“Siapakah yang bertanggungjawab melihat kenyataan akhir-akhir ini di mana banyak kaum muda tidak antusias ke Gereja atau bahkan cukup banyak meninggalkan Gereja? Ada yang mengatakan Pimpinan Gerejalah yang bertanggungjawab. Yang lain memberi pendapat orang tua yang tidak memberi pendidikan di rumah. Tentu ada juga yang menjawab, “Yang bersangkutan yang tidak punya pendirian yang jelas. Tulisan sederhana ini hanya memberi sekeping realita yang berisikan bahwa keluarga, dalam hal ini kedua orang tua mempunyai tanggung jawab besar untuk menyelamatkan pendidikan anaknya dan juga Gereja.

Siapakah yang lebih aktif berbicara tentang iman katolik di rumahmu? Atau lebih tegas siapa yang lebih agresif dan berperan meminta dan menyuruh se-isi rumahmu pergi ke Gereja? Suami? Atau Isteri? Atau bahkan anak-anakmu sendiri? Mungkin kamu sendiri yang lebih tahu berangkat dari situasi konkrit dalam keluargamu sendiri.

Saya hanya mau membagikan pengalaman kedekatan dengan anak-anak. Apa yang aku serap dari pembicaraan dengan anak-anak. Anak-anak biasanya berkata jujur dan tidak ada dusta dalam hatinya. Suatu kali misdinar paroki yang saya layani tidak datang ke Gereja. Saya dan tentu semua anggota misdinar lain heran karena ia adalah misdinar terbaik. Ia tidak pernah absen. Hari ini ia tidak datang ada apa gerangan apalagi kedua orang tuanya juga tidak datang.

Selesai Perayaan Ekaristi saya langsung telepon dia. Kebetulan dia sendiri yang angat telepon. Sebelum saya berkata apa-apa, ia langsung mengatakan, “Saya minta maaf pastor karena tidak ke Gereja hari ini. Ia mampu mendalami hati saya. Dengan lembut saya tanya kenapa? Dengan jujur ia mengatakan, “Tidak ada yang membanguni? Siapa selama ini yang membanguni? Saya tanya lebih lanjut. Sekali lagi ia dengan tulus menjawab, “Ibu”. Ia menambahkan bahwa ibunya pergi ke New York jadi tidak ada dong yang banguni. Bapaknya tidak bisa diharapkan. Ia bahkan masih tidur sampai sekarang, katanya melalui telepon.

Suatu kali saya pernah bertanya kepada beberapa anak yang baru saja menerima komuni pertama, “Apakah kamu mau menjadi misdinar? Semua mereka mengatakan, “Saya tanya dulu ibuku ya pastor? Ini sudah merupakan signal bagi saya siapa yang lebih peka, perhatian dan aktif memperhatikan perkembangan iman anak-anak dan hidup rohani keluarga.

Pada kesempatan lain saya bertanya kepada seorang anak mengapa tidak datang ke Gereja? Ia mengatakan, “Saya tidak bisa datang pastor karena harus memotong rumput di halaman? Siapa yang menyuruh, saya tanya lagi. Dengan tegas ia mengatakan bapak! Ia tidak bisa ke Gereja karena ayahnya menyuruhnya kerja pada hari Minggu tepat pada jam Gereja.

Siapa yang lebih aktif dan peka akan hidup menggereja di rumahmu? Saya tidak mengajak adu argument antara suami dan isteri namun bicaralah dengan baik dari hati ke hati. Saya juga terutama tidak membutuhkan jawaban ibulah yang lebih peka, atau bapaklah yang biasanya lebih perhatian. Yang paling utama ialah bagaimana kamu sebagai suami isteri menyadari tugas dan tanggungjwabmu mendidik anak-anak sesuai dengan iman kita. Bagaimana suami dan isteri saling mendukung dalam hal ini sehingga kalau salah satu berhalangan pendidikan iman terhadap anak-anak tetap terjamin. Ini adalah salah satu janjimu ketika kamu membawa mereka untuk dibapis beberapa tahun yang silam.

Ini bukan hanya relevan bagi keluarga muda yang anak-anaknya masih kecil tetapi juga keluarga yang anaknya sudah menanjak dewasa. Pendidikan iman tidak akan pernah selesai sebagaimana kita belajar hidup. Sekali lagi boleh anda bicarakan di rumah sebelum anakmu mengatakan kepada pastor parokimu, “Tidak ada yang membanguni.” Muatan pembicaraan anda bukan terutama siapa yang lebih berperan tetapi bagaimana kamu berdua bahu membahu menunjukkan tanggungwajab mendidik anak-anakmu.

Ini barangkali bisa sedikit menjawab mengapa akhir-akhir ini kaum muda kita tidak tertarik dan tidak antusias lagi pergi ke Gereja. Bantulah gereja untuk mengatasinya.

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s