Pergi! Pergi! Saya tidak membutuhkan Yesus! Begitulah nada kasar dari seorang pemuda ketika saya bersama tiga orang misdinar pergi memberi komuni ke rumahnya Sabtu kemarin. Wajahnya yang rada “ganas” dibarengi dengan cucuran keringat serta gerakan tangan mengusir menunjukkan bahwa ia sangat serius dengan kata-kata kasarnya. Saya sangat sok mendengar perkataan itu. Misdinar yang masih muda belia itu apalagi sangat ketakutan. Mereka sendiri sudah pergi agak jauh meninggalkan saya di rumah itu.

Ibu dari pemuda yang mengusir kami itu hanya bisa menangis. Ia pun tidak percaya melihat anaknya mengusir kami dengan kasar. Dalam kondisi yang tegang, diam dan sedikit menyakitkan itu saya berbisik dalam hati, “Yesus dia bukan mengusirmu tetapi mengusir saya dan misdinar” Ini saya dengungkan untuk menjaga hati dan perasaan Yesus.

Siapakah pemuda itu dan mengapa ia sampai tega mengusir kami. Kenapa sampai hati mengatakan, “Pergi saya tidak membutuhkan Yesus.” Setiap Sabtu pertama setiap bulan saya selalu memberi komuni orang sakit dan salah satunya ialah saudara ini. Jadi ini bukanlah pertama sekali ia menerima komuni namun kenapa Sabtu kemarin ia menolak kehadiran kami dan menolak Tubuh Kristus.

Rupanya ia bosan dengan situasi dan kondisinya yang tidak pulih secara sempurna. Beberapa tahun silam ia mengalami kecelakaan fatal yang mengakibatkan ia geger otak dan lumpuh total. Tidak lama setelah itu ia ditinggalkan pacarnya. Ia sangat putus asa. Sebenarnya kalau dilihat perjalanan hidupnya sejak kecelakaan itu sampai sekarang nampak ada perbuhan dan kondisi fisiknya. Ia mulai bisa menggerakkan badan walalu sangat susah dan pelan. Barangkali ia bosan dengan kondisi ini dan mulai marah kepada Allah. Ia ingin berjalan dan beraktifitas normal tetapi mimpi dan harapannya itu belum kenyataan.

Saya sejenak berdoa di rumah itu. Tiba-tiba ia menangis dan mengatakan, “Terlalu lama saya menderita pastor. Nampaknya Allah tidak sayang kepadaku. Saya berdoa sekian tahun namun sepertinya Dia tidak mendengarkan seruanku. Ibunya yang duduk di sampingnya ikut menangis. Saya peluk dia dan saya katakan, “Allah mengasihimu. Yesus juga mengasihimu makanya Ia dalam hosti kudus mengunjungimu. Kami mengasihimu. Ibumu sangat menyayangimu. Dia diam dan memandangiku dengan lembut. Saya menangkap “signal” bahwa ia bersedia menerima komuni. Akhirnya upacara komuni orang sakit berjalan dengan hikmat.

Para sahabatku terkasih, ketika anda merasakan derita yang mendalam di sana kamu sering bertanya mengapa? Saat masalah hidup menerpa dirimu saat itu juga kamu berpikir Allah tidak mengasihimu. Saat hari harimu tetap sama kamu mungkin marah kepada-Nya. Ini semua didorong oleh rasa sakit fisik dan psikis sehingga kamu berpikir Allah tidak peduli.

Allah tetap peduli. Ia tetap campur tangan dalam hidupmu. Ketika kamu dalam kondisi normal ia berjalan bersamamu dan membimbingmu supaya jangan terantuk pada batu kehidupan. Ketika kamu menderita dan memikul beban hidup yang berat ia mendukungmu. Ketika kamu bersedih Ia menghiburmu. Dan ketika kamu letih lesu Ia menggendongmu. Ia mengatakan, “Datanglah kepada-Ku kalian yang memikul beban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Matius 11:28).

Tiga butir mutiara yang bisa menjadi landasan kita dalam mengarungi hidup ini dalam suka dan duka pertama, Yakinilah bahwa Allah tetap peduli. . Seperti senandung sebuah lagu rohani, “Banyak perkara yang tidak ku mengerti tetapi satu keyakinanku bahwa Allah peduli”. Maka dalam kondisi seperti ini kepasrahan penuh iman sangat penting. Perkataan Bunda Maria, “Terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” Bisa menjadi seruan kita. Keyakinan penuh iman bahwa semua terjadi atas kehendak-Nya.

Kedua, Doa. Doa adalah jalan ketika segala sesuatu buntu. Doa adalah jalan ketika anda putus asa dan kehilangan harapan. Doa memang kadang tidak memberimu jawaban saat itu tetapi doa mengajakmu untuk bersabar. Hendaknya kamu dikutakan oleh Roma 12 : 12 “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”

Ketiga, kamu boleh menangis dan sedih tetapi janganlah tinggal dalam kesedihan dan tangisan. Menyesali kondisi tidak ada gunanya. Bangkitlah dan bersyukurlah karena pasti saja ada cara Allah campur tangan dalam bebanmu lewat orang. Dalam Galatia 6:2 dikatakan, “Hendaklah kalian saling membantu menanggung beban orang, supaya dengan demikian kalian mentaati perintah Kristus. Ma berserulah senantiasa, “Banyak perkara tak ku mengerti tetapi aku yakin Allah peduli.”

mqdefault

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s