Utuh punya seorang teman penjudi. Setiap kali Utuh memperingatkan dia supaya berhenti berjudi dan berbalik kepada Tuhan. Sayangnya, setiap kali, temannya itu membalas, Ohhhh…tidak apa-apa. Pada akhirnya, saya akan selalu menang”. Tetapi bagaimana kalau Anda tiba-tiba mati dan tidak ada waktu untuk mencari pastor untuk mengaku atau menerima minyak suci? Tanya Utuh. Orang itu menjawab, “Saya akan tanggung resiko. Keberuntungan akan selalu berada di pihak saya. Andaikata saya akan mengalami nasib seperti yang dikatakan itu, saya akan mengandalkan pada tiga kata yang akan saya ucapkan waktu itu. Paling tidak saya mempunyai waktu untuk mengatakan, “Tuhan ampunilah saya” dan saya akan diampuni.

Pada suatu hari, Utuh dan temannya berkuda menuju suatu tempat untuk suatu kunjungan. Mereka harus melewati sebuah jembatan yang kelihatan cukup sempit dengan beberapa kayu palang yang menghalangi. Utuh bisa melewati jembatan itu dengan selamat. Namun, temannya berlari terlalu cepat sehingga kurang memperhatikan kayu palang yang ada di depannya itu. Maka ia pun menabrak kayu palang itu dan terjatuh. Sebelum terjatuh ia sempat berteriak, “Setan, kurang ajar”. Beberapa menit kemudian ia pun mati. Dia memang sempat menyebutkan tiga kata, tetapi bukannya “Tuhan, ampunilah saya, “ melainkan: Setan kurang ajar. Dengan itu dia tidak sempat mengaku dosanya sampai saat terakhir.

Dulu, para pastor cukup sering berkhotbah tentang pengadilan terakhir atau siksaan neraka. Sayangnya, dewasa ini orang jarang mendengar kotbah yang demikian. Apakah hal ini berarti bahwa tidak ada lagi neraka? Ataukah orang tidak perlu membesar-besarkan soal neraka? Dalam Injil hari ini, Yesus memperingatkan mereka secara keras supaya berwaspada dengan memberitahukan dua peristiwa kematian yang tiba-tiba yang baru mereka alami. Pertama, tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. Kedua, tentang kematian 18 orang yang ditimpah menara di dekat Kolam Siloam, Yesus mengatakan kepada mereka, “Kalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian”.

Para pendengar Yesus menyangka bahwa orang-orang yang mati dalam dua peristiwa itu dihukum oleh Allah karena dosa mereka. Yesus menolak pandangan seperti itu. Korban-korban di dalam tragedi berdarah itu tidak lebih buruk dari siapa pun. Bahkan, mungkin ada orang lain yang lebih buruk dari mereka. Kematiaan mereka yang tiba-tiba merupakan suatu peringatan supaya orang harus berhati-hati. Dua peristiwa itu mengingatkan kita bahwa hidup itu rapuh dan kematian itu adalah sesuatu yang pasti. Orang-orang yang meninggal dalam dua peristiwa itu tidak mempunyai waktu untuk menyiapkan kematiaannya. Karena itu, Yesus sebetulnya mau memperingatkan mereka supaya persiapkanlah kematiaanmu pada saat ini juga karena besok mungkin sudah terlambat.

Guna memperjelas pesanya itu, Yesus menceritakan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah. Dia mengamcam untuk memotong pohon ara itu karena tidak berbuah. Namun, setelah dibujuk oleh pengurus kebun anggur itu, ia menunda pemotongan pohon ara itu. Pohon ara itu adalah gambaran mengenai manusia. Orang harus menghasilkan buah, yakni dalam bentuk perbuatan-perbuatan baik. Sebab kalau tidak, Allah akan menghukum kita dengan memotongnya. Namun, dipihak lain, Allah juga sabar. Ia masih memberikan waktu supaya kita berbuah. Karena itu, pesan yang harus dibawa pulang kita ialah bahwa mereka harus menghasilkan buah.

Teman dari Utuh dalam cerita tadi mengira bahwa dia masih punya waktu untuk bertobat sebelum ia mati. Ternyata tidak. Orang-orang Galilea yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan juga tidak bisa menyiapkan kematian dengan baik. Demikianpun dengan para korban yang tertimpa menara di Siloam. Kematian ternyata lebih awal dari mereka pikirkan. Adalah dari antara mereka yang sungguh-sungguh siap? Mungkin tidak. Karena itu, hendaknya kita waspada dan berjaga-jaga karena kita tidak tahu kapan waktu dan tempatnya kita kembali kepada Allah.

Dalam masa prapaskah inilah sebenarnya Tuhan memberi kita kesempatan untuk bertobat dan berpegang pada-Nya. Sehingga kita dapat melaksanakan perintah-Nya dengan melakukan perbuatan nyata. Seperti pengurus kebun anggur yang akan mencangkul disekeliling pohon ara dan memberinya pupuk. Kita juga diberi kesempatan untuk mencangkul dan memberi pupuk dengan cara mengentaskan kemiskinan disekeliling kita. Bukan dengan cara memberi tetapi dengan cara memberdayakan dan membuka peluang untuk bertumbuh dan berkembang. Dan saat itu pula kita telah menjadi pengurus kebun anggur dan tidak lagi perduli pada cara kita mati. Tragedi boleh datang, bencana boleh berulang. Inilah sebenarnya jalan hidup. Kecelakaan atau peristiwa apapun itu adalah jalan menuju surga. Surga atau neraka tidak ditentukan oleh bagaimana cara kita mati. Tetapi lebih pada bagaimana kita hidup sebelum mati.non_alkohol

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s