Posted By Romo: Inno Ngutra

Menurut sharing profesorku yang adalah romo dari Keuskupan Roma, yang uskupnya dalah Paus Benediktus XVI. Kesannya; Paus Benediktus adalah seorang teolog besar di zaman ini, bahkan dialah yg menjadi tokoh penting di belakang pendahulunya Paus Yohanes Paulus II. Ia bagaikan perpustakaan hidup di mana Anda bertanya kepadanya dan langsung mendapatkan jawaban pada saat itu juga. Sebuah buku kecil dengan judul; “10 Things Pope Benedict Wants You Know” by John Allen Jr. akan kusharingkan bagi mereka yg belum membacanya.😀

Dan inilah tulisan Romo Inno Ngutra tentang 10 Hal itu untuk kita semua adalah:

1) God is Love
2) Jesus is Lord
3) Truth and Freedom Are Two Sides of the Same Coin
4) Faith and Reason Need One Another
5) The Eucharist Is the Heart of the Christian Life
6) Christian Is a Positive Message
7) The Church Forms Consciences but Stays Our of Politics
8) The Importance of Catholic Identity
9) Christ and the Church Are Inseperable
10) The Virtue of Patience

1. ALLAH ADALAH CINTA

Pesan utama kekristenan yakni Allah adalah Cinta. Hal penting dalam realitas ini dan yang akan bertahan adalah cinta. Dalam iman kita menyebutnya sebagai cinta personal Allah. Inilah persis apa yang ditulis dalam surat kepausannya yang pertama dengan nama; “Deus Caritas Est = God Is Love = Allah Adalah Cinta.”

Inti atau spirit dari surat kepausan ini adalah cinta eros (cfr. Posting fr. Coff), inilah refleksi indah tentang cinta kasih Allah kepada manusia. Cinta eros tak pernah berakhir pada dirinya sendiri. Cinta ini selalu menarik kita keluar diri untuk menggapai sesuatu yang lebih tinggi. Cinta eros akan menghantar kita pada cinta “Agape”. Agape adalah tingkat cinta di mana kita tidak berpusat lagi pada diri sendiri lagi melainkan pada pelayanan kepada sesama, khususnya mereka yang terluka dan miskin. Dan, menurut paus, tingkat terakhir dan tertinggi dari cinta adalah “logos” (kata = words). Ini bukan semata sebuah konsep dari cara berpikir manusia, melaikan “logos” harus ditempatkan dalam pengertian “Sabda = Word” yang mana dimengerti sebagai Yesus, Sang Sabda yang telah menjadi manusia.

Karena itu, Allah bukanlah sebuah konsep seperti dalam pemikiran banyak orang, melainkan seorang Pribadi, dan Dialah Sang Pencinta sejati itu sendiri.

Paus mengeluarkan surat enseklik ini sebagai jawaban dan kritikan terhadap dunia sekarang yang penuh kebencian dan balas dendam, yang bertindak dan membenarkan tindakan mereka atas nama Allah. Paus meyakini bahwa apa yang kita butuhkan dalam dunia sekarang bukan hanya kemampuan otak kita melainkan lebih dari itu adalah kebijakan hati untuk memaknai setiap peristiwa hidup. Menurutnya, perasaan hanyalah awal dari cinta, dan bukan akhir. Dasar dari cinta adalah pengakuan bahwa kita adalah putra-putri Allah dari Allah yang Maha cinta, dan yang terpanggil untuk mencintai orang lain yang hidup di sekitar kita.

Refleksi dariku;

Kalau kita terlahir dari Sang Pencinta Sejati karena dan demi cinta, maka kita pun harus mampu saling mencintai sebagai saudara. Itulah yang ditekankan bahkan dianjurkan oleh Yesus agar kita saling mencintai, karena hanya dengan kerelaan kita untuk saling mencintailah maka kita pun akan disebut murid-murid-Nya.

Semoga saja kita tidak memikirkan lagi tentang siapa dan atas kondisi apa cinta kita harus terberi, tapi rela untuk membiarkan cinta itu mengalir seperti air yang berisiko menjadi kotor di tempat kemana ia mengalir dan digunakan. Kotornya tempat atau barang yang dialiri air tidak mengubah hakekat air itu sebagai pemberi hidup dan pembersih. Demikian pun cinta tak pernah berubah hanya karena mereka yang kita cintai tidak menghargai cinta pemberian kita. Tetaplah mencintai bila hidup masih terberi kepadamu.

2. YESUS ADALAH TUHAN

Paus Benediktus XVI adalah seorang teolog dan penulis handal di zaman kita ini. Ia bukan saja memiliki otak yang encer tapi juga hati yang suci yang menjadi tempat kediaman Roh Kudus. Pada bulan Mei 2007 beliau menulis sebuah buku yang berjudul; “Jesus of Nazareth”. Beliau mau meyakinkan pembaca bahwa Kitab Suci adalah bukti otentik tentang siapakah Yesus. Katanya, “Yesus bukan saja tokoh historis melainkan Allah yang hidup, yang mewahyuhkan wajah Allah kepada manusia melalui kehadiran-Nya dalam sejarah umat manusia”.

Paus menekankan hal ini untuk mencegah kecenderungan manusia moderen yang hanya karena ingin membuat Yesus menjadi lebih relevan dengan situasi dunia sekarang sehingga membuat pendekatan yang salah tentang Yesus, dan seakan meninggalkan kebenaran Kitab Suci. Kata beliau, kalau kita benar-benar ingin mempromosikan keadilan dan sikap toleransi maka kita harus memulai dari dan dalam Kristus sebagai sumbernya.

Menurut Paus, bahkan beliau mengkritik pendapat tokoh-tokoh liberal modern yang mengajarkan bahwa Yesus sebagai pengajar moral yang bebas, Yesus adalah seorang pengubah revolusioner dan konsep-konsep lainnya yang keliru tentang pribadi Yesus. Paus menyadari bahwa interpretasi seperti ini selalu lahir dari motivasi yang dangkal untuk hanya sekedar menyenangkan orang lain (para pengikut mereka) tanpa membiarkan mereka mengetahui Yesus yang sebenarnya yang sesuai dengan kata Kitab Suci dan ajaran para bapa Gereja. Baginya, pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan adalah jawaban untuk semua keraguan manusia.

Karena itu, menurut beliau kepercayaan bahwa Yesus dari Nazareth adalah kepenuhan wahyu Allah hendaklah menjadi kebenaran dasar bagi setiap orang yang mengaku dirinya sebagai Kristen. Yesus lah tujuan akhir hidup manusia.

Refleksi tambahan dariku:

Sungguh sangat mengherankan bahwa ada orang atau kelompok orang yang menamakan dirinya Kristen tapi tidak mengakui ke-Allah-an Yesus. Seperti yang selalu saya tekankan bahwa semua nabi dalam agama lain mewartakan dan mengajarkan tentang jalan kepada keselamatan, tapi hanya Yesus. Sekali lagi, hanya Yesus lah yang mengatakan kebenaran ini dengan jelas dan pasti bahwa “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun yang bisa datang kepada Bapa tanpa melalui Aku.” Herannya, masih ada yang meragukan kebenaran iman ini, yang dipelihara dengan indah dan aman dalam Gereja yang didirikan oleh Yesus sendiri, yakni Gereja Katolik. Tidak perlu mencari penafsiran lain atas kata-kata Yesus kepada Petrus; “Di atas batu karang inilah Aku akan mendirikan Gereja-Ku.” Gereja yang dimaksud adalah Gereja Katolik. Kalau ada yang tidak percaya akan kebenaran ini harap dimaklumi karena memang gereja mereka tidak didirikan oleh Yesus di atas dasar Petrus.

Lebih dari itu, kalau Anda belajar sejarah Gereja dengan jujur maka Anda akan mengakui akan usaha yang besar dan terus menerus dari Gereja Katolik untuk mewartakan dan mempertahankan kebenaran iman Kristiani bahwa Yesus adalah Tuhan. Sama seperti Tuhan yang sama yang telah berkata dan memilih Petrus agar mewartakan Sang Guru sebagai Tuhan kepada orang lain, maka atas dasar yang sama pun Roh Kudus telah menggerakkan pengganti Petrus di zaman ini, yakni Paus Benediktus XVI untuk menegaskan kembali iman Petrus bahwa “Engkaulah Tuhan. Kepada siapa kami akan pergi? Sebab perkataan-Mu adalah perkataan hidup dan kami percaya akan itu.”

Semoga saja Anda tidak ragu lagi akan ke-Allah-an Yesus dan tetap percaya bahwa Roh-Nya tetap berkarya dalam dan melalui para pengganti Petrus karena memang sesungguhnya alam maut tidak akan menghancurkan Gereja-Nya.

3. KEBENARAN DAN KEBEBASAN ADALAH DUA SISI DARI COIN YANG SAMA

Mengenal buah-buah pikiran Paus Benediktus XVI kita kembali sejenak mengikuti jejak motonya sebagai uskup, yakni “Cooperatores veritatis” = “Coworker of the Truth” = Teman Kerja Kebenaran.” Selanjutnya ketika ia terpilih menjadi Paus ia menantang umat Katolik dengan buah pikirannya tentang “dictatorship of relativism” = Kediktatoran relativisme”.

Paus Benediktus menekankan apa yang terjadi dalam dunia dewasa ini dengan munculnya beragama aliran pemikiran, dotrin dan ajaran serta tokoh-tokoh yang mengajarkan kebebasan semu kepada generasi muda. Dan, salah satu isu yang sedang didengungkan oleh paham relativisme adalah tidak ada sesuatu yang definitive, sebaliknya pemenuhan keinginan pribadi adalah ukuran nilai yang paling penting. Paus melihat ajaran ini sungguh sangat bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Gereja bahwa memiliki iman yang jelas kadang harus menjadi fundamental.

Paus Benediktus menyadari bahwa relativisme telah menciptakan kesalahan presepsi dalam otak manusia untuk memaknai kebebasan sejati. Kebebasan menurut relativisme adalah hidup menurut ukuran sendiri dan tidak boleh terpaku pada aturan atau nilai-nilai universal. Untuk menghadang kesesatan seperti ini, Paus Benediktus percaya bahwa kebebasan sejati bukan terletak pada “saya bebas untuk berbuat segala sesuatu sesuai dengan keinginanku, melainkan berjuang untuk menjadi seperti apa yang Allah inginkan.” Dengan kata lain, kebebasan sejati bukan berarti “mengerjakan apa saja yang saya inginkan, melainkan melakukan apa yang seharusnya kita perbuat.”

Contohnya; “Seorang yang kecanduan alcohol membayangkan bahwa kebebasan sejatinya adalah kemampuan dan kebebasannya untuk meminum alcohol sesuka hatinya, melainkan kita tahu bahwa orang ini sungguh-sungguh tidak akan mengalami kebebasan sejati sampai ia melepaskan diri dari keterikatan mengkonsumsi alcohol. Inilah yang Paus Benediktus percaya bahwa kebebasan sejati bukan berarti kita bebas mengeksploitasi orang lain (miskin), membenci tetangga kita atau melakukan aborsi sesuka hati, melainkan kebebasan sejati terletak pada kebebasan untuk menyadari potensi tertinggi kita sebagai putra-putri Allah. Allah ingin kita semua menjadi bebas, tapi kebebasan mengandung arti bahwa kita harus mengatur hidup kita sesuai dengan apa yang Tuhan mau kita buat sebagai ciptaan-Nya.

Dengan demikian, bagi Paus Benediktus, “kebebasan dan kebenaran” bukan saling bertentangan, melainkan saling ketergantungan dan saling melengkapi. Bagi Paus Benediktus, kebenaran adalah pintu masuk yang lewatnya kita berjalan ke dalam atau menjadi bebas secara penuh.

Refleksi tambahan dariku:

Soal mendapatkan kebebasan sangat berhubungan erat dengan aturan-aturan yang harus dipatuhi. Banyak pihak menyerang ajaran Gereja Katolik karena kengototannya untuk mempertahankan aturan-aturan yang menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang universal dari rongrongan pihak yang tidak bertanggung jawab dan bertindak atas nama kebebasan dan hak asasi mereka. Misalnya; ketatnya aturan perkawinan, tentang aborsi, tentang gender, dan lain sebagainya. Komentarku singkat saja tentang masalah perkawinan misalnya; Kalau Gereja Katolik tidak mempertahankan ajaran tentang tidak adanya perceraian alias menghalalkan perceraian. Pertanyaannya; Berapakah wanita yang haknya sebagai manusia dikorbankan? Berapakah anak yang kehilangan kasih sayang dari orang tua mereka?

Oleh karena itu, Anda hanya bebas dalam arti sebenarnya ketika mengikuti aturan umum demi keharmonisan dan kedamaian. Selama Anda bertindak berdasarkan standar sendiri maka hanya kekacauanlah yang akan Anda hasilkan. Maka benarlah apa yang Paus Benediktus katakana; “kebenaran adalah pintu masuk untuk merasakan kebebasan dalam arti sesungguhnya.”

4. IMAN DAN AKAL BUDI SALING MEMBUTUHKAN

Pada tanggal 12 September 2006, Paus Benediktus XVI memberikan kuliah umum di Universitas Regensburg- Jerman, di mana beliau pernah mengajar teology. Kuliah umum ini menjadi sebuah pesan singkat ke seluruh dunia karena kontroversi yang muncul pada abad 14 antara kekaisaran Byzantium dan para ahli ilmu pengetahuan dari Persia, di mana kekaisaran mengatakan sesuatu yang negatif tentang Muhamad, pendiri agama Islam. Banyak orang salah menginterpretasikan materi kuliah umum ini karena hanya sedikit orang saja yang dapat membaca materinya secara keseluruhan, yang mana semuanya tidak mengatakan tentang Islam, tetapi relasi atau hubungan antara “Iman dan Akal Budi.”

Paus Benediktus menambahkan bahwa kesaksian Injil dan Gereja Perdana mengikuti alur ini; Allah adalah Logos, Pencipta akal budi itu sendiri. Dengan demikian, tidak bertindak sesuai dengan akal budi adalah melawan Ke-Ilahian Allah. Karena itu, faham fundamentalisme dalam Gereja merupakan sesuatu yang tidak konsisten dengan karakter dari Allah sendiri. Karena itu, menurut Paus Benediktus, iman dan akal budi sungguh saling membutuhkan.

Di tempat pertama, Paus Benediktus berpendapat bahwa, bagaimana para ilmuan tahu bahwa ada sebuah keteraturan di bumi? Bagaimana mereka memastikan bahwa alam semesta dapat bekerja pada esok hari sama dengan hari kemarin? Mengapa mereka percaya bahwa otak manusia mampu mengetahui alam semesta? Pada akhirnya, mereka akan berbicara tentang “Iman – yang telah menjadi dasar tradisi Kristiani, yang mana – apakah para ilmuan dewasa ini mengetahui kebenaran ini atau tidak? Itu pertanyaan untuk selalu direnungkan dan dimaknai.

Pada level yang lain, tentang disfungsi dalam budaya modern, Paus Benediktus percaya, dapatkah dijelaskan dengan mencoba memisahkan antara iman dan akal budi. Akal budi tanpa iman, beliau percaya, akan menjadi skeptism, cynicism dan nihilisme absolute, memimpin orang pada keputusan-asaan. Sedangkan iman tanpa akal budi, di lain pihak, akan menjadi fundamentalisme, extrims dan kadang menghancurkan (menjadi kejahatan). Kita melihat dalam dunia dewasa ini, di mana kaum radikal dalam Islam, yang telah membenarkan terorisme dan membenci orang lain atas nama Allah. Dan, sungguh ini sebuah kemunduran iman.

Refleksi tambahan:

Kadang fanatisme yang berlebihan membelenggu kita sendiri, baik dalam hubungan dengan sesama kita yang berlainan agama maupun dalam cara memaknai relasi kita dengan Tuhan. Kadang kita berpikir bahwa cara terbaik untuk menyenangkan Allah, ialah dengan cara menyingkirkan bahkan bila perlu membunuh mereka yang tidak seagama dengan kita. Ini tentunya membuat Allah menangisi kebodohan kita, karena sesungguhnya kita beriman tapi tidak menggunakan akal budi kita yang menjadi pemberian istimewa dari Allah kepada setiap manusia.

Karena itu, marilah kita mendalami iman kita, tanpa berpikir bahwa orang lain adalah ancaman terhadap kita, apalagi ancaman terhadap Allah. Gunakanlah akal budi kita dalam berimana agar apa yang kita imani dapat membuat kita semakin menjadi manusia beriman yang mampu menerima perbedaan dalam diri sesama dan semakin membawa kita dekat kepada Allah.

5. EKARISTI ADALAH JANTUNG KEHIDUPAN KRISTIANI

Ketika Paus Benediktus menghadiri hari kaum muda sedunia di Jerman pada tahun 2005 banyak orang berharap bahwa beliau akan mengiyakan atau setidak-tidaknya memberi kelonggaran dan kebebasan kepada kaum beriman dari kewajiban untuk menghadiri misa dan terbebas dari ikatan ajaran Gereja Katolik. Namun, apa yang dikatakan beliau dalam homilinya yang sungguh mempesona dan mendatangkan banyak simpati kaum muda karena beliau memilih berefleksi tentang makna Ekaristi, pemberian Kristus sendiri dalam bentuk roti dan anggur dalam Misa.

Kata-katanya membuat kagum jutaan kaum muda yang menghadiri perayaan itu. Katanya:

“Menggunakan sebuah citra yang terkenal kepada kita saat ini (Konsekrasi Ekaristi) bagaikan memasukan atom ke dalam sel di dalam jantung manusia – Inilah kemenangan cinta atas kebencian, kemenangan cinta atas kematian. Hanya dengan keintiman dan perlawanan terhadap yang jahat kita mampu mentransformasikan diri dan sedikit demi sedikit akan mengubah dunia. Semua perubahan lain hanyalah di permukaan dan tidak menyelamatkan. Untuk alasan inilah kita berbicara tentang penebusan; Apa yang telah terjadi pada level keintiman yang sangat dalam sesungguhnya telah terjadi, dan kita dapat masuk ke dalam dinamikanya. Yesus dapat memberikan Tubuh-Nya, sebab Dia sungguh-sungguh memberikan Diri-Nya.”

Inilah ungkapan kedalaman relasi seorang Paus Benediktus XVI yang muncul dari doa dan devosinya yang erat dan intim yang berpusat pada Ekaristi.

Pada bulan Maret 2007, Paus Benediktus mengeluarkan sebuah dukumen yang dinamai: “Apostolik Exhortation,” yang sebenarnya menjadi kesimpulan dari hasil sinode para Uskup yang diselenggarakan di Vatikan pada bulan Oktober 2005. Judulnya: “Sacramentum Caritatis” (Sacrament of Charity) = Sakrament Cinta kasih” dan inilah refleksi mendalam dari Paus Benediktus tentang Ekaristi. Katanya:

“Iman Gereja pada dasarnya adalah iman akan Ekaristi, dan ini secara special dihidupi pada meja Ekaristi…Untuk alasan inilah, Sakramen Ekaristi selalu menjadi jantung hidup Gereja. Semakin iman akan Ekaristi dari umat beriman dihidupi, maka kita pun dimampukan untuk saling berbagi kehidupan dan misi yang dipercayakan Kristus kepada murid-murid-Nya.”

Barisan terakhir sangatlah penting, sebab Paus Benediktus menegaskan dalam “Sakremen Cinta Kasih” bahwa iman yang terekspresi dalam Ekaristi datang dengan sebuah misi. Pada level pribadi, itu mengajak kita untuk menghidupi kehidupan kita menurut apa yang kita akui dalam Misa; Kita harus menjadi, bagaikan St. Agustinus yang mengatakan kata-kata terkenal, “apa yang kita terima dalam Ekaristi, harus membentuk hati kita seperti Kristus.” Sedangkan pada level sosial, itu berarti usaha untuk membangun sebuah dunia yang berarti “memberi cinta Kristus,” yang telah dibuat baru setiap kali Ekaristi dirayakan, adalah batu penjuru yang diatasnya masyarakat dibangun, sebagai lawan ideology, keuntungan sesaat, atau ketaatan buta terhadap kekuasaan.

Menjadi perhatian serius, Paus menekankan bahwa “Ekaristi dapat mengubah dunia – itulah hal yang bisa kita buat saat ini.”

Refleksi tambahan:

Beberapa pertanyaan refleksif dapat diberikan kepada kita untuk direnungkan saat ini, yakni; Bila kita lapar dan makan nasi atau makanan lainnya maka pasti kita kenyang; Bila kita haus dan minum air, tentunya memuaskan dahaga kita; Apa yang terjadi ketika setiap saat kita menyambut Tubuh dan Darah Kristus? Apakah kehadiran-Nya mendatangkan perubahan dan pertobatan dalam diri, kata dan perbuatan kita? Ataukah kehadiran-Nya hanyalah dirasakan saat kita berada di dalam Gereja, khusus lagi saat kita menyambut komuni kudus, dan setelah itu kehidupan berjalan seperti biasa lagi?

Semoga saja kehadiran Kristus dalam Ekaristi, roti dan anggur yang telah dikonsekrasikan menjadi Tubuh dan Darah Kristus, yang kita banggakan ditemukan secara luar biasa dalam Gereja Katolik, tidak hanya sekedar menjadi sebuah lambang kehadiran tanpa makna, melainkan kehadiran yang menyemangati, kehadiran yang menyejukan, kehadiran yang memberi kehidupan dan menumbuhkan cinta, sehingga kita pun mau dan rela memberikannya kepada setiap orang yang kita jumpai dalam dan selama perjalanan hidup kita di dunia ini.

6. KEKRISTENAN ADALAH SEBUAH PESAN POSITIF

Salah satu kekuatan dari pesan kepausan Benediktus XVI adalah kemampuannya untuk merumuskan ajaran dan buah pikirannya dalam pernyataan maupun pendekatan yang positif. Salah satu contohnya; Ketika Paus berkunjung ke Spanyol pada tahun 2006 banyak orang mengharapkan bahwa itulah sebuah pertemuan dramatik dengan pemerintahan socialist dibawah kepemimpinan perdana mentri Jose’ Luis Rodriguez Zapatero, yang telah memimpin pemerintahannya untuk berperang melawan ajaran-ajaran Gereja Katolik dalam beragam isu seperti; Perkawinan sejenis, aborsi, perceraian, euthanasia dan berbagai isu lainnya. Banyak orang, terutama orang-orang Katolik mengharapkan kritik keras dari Paus atau setidak-tidaknya tindakan cuci otak dari Paus terhadap pemerintahan socialist di Spanyol. Sebaliknya, Paus benar-benar berpikir positif terhadap realitas ini, dengan lebih focus pada nilai-nilai Kristiani yang fundamental, tanpa menyinggung secara terbuka isu-isu yang dapat menjadi benturan antara Negara dan Agama.

Beberapa waktu kemudian, reporter TV Jerman karena keinginan tahuannya mewawancarai Paus dengan bertanya apa yang telah terjadi dalam kunjungannya ke Spanyol? Alangkah baiknya kita membaca dan mengerti jawab Paus berikut ini;

Kekristenan, Katolik, bukanlah sebuah kumpulan larangan-larangan; Ini adalah sebuah pilihan yang positif. Ini menjadi sangat penting untuk kembali melihat dan menerapkan nilai-nilai kekristenan itu yang kini mulai hilang di tengah zaman ini. Kita terlalu banyak mendengar apa yang tidak diizinkan yang sekarang saatnya untuk mengatakan bahwa; “Kita memiliki ide positif yang kita tawarkan, bahwa pria dan wanita diciptakan bagi yang lain, bahwa cinta sexualitas, eros dan agape, mengindikasikan tingkatan cinta, dan, dalam jalan inilah perkawinan dibangun, yang pertama-tama demi kebahagiaan dan berkat yang terberi kepada seorang pria dan seorang wanita, dan kemudian keluarga, yang kemudian diteruskan dari generasi ke generasi yang melaluinya rekonsiliasi antar pribadi mulai terjadi dan bahkan perbedaan budaya pun dapat dipertemukan. Karena itu, pentinglah kita menekankan; Pertama, tentang apa yang kita inginkan. Kedua, kita dapat juga melihat mengapa kita tidak menginginkan sesuatu. Saya percaya bahwa kita perlu melihat dan merefleksikan tentang kenyataan bahwa itu bukanlah suatu intervensi dari Gereja Katolik bahwa pria dan wanita diciptakan untuk yang lain, sehingga kemanusiaan dapat dihidupi dan dikembangkan; semua budaya mengetahui hal ini. Sejauh aborsi menjadi perhatian semua, itu adalah bagian dari perintah kelimat dan bukan keenam; “Jangan membunuh! Kita harus mengatakan bahwa ini adalah sesuatu yang jelas dan selalu ditekankan bahwa kemanusiaan (pribadi manusia) mulai sejak dari rahim ibunya dan tinggal tetap menjadi seorang pribadi sampai hari kematiannya. Pribadi manusia harus selalu dihargai sebagai pribadi manusia. Akan tetapi semuanya ini akan menjadi jelas bila pertama engkau mengatakannya di dalam sebuah jalan yang positif.

Keingingan Paus adalah memimpin Gereja Katolik zaman ini untuk kembali kepada aspek fundamental dari iman, untuk mengingatkan kita kepada kedalaman kata “ya” dalam segala aspek kehidupan.

Selama perjalanannya ke Brazil pada bulan Mei 2007, Paus Benediktus XVI menekankan kembali point yang sama dalam cara yang berbeda ketika ia berkata;

Gereja tidak menyibukkan diri dalam proselytism (tindakan untuk mempengaruhi orang lain untuk mengubah pendirian atau lebih spesifik pada mengubah kepercayaannya) . Sebaliknya, Gereja bertumbuh melalui daya pikat; Sama seperti Kristus, menarik semua kepada Diri-Nya melalui kuasa cinta-Na, penyerahan dan pengorbanan di Salib, demikian pun Gereja menjalankan misinya untuk menyebarkan cinta dan pengorbanan yang sama, dalam kesatuan dengan Kristus, Gereja melengkapi setiap pekerjaannya di bidang spiritual dan pratical dalam usaha untuk menyerupai cinta Tuhannya.

Dengan kata lain, Paus ingin agar orang Kristen membiarkan “berita gembira” tentang dan dari iman mereka bercahaya melalui kehidupan pribadi mereka, sehingga keindahan dari dalam jiwa dapat lagi menjadi jelas di dalam dunia yang menuduh kekristenan sebagai sebuah sistim kehidupan yang kaku dan mengikat. Ini tidak membuat hukum kurang penting atau valid, tetapi Paus Benediktus menyadari bahwa “tak seorang pun dapat mengontrol hatinya dengan hukum, tetapi dengan cinta.”

Refleksi tambahan:

Kalau Anda masih ingat maka dalam sebuah tulisan saya terdahulu, pernah disinggung tentang “kita selalu diajarkan untuk mampu melihat/menangkap cinta yang besar dibalik setiap kritik dari orang lain, dan itu adalah pelajaran untuk mendapatkan keutamaan hidup. Namun, sebaliknya setiap pengritik pasti tahu dan sadar benar motivasinya bila ia sedang mengeritik orang lain, entahkah berdasarkan rasa cemburu atau sakit hati atau cinta. Hanya orang yang mengeritiklah yang tahu benar motivasi dibalik segala bentuk kritikannya. Meskipun demikian, bila engkau bisa mengungkapkan rasa cintamu kepada orang lain tanpa harus mengeritiknya, mengapa engkau tidak melakukannya, yakni cukup mencintainya dan orang itu akan berubah.

Karena itu, marilah kita belajar untuk menjadikan diri kita, menjadikan Gereja kita bukan tampil sebagai lembaga yang kaku dengan aturan, tapi yang berdaya pikat karena cinta dan pengampunan yang nampak dalam diri saudara dan aku, walaupun ketegasan aturan tetap ditegakkan. Apa yang terindah yang dikatakan oleh Paus Benediktus yakni seperti Kristus menarik semua orang dengan cinta-Nya, maka marilah kita pun menarik semua orang untuk percaya kepada Yesus dengan cinta dan bukan dengan paksaan. Dengan demikian, keyakinan Paus akan terjadi bahwa bukan hukum yang dapat mengubah dan mengontrol hati tapi hanya dan hanya cintalah yang mampu mengubah dunia, manusia dan dapat mengontrol hati dan keinginan kita.

7. GEREJA MEMBENTUK HATI NURANI TAPI TINGGAL DI LUAR POLITIK

Sejak mengajar sebagai professor dan pemimpin kongregasi kepausan, Benediktus XVI telah mencoba membangun relasi antara kekristenan dan politik. Ini bukan berarti, bagaimana pun, tentunya ada konsekwensi-konsekwensi praktis yang muncul dari relasi seperti ini. Menurut visi moralitas paus Benediktus XVI, seorang Kristen harus bekerja untuk sebuah keadilan sosial, yang diantara banyak hal mengimlementasikan perhatian khusus kepada kaum miskin.

Kepada para uskup Amerika Latin dan Karibia pada tanggal 13 Mei, 2007, paus Benediktus menekankan elemen penting dari teologi pembebasan, yakni apa yang disebut “keberpihakan kepada kaum miskin,” dengan berkata: “Itu adalah tindakan implisit dari iman kristologi dalam Allah yang menjadi miskin untuk manusia.”

Paus Benediktus mengulangi pembicaraan untuk membela kaum miskin, dalam bahasa yang secara kongrit adalah implikasi politik. Sebagai contoh; Di bulan Desember 2006, paus Benediktus menulis kepada konselir Jerman, Angela Merkel, pada saat pertemuan G8 yang meminta pembatalan hutang tanpa syarat kepada Negara-negara miskin. Paus melukiskan dalam suratnya bahwa “bantuan yang diberikan oleh Negara-negara kaya kepada Negara-negara miskin merupakan tanggung jawab yang moral tak bersyarat, yang berdasarkan kesatuan nilai kemanusiaan, dan martabat luhur yang harus dibagikan oleh yang kaya kepada yang miskin.”

Paus Benediktus telah menunjukkan perhatian pastoral yang khusus untuk membantu orang-orang miskin di Afrika. Pada bulan Juni 2005 beliau mendesak Sinode para uskup se-Afrika untuk berdiskusi tentang krisis yang sedang melanda benua mereka. Pada bulan November 2006, ketika Bank Dunia menggalang dana untuk imunisasi anak-anak demi menghindari penyakit yang lebih mematikan pada anak, Paus Benediktus adalah orang pertama yang membeli kupon atau tampil sebagai pendonor pertama.

Bagi Paus Benediktus XVI, kesetiaan terhadap ajaran dan tradisi Gereja tidak berlawanan dengan perhatian kepada aspek sosial kehidupan manusia; meyakinkan banyak hal sebagaimana dia percaya bahwa iman hendaknya dilengkapi dengan perbuatan nyata, dan inilah yang ditolak oleh ajaran Protestantisme yang berseberangan dengan Gereja Katolik Roma.

Pada saat yang sama, Paus Benediktus sangat jelas menekankan bahwa aturan Gereja Katolik sangat jelas yakni untuk mempertahankan nilai-nilai moral, dan bukan untuk menyediakan arena politik khusus yang berfungsi untuk memindahkan nilai-nilai itu kepada pilihan politik. Jika Gereja mulai melibatkan dirinya secara langsung ke arena politik, dia akan melakukan sesuatu yang kurang, dan bukan sesuatu yang lebih, untuk orang miskin dan keadilan, demikianlah kata Paus selama kunjungannya di Brasil, dengan menekankan tentang wajah gereja katolik Brasil yang telah kehilangan kekuatan moralnya, karena telah terlibat aktif dalam dunia politik dengan cara berpartisipasi dalam partai-partai politik tertentu.

Menurut Paus, Gereja Katolik adalah penegak keadilan dan Gereja ada untuk orang miskin, sebab Gereja tidak mengidentifikasikan dirinya sebagai politikus ataupun menjadi anggota partai khusus. Hanya dengan tinggal terpisah dari politik, Gereja Katolik dapat mengajarkan nilai-nilai moral dan menuntun hati nurani dan pilihan untuk mempertahankan kehidupan dari kecenderungan untuk menghancurkan martabat manusia lewat tindakan penghancuran nilai-nilai moral dan kehidupan.

Refleksi Tambahan:

Sangatlaha sulit untuk mengubah sesuatu yang tidak adil dan tidak benar bila si pengeritik sendiri sudah terlibat atau dilibatkan dalam ketidakadilan dan ketidakbenaran yang sementara dipraktekkan. Itulah kenyataan yang banyak terjadi di negeri kita tercinta Indonesia. Banyak tokoh politik sangat berani berteriak dan mengeritik penguasa/pemerintah sewaktu mereka menjadi mahasiswa atau menjadi tokoh atau figure gerakan/lembaga kemanusiaan (LSM). Akan tetapi, sikap dan daya kritisnya berubah total ketika kesempatan untuk terlibat dalam partai politik atau ketika mendapatkan tawaran kedudukan di pemerintahan. Semuanya sirna ditelan keserakahan dan kebutaan karena harta dan jabatan sesaat (walaupun ini tidak bisa dikenakkan kepada semua orang).

Gereja pun demikian (terutama kaum hirarki; para uskup dan imam) hendaknya tetap menjaga jarak yang tegas dan jelas, karena kadang Gereja (para uskup dan imam pun) diam seribu bahasa ketika sodoran uang telah datang di atas meja atau sarana prsarana lainnya diberikan oleh pihak penguasa maupun pengusaha. Himbauan Paus Benediktus sangat jelas untuk dipratekkan; Gereja boleh menjadi motivator atau pemerhati terhadap beragam masalah sosial kemasyarakatan, dan itulah tugas kenabian, tapi Gereja hendakya tetap tinggal terpisah dari politik sehingga bisa menjalankan fungsi kenabiannya dengan jelas dan tegas.

Semoga saja kita semua (Gereja Katolik) tetap berdiri teguh sambil menebarkan pesona dan daya pikat dalam mewartakan kebaikan, cinta, keadilan dan kebenaran di zaman ini tanpa terpengaruh oleh tawaran dunia yang membawa kenikmatan sesaat. Semoga Roh Kudus tetap menemani kita semua dalam tugas perutusan yang dipercayakan Tuhan kepada kita masing-masing.

8. PENTINGNYA IDENTIAS KATOLIK

Pada tanggal 20 Maret, 2007, kepada para pebisnis Italy, Cardinal Tarcisio Bertone, Sekretaris Negara Vatikan yang menekankan bahwa “tujuan utama” Paus Benediktus dalam masa kepemimpinannya adalah “mempertahankan identitas asli dari kekristenan dalam dunia yang telah dipengaruhi oleh relativisme agama dewasa ini.”

Menampilkan diri sebagai Katolik dalam dunia dewasa ini adalah sebuah problem yang sangat serius. Hampir dalam semua level kehidupan, dari liturgy sampai ke berbagai macam kongregasi, dari sekolah dan rumah sakit sampai ke intruksi kepada Seminari – pertanyaan sentral yang dihadapi dewasa ini adalah “Bagaimana kita bisa tahu bahwa lembaga-lembaga itu adalah milik Katolik, dan bagaimana kita bisa pastikan bahwa mereka tetap dikenal sebagai lembaga Katolik?”

Paus Benediktus menyadari bahwa di era sekarang ini, terutama di Negara-negara Eropa, agama telah mengalami kemunduran bahkan seakan hilang ditelah teriakan kebebasan dan bahkan mengasinkannya dari kehidupan umum. Di Barat saat ini, agama nampak seperti urusan pribadi orang per orang dan bahkan mereka yang masih mempertahankan iman mereka merasa diasingkan dan dikucilkan oleh masyarakat sekitar. Di beberapa tempat, Gereja Katolik diasimilasikan, bahkan beberapa institusi Katolik telah dipengaruhi oleh nilai-nilai secular modern dan mulai meninggalkan tradisi kekristenan.

Paus Benediktus percaya bahwa waktulah telah tiba saat ini di mana kita diajak untuk memulikan segala sesuatu tentang iman dan gereja kita sehingga membuat Katolik berbeda dari yang ditawarkan oleh dunia modern ini. Keputusannya pada bulan July 2007 untuk mengizinkan kembali pemberlakuan/pemakaian rumusan Misa sebelum Konsili Vatikan II, dan untuk meyakinkan kembali dunia bahwa “hanya Gereja Katoliklah yang adalah gereja yang benar “ yang dikehendaki Kristus, keduanya hal ini mengekspresikan keinginan beliau untuk menghidupkan kembali identitas Katolik yang sebenarnya yang seakan pudar diserap budaya modern saat ini.

Paus Benediktus berjuang lewat berbagai kesempatan untuk meyakinkan kembali umat Katolik tentang pentingnya menampilkan diri baik sebagai pribadi maupun lembaga sebagai Gereja Katolik tanpa harus merasa malu atau merasa disingkirkan oleh budaya dunia dewasa ini.

Jauh sebelumnya seperti disebutkan dalam tulisannya pada tahun 1984 bahwa “Dewasa ini, bahkan lebih dari itu, orang Kristen (Katolik) harus sadar bahwa mereka adalah kelompok minoritas dan tampil sebagai pihak oposisi terhadap segala sesuatu yang nampaknya baik, logis dan jelas yang mengekspresikan semangat duniawi,” seperti yang diwartakan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Diantara banyak hal yang mendesak yang dihadapi oleh Gereja dewasa ini, apa yang paling penting yakni bagaimana gereja tampil mempertahankan identitasnya diantara gejolak zaman ini yang telah dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya bebas tak bertanggung jawab.

Ini tidak berarti bahwa Paus Benediktus menginginkan orang-orang Katolik menarik diri dari semua yang ditawarkan dunia saat ini. Itu bukan maksud beliau. Paus menginginkan orang-orang Katolik tetap berada di dalam dunia modern untuk menerangi dan menggaraminya dengan nilai-nilai kristiani tanpa harus kehilangan identitasnya sebagai orang Katolik.

Refleksi tambahan:

Sangatlah tepat jika kita merenungkan kembali kutipan teks Kitab Suci tentang “garam dunia dan cahaya dunia” (Mat.513-16) di bawah tema yang menarik ini. Inilah realitas dunia, terutama orang-orang Katolik dewasa ini, di mana banyak diantara kita cenderung untuk melalaikan bahkan takut (hanya alasan demi menghormati pemeluk agama lain) sehingga mengorbankan tradisi dan kebiasaan iman kekatolikan kita (Misalnya dalam hal membuat tanda salib di depan umum).

Paus Benediktus XVI benar-benar menghayati kata-kata St. Paulus; “Jika aku mengikuti keinginan hatiku maka lebih baik bagiku jika mati dan pergi tinggal bersama Yesus, tapi jika aku hidup, maka aku harus mewartakan Firman Tuhan kepada orang lain.” Kita pun diajak oleh Paus Benediktus untuk tidak melarikan diri atau menghindari diri dari semua tawaran dunia dewasa ini, tapi harus terlibat di dalamnya agar kita dapat menjalankan misi kita yakni menerangi dan menggarami dunia dengan nilai-nilai kristiani tanpa harus kehilangan identitas kekatolikan kita.

Marilah kita mohon penerangan dan kekuatan Roh Kudus agar selalu memberanikan hati kita untuk menjadi saksi Kristus dan Gereja-Nya dalam dunia dewasa ini. Tampillah sebagai orang Katolik yang sejati, karena hanya dengan cara seperti itu “terang dan rasa asinmu” akan dilihat dan dirasakan oleh orang lain bahwa engkau sungguh-sungguh seorang pengikut Kristus yang sejati, yang tetap menerangi cahaya Kristus dari Gereja yang didirikan-Nya, yakni Gereja Katolik.

Sapaan seorang sahabat,

Sering terdengar bukan saja dari pihak non-Katolik/Kristen, tapi juga dari orang-orang Katolik sendiri tentang yang satu ini, Menurut Paus Benediktus, ini adalah ungkapan kebingungan dari orang-orang beriman. Jawaban paling tepat menurut Paus adalah . Keduanya merupakan misteri Ilahi dalam ranah manusia yang tak dapat dipikirkan tuntas oleh otak, selain mengimaninya.

Oleh karena itu, dibawah sub-tema, “Kristus dan Gereja-Nya Tak Dapati Dipisahkan,” Paus Benediktus akan membuat kita mengerti lebih dalam hubungan yang indah antara Kristus sebagai Kepala Gereja dan Gereja sendiri sebagai tubuh-Nya. Semoga saja pencerahan seperti ini semakin mengokohkan iman kita kepada Kristus bukan di atau dari luar Gereja melainkan di dan dari dalam Gereja itu sendiri.

10 HAL YANG PAUS BENEDIKTUS INGIN ANDA TAHU

1. ALLAH ADALAH CINTA

2. YESUS ADALAH TUHAN

3. KEBENARAN DAN KEBEBASAN ADALAH DUA SISI DARI COIN YANG SAMA

4. IMAN DAN AKAL BUDI SALING MEMBUTUHKAN

5. EKARISTI ADALAH JANTUNG KEHIDUPAN KRISTIANI

6. KEKRISTENAN ADALAH SEBUAH PESAN POSITIF

7. GEREJA MEMBENTUK HATI NURANI TAPI TINGGAL DI LUAR POLITIK

8. PENTINGNYA IDENTIAS KATOLIK

9. KRISTUS DAN GEREJA TAK DAPAT DIPISAHKAN

Pada bulan Maret 2006, Paus Benediktus XVI mengumumkan bahwa dia akan menggunakan Audiensi Umum hari Rabu untuk menekankan kembali “Misteri hubungan yang tak terpisahkan dan berkesinabungan” antara Yesus dan Gereja-Nya. Ada saja yang mencoba untuk memisahkan keduanya dengan mengatakan “ya” kepada Yesus tapi “tidak” kepada Gereja, dan menurut Paus Benediktus, ini adalah “sebuah kesalahan fatal”, sebab pesan dan misi Yesus adalah untuk mengumpulkan dan menyelamatkan manusia, yang adalah Gereja.

Inilah kesempatan terbaik bagi Paus Benediktus untuk meyakinkan umatnya akan misteri hubungan yang erat tak terpisahkan antara Gereja (Katolik) dan pendiri-Nya yang tidak lain adalah Yesus sendiri. Menurut Paus Benediktus, bagi banyak orang dewasa ini, pribadi Yesus tetap masih menarik dan mengagumkan, tapi mereka sering beralasan bahwa mereka terhambat imannya karena institutsi Gereja. Inilah cobaan paling mendasar dalam diri manusia dewasa ini untuk mengimani Yesus tanpa perantara Gereja, dan ini adalah akal licik iblis untuk menghancurkan jiwa manusia.

Akhirnya, bagaimanapun, tak seorang pun dapat dengan benar mencintai Yesus atau mengikuti ajaran-Nya, kata Paus Benediktus, tanpa terikat dalam satu keluarga iman yang dipanggil oleh Yesus untuk menjadi saksi-Nya. Sama seperti sebuah keluarga, Gerejapun mengalami jatuh bangun dalam peziarahannya, mengalami moment kekecewaan dan pengkhianatan, mengalami luka dan terluka oleh anggota-anggotanya sendiri. Inilah yang terjadi dengan jumlah besar umat manusia yang tergabung dan menjadi anggota Gereja Katolik yang telah mengarungi hiruk pikuk dunia selama 2000 lebih tahun sejak didirikan oleh Yesus sendiri. Meskipun demikian, tak seorang pun dapat berjalan tanpa memiliki keluarga. Itu pun yang dialami oleh para Rasul di mana mereka tak dapat berkarya, meneruskan misi Yesus, Sang Guru tanpa keterikatan dengan komunitas (Gereja) dibawah komando Petrus sebagai pemimpin mereka, yang resmi diangkat oleh Yesus sendiri.

Paus Benediktus lalu menambahkan bahwa menginterpretasikan pesan Yesus dalam cara yang berbeda juga dialami oleh para Rasul setelah peristiwa kenaikan Sang Guru ke Surga. Melalui cirikhas masing-masing Rasul, kedua belas murid itu dipanggil dari latar belakang mereka yang berbeda, untuk meyakinkan umat Israel, mengumpulkan mereka dan membentuk sebuah umat yang baru dibawah Nama Yesus, Sang Mesias. Dengan mempercayakan kepada para Rasul-Nya untuk merayakan Ekaristi sebagai kenangan akan wafat, kematian dan kebangkitan-Nya, Yesus ingin mengubah seluruh komunitas manusia dibawa satu komando, satu pemimpin, dan inilah tanda atau symbol dari kehidupan akhirat di hadapan Allah, Sang Bapa, dan lagi, komunitas akhirat ini harus mulai dibangun dari dunia ini dengan pusatnya adalah Diri-Nya (Yesus) sendiri. Inilah dasarnya untuk mengerti pesan yang tertulis dalam Yohanes 20:23; “Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” Kuasa ini tidak diberikan kepada semua murid Yesus, yang hidup, mendengar dan mengikuti-Nya selama Ia berada di tengah mereka, tapi hanya kepada “kedua belas Rasul.” Dengan demikian, kedua belas Rasul adalah tanda yang jelas antara Yesus, Sang Pendiri Gereja dan umat-Nya. Hubungan antara keduanya tak dapat dipisahkan, dan itulah misteri yang tetap membuat kagum banyak hati dan mata karena Yesus sendirilah yang menjadi penghubungnya.

Terhadap argument “Ya kepada Yesus, Tidak kepada Gereja,” Paus Benediktus menjawab bahwa “Ya kepada Yesus berarti Ya kepada Gereja.”

Refleksi Tambahan:

Penjelasan di atas menjadi alasan mengapa Paus Benediktus kembali meyakinkan kaum muda Katolik dalam pertemuan Pemuda Sedunia di Spanyol beberapa waktu lalu bahwa “orang muda tidak bisa berjalan sendirian dalam imannya kepada Yesus. Mereka selalu membutuhkan teman. Mereka selalu membutuhkan peranan dan bantuan Gereja terhadap pertumbuhan dan perkembangan imannya terhadap Yesus.”

Inilah kecenderungan banyak orang Katolik dewasa ini, yang lebih memilih mengimani Yesus tanpa terlibat aktif bahkan bila perlu tidak menjadi anggota yang terikat dengan segala aturan Gereja Kristus, Gereja Katolik. Karenanya, mereka bisa mengikuti ibadat apa saja dan di gereja mana saja dengan alasan bahwa yang penting kan iman akan Yesus dan bukan gereja mana ia harus menjadi anggota. Terhadap cara pandang seperti ini saya selalu tantang dengan pernyataan ini; Alangkah bodohnya jika Yesus mendirikan Gereja-Nya dibawa komando St. Petrus tapi menghidangkan masakan enak di tempat lain.

Oleh karena itu, aku mau meyakinkan kembali saudara-saudari yang berada di dalam Gereja Katolik saat ini bahwa Anda telah berada di jalur lurus menuju keselamatan yang dijanjikan oleh Sang Pendiri Gerejamu, yakni Yesus sendiri. Apa yang harus Anda lakukan sekarang adalah mendengarkan sabda-Nya dan melakukannya di dalam dan dari Gereja-Nya sehingga sinarmu keluar dari Gereja-Nya menyinari dunia sekitarnya. Pikiran terbalik selalu menyesatkan bahwa biarlah kita berdiri di luar Gereja dan meneranginya dengan sumber cahaya yang lain. Jangan lengah karena si iblis akan kembali dan sekarang ia berada di ambang pintu rumah, dan terlebih pintu hatimu. Ingat, akan datang nabi-nabi palsu yang membuatmu tertarik dengan apa yang mereka miliki tapi kepadamu kuyakinkan bahwa Anda telah berada di dalam jalur yang benar. Tidak ada jalan lain kepada Bapa, kecuali melalui Yesus dalam Gereja yang didirikan-Nya.

10 HAL YANG PAUS BENEDIKTUS XVI INGIN ANDA KETAHUI

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sapaan seorang sahabat,

“Menunggu dengan sabar datangnya nomor terakhir ini (nomor 10) juga menjadi tanda bahwa Anda sedang dituntun untuk belajar tentang kesabaran yang persis akan dijelaskan dalam nomor terakhir ini.

Akhirnya, tuntas sudah tugasku untuk menghadirkan 10 hal yang Paus Benediktus XVI ingin Anda ketahui. Tentunya harapan dibalik ini yakni bukan saja untaian-untain indah itu menjadi bahan pengetahuan belaka, melainkan harus direnungkan dan dipraktekan dalam hidup. Semoga saja kita selalu terbuka terhadap daya Roh Kudus sehingga kita menjadi alat Tuhan untuk menyapa dunia terutama lewat 10 hal yang paus kita ingin agar kita tahu, renungkan dan laksanakan dalam hidup sebagai orang-orang Katolik.

10 HAL YANG PAUS BENEDIKTUS INGIN ANDA TAHU

1. ALLAH ADALAH CINTA

2. YESUS ADALAH TUHAN

3. KEBENARAN DAN KEBEBASAN ADALAH DUA SISI DARI COIN YANG SAMA

4. IMAN DAN AKAL BUDI SALING MEMBUTUHKAN

5. EKARISTI ADALAH JANTUNG KEHIDUPAN KRISTIANI

6. KEKRISTENAN ADALAH SEBUAH PESAN POSITIF

7. GEREJA MEMBENTUK HATI NURANI TAPI TINGGAL DI LUAR POLITIK

8. PENTINGNYA IDENTIAS KATOLIK

9. KRISTUS DAN GEREJA TAK DAPAT DIPISAHKAN

10. KEUTAMAAN KESABARAN

Paus Benediktus XVI menekankan bahwa kita perlu belajar banyak dari kesamaan antara apa yang Yesus buat dan apa yang Ia katakan.

Dalam arti yang hampir sama, Paus Benediktus mengajarkan kita bahwa dunia melalui tindakan-tindakan manusianya, kepribadiannya dan gaya hidupnya, adalah arti eksplisit dari kata-katanya. Sebagai contoh, salah satu moment yang tak terlupakan adalah pada Paskah 2005, ketika almarhun PausYohanes Paus II yang berjuang menahan derita fisiknya beliau berdiri di jendela kamar kepausannya selama 12 menit lebih hanya untuk menyapa umatnya yang telah berkumpul di putaran lapangan St. Petrus dan jutaan mata yang menantikan kehadirannya pada saat itu. Inilah keutamaan kesabaran seorang Yohanes Paulus II untuk melalui derita fisik yang ditanggungnya, hanya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa keutamaan kesabaran melampaui daya pikir manusia tentangnya.

Tentunya dengan penuh kesadaran, Paus Benediktus sedang mengajar umatnya melalu sikap dan tingkah laku pribadinya. Beliau adalah pribadi yang baik dan sederhana, yang berdiri tegak di tengah kritikan dan penolakan mereka yang tidak menyenangi gaya dan caranya mempertahankan keaslian dan kebenaran ajaran Gereja Katolik di zaman ini. Dia selalu meyakinkan umat manusia lewat kata dan kehadirannya bahwa tidak seorang pun harus bersikap arogan dan memanipulasi yang lain demi tujuan pribadinya.

Menjadi lebih penting bahwa Paus Benediktus sedang mengajarkan sesuatu kepada dunia untuk merenung sejenak, mengambil nafas dan berpikir sebelum berbicara dan bertindak. Dan, ini sungguh terlihat setelah pemilihannya sebagai paus, ada yang berharap akan adanya perubahan dalam kelompok kardinal yang berada di sekitarnya, yang lain memimpikan tampilan Gereja Katolik yang mendunia, dan beragam harapan dan mimpi yang terlontar dan diungkapkan kepada paus Benediktus untuk diadakan selama masa kepemimpinannya. Dan, tentunya masih banyak yang sementara berharap adanya perubahan radikal dalam tubuh Gereja Katolik untuk tampil sebagai salah satu organ penting di dunia dewasa ini.

Paus Benediktus adalah seoarng yang imannya sangat dalam, kuat tak tergoyahkan oleh arus zaman atau orang-orang disekitarnya, yang selalu percaya bahwa apa yang sementara diperbuatnya dalam dan terhadap Gereja adalah rencana Tuhan, dan semuanya diserahkan kepada Penyelenggaraan-Nya dan bukan kehendaknya pribadi sebagai seorang paus bahkan sebagai seorang Josep Ratzinger secara pribadi. Terhadapnya ada kepercayaan layaknya orang Jerman pada umumnya yang percaya akan nasib bahwa segala sesuatu telah tertulis di suratan tangan masing-masing orang. Bukan berarti ia percaya seperti caranya orang-orang lain percaya, tapi apa yang diyakini adalah Penyelenggaraan Ilahi atas Gereja-Nya. Oleh karena itu, ia tak berpikir terlalu banyak tentang bagaimana menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi Gereja saat ini. Beliau sangat hati-hati untuk memutuskan segala sesuatu dari kursi kepemimpinannya sebagai seorang paus. Selalu ada ruang dimana ia percaya bahwa Tuhan, Sang Pemimpin Agung Gereja tak pernah membiarkan Gereja-Nya hancur dan dihancurkan oleh musuh-musuhnya.

Dalam dunia yang tidak sabar seperti sekarang ini, Paus Benediktus tampil sebagai seorang pribadi yang sabar. Ia hanya mau menunjukkan kepada dunia bahwa keutamaan kesabaran sangat besar manfaatnya bagi manusia dewasa ini.

Refleksi tambahan:

Benarlah kata-kata bijak ini, “kita meminta rahmat kesabaran dan Tuhan memberikan kita tantangan” agar kita belajar menjadi sabar. Bagaimana kita bisa tahu bahwa kita memang pribadi yang sabar? Ya, hanya lewat tantangan atau situasi di mana kita ditantang untuk marah, untuk mencela orang lain, untuk menghardik mereka bahkan untuk membunuh orang lain, namun kita mampu menahan diri untuk tidak melakukan kejahatan dan dosa lewat tangan, pikiran dan hati kita. Kesabaran membuat kita mampu meredam semua gejolak perasaan seperti itu, dan sebaliknya membuat hati dan pikiran kita menjadi tenang dan damai.

Meskipun demikian, kesabaran bukan layaknya makanan yang kita makan ketika lapar dan menjadi kenyang atau air yang kita minum dan rasa dahaga kita terpuaskan, melainkan untuk mendapatkan kesabaran sangat diperlukan proses belajar yang panjang, membutuhkan doa dan kepasrahan kepada Tuhan. Kesabaran bukan seperti pelajaran yang kita hafal dan akan kita ingat terus, melainkan sebuah proses hati dan pikiran untuk semakin menjadi bijaksana di hadapan Tuhan dan sesama kita.

Oleh karena itu, baiklah sebagai putra-putri Gereja yang didirikan oleh Yesus, marilah kita belajar untuk menjadi sabar terhadap semua orang, terhadap mereka yang membenci kita, terhadap musuh-musuh kita, karena dengan kesabaran yang kita tunjukkan kepada mereka sebenarnya kita telah mewartakan keutamaan diri kita dan Gereja kita kepada orang lain. Semoga Tuhan Yesus selalu memberkati dan melindungi kita selama peziarahaan kita di dunia ini.

Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabat,

***Rinnong***

RInnong

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

3 responses »

  1. Tasya Takndare mengatakan:

    Terima Kasih Romo Inno…😀

  2. Iman Katolik mengatakan:

    […] MIK’ers admin. Katol… on 10 HAL YANG PAUS BENEDIKTUS XV… […]

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s