Suatu hari tepat pada Sabtu siang, saya sejenak mengisi waktu rileks di bawah sebuah pohon persis di samping pastoran. Panas terik di siang hari, tidak terasa karena ranting-ranting pohon itu bersatu rasanya melindungi diriku. Mereka se-olah-olah tidak membiarkan sengatan matahari menembus dan hinggap di sekujur tubuhku. Maka saya pun rileks sambil mempersiapkan kotbah di bawahnya. Tidak ingin mengabaikan pengorbanan sebuah ranting yang telah berjasa, ku pandangi dengan seksama ranting-ranting itu. Semua ranting itu seolah-olah memandangku juga. Itu Nampak dari “bahasa tubuh” ranting berdaun itu yang tunduk dan melihat ke bawah.

Rangkaian demi rangkaian butir yang indah muncul dalam benakku mengamati aneka sikap dari ranting-ranting itu. Mereka membiarkan saja dirinya dihembus dan diombang ambingkan angin, dan seketika angin berhenti mereka kembali ke posisi semula. Yang aku renungan dari peristiwa ini ialah betapa teguh pendirian ranting ini kendati pun angin setiap kali mengombang ambingkan. Mereka tidak melawan angin itu tetapi mengikuti gelombang dan alurnya. Membiarkan angin itu capek sendiri dan akhirnya berhenti dan ranting itu kembali kokoh ke pendiriannya.

Sebuah ranting tidak akan berfungsi jika ia hanya sendirian. Ia mampu memberi sebuah makna yang terasa karena mempersatukan dirinya dengan yang lain. Bersatu dalam rapatan gerak bersama sehingga memberi keteduhan bagi siapa yang bernaung di bawahnya. Dan paling utama ranting itu tidak bisa hidup bila terpisah dari pokoknya. Ia tetap memasrahkan diri kepada sang SUMBER HIDUP.

Para sahabatku terkasih. Belajarlah dari sebuah ranting. Jadilah sebuah ranting yang berguna bagi orang lain. Ini sapaan yang aku arahkan untuk kita sebagai ranting yang hidup. Kamu tercipta bukanlah sendirian. Kamu hidup juga bukanlah seorang diri. Kamu beraktifitas bersama dengan orang lain yang sederajat dan semartabat denganmu. Hawa (wanita) diciptakan dari tulang rusuk Adam (pria) menggambarkan mereka adalah sederajat dan semartabat. Kamu tidak bisa terpisah dari orang lain tetapi sebaliknya saling membutuhkan untuk menjalankan dan melindungi hidup itu sendiri. Ranting tidak akan bisa hidup bila terlepas dari pokoknya sebagaimana kamu juga tidak bisa lepas dari keluargamu, orang lain dan tentu tidak bisa terlepas Yesus pokok anggur sejati (Yohanes 15:1-17)

Sebuah ranting akan membanggakan dirinya ketika ia mampu memelihara kebersamaan dan kesatuannya dengan ranting yang lain karena saat itulah ia memberi perlindungan bagi siapa yang berteduh. Sama halnya rasa bangga kita terbesar ialah ketika kita mampu bekerjasama satu sama lain dalam menjalani hidup dan mewujudkan fungsi kita sebagai manusia yang saling membutuhkan dan dan saling mendukung.

Saya simpulkan secara sederhana para sahabatku “Belajarlah dari sebuah ranting” sebagai oleh-oleh untuk kamu bawa ke mana pun kamu melangkah.

– Belajarlah dari sebuah ranting karena ia tidak akan bisa terpisah dari yang lain sebagaimana kamu juga demikian halnya.

– Belajar dari sebuah ranting yang umumnya selalu melihat ke bawah, rasa tunduk yang menaruh hormat kepada hidup sebagaimana juga harus kamu tunjukkan dalam hidupmu hormat kepada orang lain

– Belajar dari sebuah ranting yang tidak pernah bermegah diri karena ia tergantung dari pokoknya sebagaimana kamu tidak bisa terpisah dari Alah.

– Belajarlah dari sebuah ranting ketika daunnya makin lebat ia makin menunduk pertanda rendah hati . Hal yang sama dituntut darimu ketika ilmu, kepandaian, bakat, pekerjaan, rejeki, cita-citamu terjamin, hendaklah kamu semakin rendah hati.

– Belajarlah dari sebuah ranting yang dari keterbatasannya mencoba memberi keteduhan. Jadikanlah dirimu dari keterbatasanmu juga memberi damai dan keteduhan bagi sesama.

– Dan belajarlah dari sebuah ranting yang tetap teguh walau angin kencang mengombang-ambingkan. Mereka bahkan mengikutinya dan kemudian teguh dalam pendirian. Dalam badai hidupmu tetaplah berpegang teguh akan apa yang kamu imani. Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mateus 10:16).

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s