Suatu Minggu sore saya jogging di lapangan sepakbola mini yang lokasinya persis di depan “istanaku” paroki Santo Mikael. Sehabis beberapa kali mengitari lapangan itu, rasa lelah menghinggapi diriku dan keringat mengucur di seluruh tubuhku. Saat menjelang pukul 06:30 (malam). Ku baringkan diriku di tengah lapangan itu dan kupandang langit yang sudah mulai dihiasi binting gemintang. Suara jengkrik mulai bersahut-sahutan di sela-sela rerumputan. Dingin mulai menusuk seluruh tubuh namun rasa rileks sungguh terasa saat itu.

Puas memandangi langit dan bintang, aku duduk dan tepat menghadap rumahku. Anganku awalnya menerawang bagian luar, atap, pintu, dinding dst. Spontan aku bergumam, “rumahku adalah istanaku”. Engkau berjasa bagiku. Selama ini saya tidak ada sedikitpun berpikir apalagi sampai bergumam bahwa jasamu begitu besar terhadapku. Aku lepas dari rasa dingin, aku luput dari hujan lebat dan aku terhindar dari sengataan matahari karena engkau.

Anganku membawaku ke dalam rumahku, memang aku sendiri yang berdiam di sana. Namun aku bisa rekam bagaimana aku beraktifitas di dalamnya. Bagaimana aku memasak, mencuci, membaca, menyapa para sahabat lewat renungan fb, bahkan beristirahat. Aku berada dalam kalbu yang tenang yang membuatku senang. Petulangan dalam kesendirian itu memberi sesuatu yang baru yang selama ini gak pernah terpikir olehku. Benar sekali lagi rumaku adalah istanaku. Saya mengatakan bahwa kesendirianku dalam lapangan sepakbola mini ini menjadi sebuah renungan dan refleksi bahwa aku adalah orang yang pantas bersyukur atas peran rumahku. Itu menjadi doaku yang terlontar bermuatan syukur atas anugerah Allah yang menempatkan diriku berdiam di sana. Rumah itu tidak mewah, tidak superlux, namun saya bisa berdiam dengan penuh damai dan teduh karena di sana aku bisa mengeja hidup yang bermakna.

Para sahabatku, pernahkah anda juga melihat rumahmu dari luar? Melihat dari luar di sini bukan dalam arti harafiah tetapi lebih pada arti “rohani” merenungkan, merefleksikan, dan mengingat rumahmu. Mungkin rumahmu bukanlah yang terbesar, bukan juga yang terindah dan tentu bukan juga yang termewah, tetapi itu adalah rumahmu dan istanamu. Maka bersyukurlah, walau sederhana namun itu milikmu karena masih banyak mereka yang tinggal di apartemen bahkan tidak punya rumah sama sekali (para gelandangan). Ingatlah rumahmu adalah pelabuhan hidupmu dan keluargamu. Ketika kamu capek entah dari mana, kamu akan kembali ke rumah seraya berharap rasa capek itu hilang dan berganti dengan kekuatan baru.

Pernahkah juga anganmu mengembara ke se-isi rumahmu. Mereka yang adalah keluargamu sendiri. Bagaimana kamu makan bersama, menonton bersama, dan bercengkrama satu sama lain. Pernah kamu merenung lebih jauh dan lebih dalam bahwa mereka adalah bagian dari dirimu dan bahkan mereka adalah hidupmu sendiri. Dan tidak apa bila kamu pernah bertengkar di sana karena itu adalah bagian dari hidup. Yang terpenting bagaimana semua rasa sakit hati, kecewa, sedih dan bahkan tangisan muncul di rumah itu, hadir di sana dan juga lenyap di sana.

Kalau berlum pernah, sekali lagi cobalah lihat rumahmu dari luar. Renungkan, refleksikan dan ingatlah dan kamu pasti akan mendapat sesuatu yang baru yang selama ini tidak pernah terpikir olehmu. Saat kamu di dalam, saat kamu terlalu dekat, kadang kamu sulit melihat realita itu namun saat kamu jauh dan mengambil jarak kamu akan melihat sesuatu yang baru. Itulah yang aku sebut mengambil jarak atau berdistansi. Itulah yang aku namai merenung dan mengambil waktu dalam kesendirian dan biarkan anganmu membawamu tertuju ke rumahmu, istanmu dan keluargamu.

Para sahabatku, rumahmu adalah istanamu. Tanamkanlah itu dalam benakmu sehingga kamu sungguh menghargainya dan lebih jauh mensyukurinya. Keluargamu adalah hidupmu dan banggalah dengan itu entah bagaimanapun suasana dan keadaan mereka. Ingatlah kamu bisa bahagia bukan karna besarnya rumahmu. Apa artinya rumah yang besar itu kalau kamu dan keluargamu yang berdiam di sana tidak ada kesatuan hati. Kebahagiaan itu tidak tercipta oleh materi yang banyak dan harta yang berlimpah tetapi bagaimana kamu dan keluargamu saling mendukung dalam suka dan duka, saling mengerti dan menerima kelemahan dan kekurangan masing-masing serta adanya rasanya saling memiki satu sama lain.

Keluargamu kaya bukan karena banyak harta dan materi tetapi terutama bagaimana rasa damai, berdiam dalam rumah dan keluargamu. Rumahmu terasa teduh bukan karena atapnya berlapis seng atau baja namun adanya pertautan hati antara seisi rumah. Keluargmu kokoh bukan juga karena dilindungi oleh dinding beton namun karena kamu bekerja sama dan kasihmu berpelukan satu sama lain. Itulah atap, dinding dan fondasi yang paling kokoh. RUMAHMU ADALAH ISTANAMU DAN KELUARGAMU ADALAH HIDUPMU

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s