiapan pasangan nikah. Ada pengandaian bahwa orang-orang Katolik sudah mengetahui apa yang hendak mereka perbuat ketika menjadi wali baptis. Orang tua si bayi memilih saja mereka yang dekat dengan keluarga mereka untuk menjadi wali baptis, bahkan ada kecenderungan bahwa wali dibaptis dipilih dari kalangan orang Katolik yang memiliki kedudukan politik baik di masyarakat maupun yang berpangkat di perusahaan atau kantor pemerintahan. INILAH BAHAYA YANG HARUS DIWASPADAI karena efeknya nanti seperti yang dikesankan di atas. Karena itu, untuk menghindari apa yang telah dikesankan oleh teman kita di atas, maka alangkah baiknya saya posting kembali tata aturan yang hendak diketahui oleh para wali baptis menurut tata hukunm gereja Katolik agar kiranya menjadi bahan yang perlu dibaca untuk diingatkan atau diterangkan kepada mereka yang terpilih menjadi wali baptis.

 

Bahan berikut ini adalah bahan yang saya ambil dari terjemahan kelompok YESAYA sambil membuat beberapa penambahan yang perlu dari apa yang diharapkan oleh Gereja dari Kitab Hukum Kanonik dan penjelasannya. ……..WALI BAPTIS

 

1. Sejarah Penyertaan Wali Baptis dalam Pembabtisan

 

Peran Wali Baptis dalam Pembaptisan berawal dari peran penjamin dalam katekumenat, yang berasal dari masa Gereja perdana. Patut diingat bahwa hingga tahun 313, Gereja berada dalam penganiayaan Kekaisaran Romawi dan harus berhati-hati dalam menangani segala hal demi mencegah menyusupnya kaum kafir dan penganiaya. Juga, hingga Abad Pertengahan, Sakramen-Sakramen Inisiasi – Baptis, Penguatan dan Ekaristi – diterimakan sekaligus. Jadi, peran penjamin adalah untuk menjamin ketulusan calon, pada umumnya orang dewasa, yang mohon diperkenankan masuk ke dalam Gereja, sekaligus untuk membantu calon sepanjang katekumenat yang diadakan demi mempersiapkan diri untuk menerima sakramen-sakramen ini, dan membantu calon untuk mengamalkan hidup kristiani.

 

Dalam Baptis Bayi, para penjamin ini juga menyatakan Pengakuan Iman atas nama anak, dan menerima tanggung jawab untuk membimbing anak dalam iman, teristimewa apabila orangtuanya tak dapat memenuhi kewajiban ini. Sekitar tahun 800, ketika baptis bayi menjadi norma, penjamin yang demikian disebut “patrinus” atau “bapa baptis”. Seturut tradisi, kita menyebut Penjamin seorang kanak-kanak dalam Pembaptisan sebagai “Wali Baptis” – “Bapa Baptis / God Father” atau “Ibu Baptis” / God Mother”; namun demikian, istilah teknisnya tetap “Penjamin”.

 

2. Wali Baptis menurut Kitab Hukum Kanonik

 

Menurut Kitab Hukum Kanonik, “Calon Baptis sedapat mungkin diberi Wali Baptis, yang berwajib mendampingi Calon Baptis Dewasa dalam inisiasi kristiani, dan mengajukan bersama Orangtua Calon Baptis Bayi untuk dibaptis, dan juga wajib berusaha agar yang dibaptis hidup secara kristiani yang sesuai dengan baptisnya serta memenuhi dengan setia kewajiban-kewajiban yang melekat pada baptis itu” (No. 872). Pernyataan ini dengan jelas menunjukkan asal historis dari peran Penjamin. Untuk menjadi seorang Penjamin, seorang harus ditunjuk oleh Calon Baptis atau orangtuanya atau oleh orang yang mewakili mereka, atau bila mereka itu tidak ada, oleh pastor paroki atau pelayan baptis. Penjamin tidak hanya cukup memiliki niat untuk menjadi seorang Penjamin, melainkan harus juga memiliki kecakapan untuk melaksanakan tugas itu. Penjamin harus telah berumur genap enambelas tahun, kecuali jika umur lain ditentukan oleh Uskup diosesan, atau pastor paroki ataupun pelayan baptis menilai bahwa kekecualian atas alasan wajar dapat diterima. Penjamin harus seorang Katolik yang telah menerima Sakramen Penguatan dan Sakramen Ekaristi Mahakudus “lagipula hidup sesuai dengan iman dan tugas yang diterimanya.” Di samping itu, Penjamin tidak dijatuhi atau dinyatakan ternoda oleh suatu hukuman kanonik. Idealnya, penjamin dalam Pembaptisan juga menjadi penjamin dalam Penguatan. Penting dicatat bahwa ayah atau ibu dari calon yang dibaptis tidak dapat menjadi penjamin. Perlu dicatat juga bahwa persyaratan yang sama berlaku pula bagi Penjamin dalam Penguatan. (Bdk Kitab Hukum Kanonik, No. 874) Secara tegas, seorang yang dibaptis hanya satu Penjamin dalam Pembaptisan – laki-laki atau perempuan, tetapi boleh juga dua penjamin, biasanya satu laki-laki dan satu perempuan. Di sini Kitab Hukum Kanonik hendak menghapuskan praktek memiliki banyak penjamin, seperti yang terjadi di beberapatempat (No. 873). Juga, dalam keadaan darurat, misalnya bahaya kematian, Penjamin dapat ditiadakan.

 

Dengan demikian, ada beberapa tanggung jawab wali baptis yang hendak diperhatikan oleh semua pihak (Pastor Paroki, orang tua dan orang tua baptis), dan ini hendaknya diajarkan/diingatkan kepada para wali baptis dalam masa persiapan, yakni:

 

 >  1. Menunjukkan kepada calon yang dibaptis dan orang tua dari bayi yang dibaptis bagaimana

          mempraktekan pesan Injil dalam hidup harian. Mereka sekaligus menjadi pembimbing dan

          penuntun yang dibaptis dalam perkembangan imannya.

>   2. Menemani yang akan dibaptis dan orang tuanya sekurang-kuranya selama masa persiapan

          pembaptisan.

>   3. Mengurus segala kelengkapan administrasi di gereja di mana orang (dewasa) atau bayi

          yang akan dibaptis, sekaligus menjadi saksi baginya, terutama dalam praktek penghayatan

          nilai-nilai moral dan iman.

>    4. Menghadirkan nilai-nilai spiritual yang mendalam kepada yang dibaptis dan menunjukkan

           kepadanya apa yang diharapkan oleh Gereja.

 

 

3. Kesimpulan:

 

Dengan demikian, seorang Katolik yang tidak mengamalkan iman dengan secara teratur ikut ambil bagian dalam Misa, atau yang berada dalam perkawinan yang tidak sah secara Katolik, membuat dirinya sndiri tidak layak menjadi seorang Wali Baptis. Juga, apabila seorang beragama Katolik tetapi menentang imannya, misalnya memiliki sikap “Aku seorang Katolik, tetapi …,” dan dengan demikian bukanlah seorang teladan dan saksi iman yang baik, juga membuat dirinya tidak layak. Apabila seorang tidak berjuang untuk menunaikan kewajibannya sendiri dalam Pembaptisan dan Penguatan, maka tidaklah mungkin ia akan menunaikan tanggung jawab untuk membantu orang lain melakukannya.

 

Sekali lagi, aturan gereja sangat jelas dalam hal menjadi wali baptis, tapi kadang kurangnya katekese dan persiapan oleh para petugas gerejani, baik awam (seksi terkait maupun pastor paroki) kadang tidak melihat peranan wali baptis sebagai sesuatu yang serius. Jika kita jujur maka pasti tidak sembarangan orang Katolik dijadikan sebagai wali baptis dengan melihat tugas dan tanggung jawab yang diberikan dalam Kitab Hukum Kanonik. Oleh karena itu, hendaknya bagi orang-orang muda, entahkah yang baru merencanakan untuk menikah maupun yang sudah menikah (berkeluarga) dan hendak membaptis anak-anakmu, kiranya materi ini menjadi sesuatu yang harus dibaca, direnungkan dan dilaksanakan demi iman anak-anakmu, terutama dalam bentuk antisipasi untuk menghindari apa yang telah dikesankan oleh teman kita dalam pesan kesannya.SEMOGA BERMANFAAT BAGI TEMAN-TEMAN MUDA SEKALIAN.

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s