MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

SEPTEMBER 1997

 

Evangelisasi Baru Dalam Masyarakat

 

MENJADI MANUSIA BARU DALAM KRISTUS

 

Bahan: Gagasan Pendukung

Oleh: St. Darmawijaya Pr

 

“menaburlah bagimu sesuai dengan keadilan

menuailah menurut kasih setia” (Hosea 10:12)

 

Lembaga Biblika Indonesia

 

diperbanyak oleh

Komisi Kitab Suci Keuskupan Agung Semarang

 

 

1. Sosok Nabi

 

Kitab nabi Hosea termasuk dalam kelompok kitab Nabi Kecil. Sebutan ‘nabi kecil’ itu bukan karena peranan atau kedudukan nabi yang dikisahkan tidak begitu penting, melainkan karena kitab itu pendek, hanya menyimpan 14 bab dari pewartaan nabi. Dari kitab itu tampillah sosok nabi yang istimewa. Nampaknya nabi yang menjadi pewarta pesan kesetiaan ini berasal dari kera­jaan Utara (Israel). Kitab sendiri tidak memberikan banyak keterangan mengenai nabi yang disebut Hosea itu. Nama Hosea hanya disebut pada awal kitab itu, 1:1 dan 1:2a. Setelah itu nama itu tidak lagi muncul. Nama itu sendiri barangkali sebuah kependekan dari kata hwsh’yh (w), yang berarti ‘Yahwe telah menyelamatkan’ atau ‘Selamatkanlah ya Yahwe’.

 

Dalam awal kitab tersebut disebutkan juga nama ayahnya yaitu Beeri, tanpa keterangan lain tentang asal usul keluarganya. Dugaan bahwa Hosea berasal dan berkarya di Kerajaan Israel hanya diperoleh dari kekhasan dialek yang digunakan dan umat yang menjadi sasaran pesannya, yang sebagian besar adalah dari penduduk Efraim.

 

Rupanya tokoh yang ada di balik kitab itu mengenal baik situasi dan kondisi politik serta sosial pada jamannya. Tempat-tempat yang sering disebut dalam pewartaan nabi adalah Samaria, 7:1; 8:5-6; 10:5.7; 14:1, pusat ziarah Betel, 4:15; 12:15 dan Gilgal, 4:15; 9:15; 12:12. Mungkin di tempat-tempat tersebut nabi mengembangkan kegiatan kenabiannya. Nabi meli­hat bahaya kehidupan setempat, yaitu praktek kehidupan penyembahan berhala kesuburan (Baalisme) yang merasuki kehidupan iman umat akan Yahwe. Nampak jelas dari pewartaan yang terdapat dalam kitab itu, bahwa Hosea memiliki kepekaan hati dan ketajaman wawasan iman yang perlu disampaikan kepada umatnya. Ia mengambil sumber-sumber untuk pewartaannya dari tradisi kebi­jaksanaan. Cara pewartaannya menunjukkan bahwa ia mahir menggunakan bahasa yang menarik, tahu dengan baik tradisi sejarah bangsanya, yaitu umat Is­rael.

 

Latar belakang kehidupan nabi sendiri tidak diketemukan informasinya dalam kitab itu. Rupanya nabi dipanggil menjadi nabi pada usia muda, seki­tar usia pria yang menginjak masa berkeluarga, 1:2. Peranannya sebagai nabi berlangsung dalam periode yang cukup lama. Ia memahami panggilan dan peru­tusan Allah sebagai sarana Allah menyapa umat Israel. Tugas kenabian itu dikaitkan dengan peranan Musa yang melaksanakan perintah Allah untuk menja­ga dan menghukum Israel, 12:10; 13:4; 9:8; 6:5. Maka tidak mustahil bahwa melalui tradisi kenabian itu nabi mendapatkan pengetahuan tentang sejarah Israel, yang dilihatnya dalam tiga periode, yaitu periode keluaran, padang gurun dan tanah terjanji yaitu Kanaan. Bagi Hosea, nabi adalah seorang yang berjuang demi Yahwe melawan sesembahan penduduk setempat Kanaan, yakni Baal. Kecuali itu nabi juga kritis terhadap hubungan dengan raja-raja setempat yang bisa saja mengasingkan umat Allah dari Tradisi iman bangsa tersebut. Maka nabi juga mengritik kekuasaan militer dan sekular. Sejauh manakah nabi ini mempunyai hubungan dengan para nabi pendahulunya tidaklah jelas, meskipun ada kesinambungan tradisi kenabian itu.

 

Pada dua bagian yang mengisahkan pengalaman nabi itu dikisahkan bahwa Hosea menikah dengan seorang wanita sundal 1:2 dst serta 3:1-2. Perempuan yang disebut dalam kedua kisah itu nampaknya bisa juga mempunyai peranan simbolis dalam pewartaan kenabian. Pada kisah yang pertama, 1:2-9 dilukis­kan bagaimana Hosea menerima perintah Yahwe pada awal panggilannya sebagai nabi untuk menikahi seorang wanita sundal. Hal ini sekaligus menjadi isya­rat kepada bangsanya bahwa bangsa itu bersundal terhadap Yahwe. Hubungan Israel dengan Yahwe ditandai ketidaksetiaan. Gomer binti Diblaim yang disebut dalam kisah itu barangkali adalah seorang wanita yang sering melak­ukan sundal-bakti di tempat ziarah Kanaan, yaitu wanita yang biasa diajak melakukan hubungan oleh para imam Kanaan untuk merayakan kesuburan tanah, sesuai dengan adat kebiasaan di situ. Ketiga anak yang dilahirkan oleh Gomer diberi nama yang menggambarkan sikap Yahwe terhadap Israel. Anak pertama, laki-laki diberi nama Yizreel, artinya ‘Allah akan menebarkan’, atau ‘menceraiberaikan’. Kalau nama itu dihubungkan dengan Israel, maka artinya adalah ‘dia yang bergumul melawan Allah’, bdk Kejadian 32:8. Ada sementara penafsir yang menghubungkan nama itu dengan lembah Yizreel yang memberikan kenangan pahit bagi bangsa Israel. Di lembah itu raja Yehu, yakni kakek buyut raja Yerobeam yang memerintah pada masa kegiatan Hosea sebagai nabi ini, menghancurkan dinasti Omri (886-874), dan merebut takhta kerajaan Israel. Dalam 1:4 nama Yizreel dikaitkan dengan keputusan Yahwe menghukum keluarga Yehu karena hutang darah tersebut.

 

Anak Hosea yang kedua, seorang perempuan diberi nama Lo Ruhama, yang berarti ‘tidak disukai’. Dengan demikian juga menjadi isyarat bahwa Israel yang tidak setia itu tidak disukai Yahwe. Sedang anak yang ketiga, laki-laki, diberi nama Lo Ami, yang berarti ‘bukan umatKu’ atau anak jadah. Itu juga sebuah peringatan bahwa Israel tidak lagi menjadi anak Yahwe yang sah. Dengan kata lain, Yahwe tidak lagi menganggap Israel sebagai umatNya.

 

Pada bagian kedua kisah, 3:1-5 dikatakan bahwa Hosea menerima perintah lagi dari Yahwe untuk mencintai perempuan yang berzinah dan bersundal itu. Ini untuk menunjukkan bahwa Yahwe masih mencintai Israel, kendati mereka suka menyeleweng. Memang bisa didiskusikan apakah perempuan yang disebut dalam kisah ini sama dengan yang disebut dalam kisah sebelumnya. Kalau itu sama, maka bisa diandaikan bahwa isteri Hosea itu pernah pergi meninggalkan suaminya dan tidak setia kepada Hosea. Nabi pernah mengalami sendiri apa artinya ditinggalkan isteri yang tidak setia. Dan itu bisa menjadi gambaran bagaimana Allah merasakan ketidaksetiaan Israel. Hosea dipanggil dan diutus untuk mencari isterinya itu, guna menunjukkan kesetiaan tersebut. Hosea menemukan isterinya sebagai perempuan yang sudah diperdagangkan. Ia mau menebus isterinya lima belas syikal dan setengah homer jelai. Itu gambaran harga seorang budak belian pada jaman itu. Ada yang berpendapat bahwa hal itu merupakan sekedar gambaran kenabian. Bagaimana mungkin nabi diperintah Allah untuk mengawini seorang perempuan sundal? Namun tidak cukup alasan utnuk meragukan kehancuran keluarga nabi sebagai pengalaman tragis. Namun nabi mampu mengolah pengalaman tragedi itu untuk memberikan pesan yang lebih subur bagi bangsanya. Membalas ketidaksetiaan dengan ketidaksetiaan hanya menimbulkan dendam. Maka nabi memilih berpihak pada Yahwe yang memba­las ketidaksetiaan dengan kasihsetia yang tulus! Tanpa kisah tentang per­kawinan nabi yang tragis itu kitab Hosea kehilangan kekuatannya yang mence­kam dan mendalam.

 

Kekhasan sosok Hosea sebagai nabi adalah kesediaannya untuk terlihat secara pribadi dan penuh pada keprihatinan Yahwe akan Israel, yang dire­nungkan sampai pada pengalmaan pribadinya sendiri dalam kehidupan keluara. Isterinya yang menyeleweng adalah gambaran dari Israel yang meninggalkan Yahwe dan menyembah Baal. Dilandasi kasihsetia yang hebat Hosea mencari isterinya yang pergi. Inilah gambaran Yahwe yang terus menerus mencari Israel untuk bertobat dan kembali kepadaNya.

 

Tidak diketahui kapan Hosea menyelesaikan tugas kenabiannya. Ada kemung­kinan bahwa ketika Samaria dihancurkan oleh bala tentara Asyur di sekitar tahun 722 seb M nabi terpaksa mengungsi ke kerajaan Selatan. Mungkin juga ia ikut dibuang. Tidak ada keterangan yang sampai pada kita tentang nabi ini sejak masa kehancuran Israel. Yang jelas ialah bahwa ada sekelompok orang yang simpati pada pewartaannya dan mencoba menuangkan kembali dalam bentuk warta nabi.

 

2. Tantangan Jaman.

(Situasi sosial-politik Israel membentuk tokoh nabi).

 

Situasi dan kondisi kehidupan sosial-politik tertentu melatarbelakangi kegiatan nabi dan pewartaannya. Hal ini berlaku juga bagi kitab Hosea. Seperti kita ketahui, setelah Salomo mangkat, kerajaan pecah menjadi dua bagian. Kerajaan Utara (Israel didukung oleh sepuluh suku dengan ibukotanya Samaria. Sedang kerajaan Yehuda di bagian Selatan didukung oleh dua suku. Ibukotanya ialah Yerusalem. Kegiatan nabi Hosea nampaknya dimulai pada saat Kerajaan Utara mengalami akhir pemerintahan raja Yerobeam II (786-746) yang jaya. Masa sesudahnya adalah masa yang suram, menggelisahkan. Situasi seperti itu terbaca dalam pewartaan nabi. Ketika Hosea memberikan nama Yizreel keapda anaknya, hal ini nampaknya dilakukan sebagai warta kenabian melawan keluarga Yehu, 1:4 waktu itu raja Yerobeam II masih bertakhta. Perkawinan dan kelahiran anak-anak Hosea terjadi pada waktu itu, 1:2-9. Maka awal penampilan nabi diperkirakan sekitar tahun 570 sebelum Masehi. Warta kenabian Hosea menunjukkan masa suram kerajaan Utara yang akan segera menimpa umat, yang masih berbangga dan penuh kepercayaan diri itu. Anak Yerobeam yang menggantikan ayahnya sebagai raja yaitu Zakharia (746-745) ternyata dibunuh oleh Salum, yang tidak lama kemudian juga dibunuh oleh Menahem (745-738)

 

Pada tahun 745 sebelum Masehi raja Tiglat-Pilesar (745-727) naik takhta kerajaan Asyur. Ia menggantikan pendahulunya yang tergolong lemah dalam memerintah. Ia berusaha memperkuat pengaruhnya, dan pada tahun 743 menga­rahkan perhatiannya ke arah Barat, yaitu ke wilayah Siria dan Palestina. Berhadapan dengan kekuasaan Asyur, Menahem, raja Israel mengambil keputusan untuk tunduk saja kepada kekuasaan Asyur. Dengan sikap itu raja Menahem harus menghadapi kekuatan kerajaan Mesir yang menjadi salah satu kekuasaan sosial-politik di saat itu. Sikap raja yang demikian ini dilukiskan oleh nabi sebagai merpati yang tolol, 7:11.

 

Ketika Pekahya (738-737) menggantikan kedudukan raja Menahem, timbullah pemberontakan yang dipimpin oleh Pekah bin Remalya. Pekah berhasil membunuh Pekahya, raja yang masih muda yang baru memerintah sekitar dua tahun itu dan merebut takhta kerajaan. Pekah memerintah pada tahun 737-732. Ia kemud­ian berubah sikap yaitu melawan Asyur. sebagai reaksi terhadap sikap raja Pekah ini balatentara Asyur menyerbu Israel sekitar tahun 733, menduduki sebagian wilayah dan membuang sebagian penduduknya. Tinggal daerah pegunun­gan Efraim yang masih aman dan ibukota Samaria masih bisa bertahan. ATas dukungan Asyur, raja Hosea bin Ela membunuh Pekah, merebut takhta kerajaan dan menyatakan tunduk kepada Asyur, Israel kembali menjadi kerajaan bawahan Asyur, bdk. 5:13; 8:9 dst.

 

Pada masa Hosea menjadi raja (737-724) Israel dapat sedikit bernafas lega dan mengalami masa agak tenang. Nubuat Hosea yang terdapat dalam 9-12 kiranya melukiskan situasi dan kondisi kehidupan ini. Namun akhirnya Hosea juga tidak puas menjadi raja bawahan Asyur. Ia meminta bantuan Mesir untuk melawan kerajaan Asyur, 9:3; 11:5; 12:1 dst. Ketika raja Salmaneser V (727-722) menggantikan Tiglat-Pilesar menjadi raja Asyur, raja Hosea dari Israel menarik kesediaannya membayar upeti kepada Asyur. Bab 13-14 menggambarkan akibat buruk perbuatan raja yang mau membebaskan diri dari pengaruh Asyur ini untuk umat Israel. Pada tahun 724 raja Salmaneser menyerbu Israel. Setelah melalui pengepungan dan peperangan yang mencelakakan umat, akhirnya pada tahun 722 ibukota Samaria jatuh. Raja Hosea menjadi tawanan, 13:10. Sebagian penduduk Israel dibuang ke Asyur dan tanahnya menjadi daerah pendudukan Asyur. Kerajaan Utara secara definitif jatuh. Nabi tidak menya­takan apa-apa tentang kejatuhan kerajaan Utara ini, namun masih mengisya­ratkan hancurnya kerajaan itu, 13:6.

 

Keadaan sosio-politik kerajaan memang bukan sasaran bidik pewartaan nabi. Namun demikian, nabi yang terlibat pada kehidupan bangsa, melihat situasi politik dan religius itu sebagai akibat tingkah polah seluruh bangsa. Nabi merasa wajib membaca tanda-tanda jaman untuk menyuarakan pesan imannya.

 

3. Keprihatinan Iman

(Situasi dan kondisi hidup religius: kancah perjuangan nabi)

 

Seperti sudah diisyaratkan di atas, nabi sebetulnya tidak membidik situasi sosio-politik bangsa dalam pewartaannya. Ia tidak berminat pada politik yang cenderung culas dan penuh rekayasa. Ia melihat krisis kehidu­pan politik itu sebagai akibat dari kesadaran religius atau iman Israel yang tercermin dalam tingkah laku atau moral bangsa yang merosot. Israel secara dasariah meninggalkan Allah, raja mereka yang sejati, dan berbuat seperti bangsa-bangsa lain yang tidak mengenal Allah. Israel telah berpal­ing dari Yahwe, dan mengarahkan diri pada Baal yang mereka anggap memberi kesejahteraan dan kesuburan.

 

Kitab Hosea memberikan gambaran situasi kehidupan religius dan moral bangsa ini. Kalau dalam 1 Raja 17-19 dikisahkan perjuangan nabi Elia mela­wan pengaruh Baalisme di kerajaan Utara satu abad sebelumnya, maka kini situasi dan kondisi demikian nampaknya masih berlaku. Hosea tetap berjuang membela Yahwisme. Secara umum, informasi dari Kitab Suci tentang hal ini nampaknya sesuai dengan hasil penemuan penggalian dan rekonstruksi sejarah. Yahwisme di kerajaan Utara memang tidak sekokoh di kerajaan Selatan. Israel sangat dipengaruhi oleh budaya dan praksis religius Kanaan. Sinkretisme, yaitu semangat mencampuradukkan praktik kehidupan beragama, menjadi bahaya yang nyata.

 

Menurut nabi Hosea, umat Israel membaktikan diri mereka pada Baal-Peor, yaitu dewa Baal, setelah mereka mengikat perjanjian dengan Yahwe, 9:10; bdk. Bilangan 25:1-8. Mereka dibawa oleh Yahwe ke tanah yang diberkatiNya, namun umat segera berpaling dari Yahwe kepada dewa-dewi Kanaan, dengan memohon berkat serta pertolongan kepada Baal, 2:7.10-11. Dalam kutipan ini nampak jelas perjuangan nabi melawan praksis beragama Kanaan itu. Baal dianggap sebagai dewa alam dan kesuburan. Sebenarnya Allahlah yang mencip­takan dan berkuasa atas alam semesta. Dialah yang memberi kesejahteraan kepada manusia atau menariknya kembali.

 

Di antara praksis agama Kanaan yang dikritik oleh nabi Hosea adalah upacara kesuburan. Kesiburan itu dianggap sebagai hasil hubungan seks para dewa, khususnya dewa Baal dan dewi Anat. Untuk mewujudkan keyakinan itu sejumlah imam dalam upacara kesuburan menjalankan hubungan seks dengan para wanita-bakti. Hal ini nampaknya merupakan peragaan yang menarik, bahkan mudah ditiru, karena secara naluriah memang gampang. Padahal naluri mesti­nya ditata dan bukan dibiarkan menjadi kendali kehidupan. Hosea menegaskan bahwa upacara demikian tidak membawa hasil: “Dia akan mengejar para keka­sihnya, tetapi tidak akan mencapai mereka; dia akan mencari mereka, tetapi tidak bertemu dengan mereka”, 2:6a. Gambaran tentang seorang wanita yang mengejar kekasihnya kita temukan juga dalam Kidung Agung 3:1-4. Pasangan lelaki dan wanita yang melakukan sundal-bakti supaya panen bisa melimpah dan banyak keturunan, akhirnya menemukan rasa hampa: “Mereka akan makan, tetapi tidak menjadi kenyang, mereka akan bersundal, tetapi tidak menjadi banyak, sebab mereka telah meninggalkan Tuhan untuk berpegang pada sundal”, 4:10.

 

Gomer binti Diblaim yang disebut dalam kitab Hosea tampaknya termasuk dalam kelompok sundal-bakti itu. Dengan demikian Gomer bukan sekedar contoh bagi Israel yang mengikuti penyembahan terhadap Baal, tetapi juga cara hidupnya dengan sundal-bakti itu berarti menista iman dan moral kehidupan. Ia menyeleweng dari suami. Ini menjadi pertanda bagi Israel yang tidak setia kepada Yahwe dan memilih jalan sendiri seperti bangsa-bangsa lain. Nabi menyampaikan pesan lewat pengalaman tragis penyelewengan isteri itu untuk menyadarkan bagaimana moral bangsa harus dibangun. Bukan dengan membalas dendam, melacurkan diri, melainkan dengan memperjuangkan kasih-setia!.

 

4. Gaya dan Warna Pewartaan Nabi

 

4.1. Gaya

 

Selain kedua bagian kisah, yaitu 1:2-9 dan 3:1-5 yang menampil­kan gaya pewartaan nabi dengan menggunakan simbolik tragedi maupun pembangunan hiudp keluarga, Kitab Hosea menampilkan sejumlah nu­buat. Nubuat itu ditandai oleh gaya bicara langsung di hadapan pendengar. Teks kitab Hosea yang asli memang sulit dibaca diband­ingkan dengan teks kenabian yang lain. Pada beberapa bagian orang harus puas dengan pengolahan yang dibuat oleh terjemahan bahasa Ibrani yang disebut teks Masorete. Sifat teks itu ialah sebuah saduran. Memang belum tentu kesulitan membaca itu hanya dikarenakan oleh kesulitan teks. Hosea adalah nabi dari Utara. Maka mempunyai budaya dan bahasa yang khas. Pengetahuan orang lain terhadap kekha­san budaya dan bahasa itu terbatas. Oleh karena itu kita perlu mempertimbangkan teks manakah yang sebaiknya kita baca untuk men­genali jiwa dan semangat kenabian Hosea ini.

 

Kita harus mengakui bahwa kitab Hosea tidak lepas dari pengola­han dan tafsiran penyusun di kemudian hari, meskipun tetap nampak gaya khas pewartaan Hosea. Hosea menganggap nabi sebagai jurubicara Allah, 6:5. Ia berbicara sebagai orang pertama tunggal yang menyam­paikan firman Allah: 2:2-14 4:1-14; 5:10-15. Kadangkala ia berbica­ra sebagai orang ketiga 4:6; 5:3-7; 9:1-9.13-14; 12:2-6. Namun demikian kesan yang paling menonjol adalah bahwa Hosea menempatkan Allah sendiri sebagai yang berfirman. Ia sungguh secara pribadi dan penuh keyakinan berbicara sebagai jurubicara Allah. Kebanyakan dari pewartaannya bercirikan pengadilan/pernilaian, sebuah campuran antara mencela dan memaklumkan hukuman 4:1-3; 5:1-2.10; 13:4-8. Ia menggunakan ungkapan yang mengingatkan kita akan model gugatan yang biasa dipakai dalam dunia pengadilan di pintu gerbang kota atau banjar/balai desa. Model pertikaian misalnya 2:2; 4:1.4; 12:3. Kadangkala ia memakai rumusan liturgi-kenabian dalam pewartaannya, 5:15-6:6; 14:1-8 di mana ia mewartakan jawaban Allah pada umat yang menyatakan tobatnya, 6:4-6 dalam bentuk negatif; sedang 14:1-6 dalam bentuk positif. Bentuk nubuat keselamatan ditemukan dalam 1:10-11 dan 2:16-23. Bentuk demikian bisa digunakan oleh nabi dalam suasana liturgi untuk menanggapi keluh kesah umat. Beberapa kali Hosea mengutip kata-kata bijak yang rupanya dikenal oleh kalangan umat waktu itu, untuk memperkuat alur pemikiran dan pewartaannya, 4:11.14b; 8:7.

 

4.2. Warna Pewartaan Nabi

Dari cara pewartaan demikian itu nampaklah kedekatan batin dan perasaan nabi dengan Allah yang diwartakannya. Hosea menampilkan secara tuntas peranan nabi sebagai ‘pathos Allah’. Pewartaannya menampilkan suatu pergulatan emosional dari benci ke cinta, dari kesedihan ke kemarahan, dari menghukum ke mengampuni. Sungguh suatu perjuangan yang amat pribadi.

 

4.2.1. Alur Pemikiran

 

Alur pemikiran nabi sangat menegaskan warna pengalaman akan Allah sebagai Allah yang mengasihi bangsa Israel. Ada dua hal yang terkait di dalamnya: pertama Allah sebagai Allah Israel; kedua adalah Israel sebagai bangsa yang dipi­lih dan dikasihi Allah. Dua hal itu merupakan jalinan halus dan peka yang sulit dipisahkan. Yahwe dikenal oleh Israel dalam karya keselamatanNya dan kehendak baikNya bagi mereka. Di lain pihak Israel ditempatkan dalam konteks pengalaman mereka akan karya Allah dan pengenalan mereka akan perintah-perintahNya. Sejarah keselamatan yang menampilkan hubungan Yahwe dengan Israel menjadi semacam kerangka acuan dalam pewartaan imandan moral. Berbeda dengan Amos, Yesaya dan Yeremia, ia tidak mempunyai nubuat tentang bangsa-bangsa asing. Asyur dan Mesir memang disebut oleh Hosea, namun kedua bangsa itu digunakan dalam pewartaannya sejauh berkai­tan dengan hubungan Yahwe dan Israel.

 

Allah yang berbicara melalui Hosea disebut dengan nama Yahwe. Nama itu merupakan nama perwahyuan Allah Israel yang dipahami oleh Musa dalam perutusannya membebaskan bangsa dari perbudakan Mesir, Keluaran 3:14. Yahwe diakui peranan­nya pada saat Israel ada dalam perbudakan; di sana ia memi­lih mereka, Hosea 11:1, membebaskan mereka dari tangan Firaun sehingga bagi Israel Yahwe dikenal sebagai satu-satunya Allah dan penyelamat, 13:4. Di padang gurun, Yahwe memberi makan Israel dan mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka, 13:5; 11:3-4; 9:10. Israel berhasil tinggal di Kanaan berkat pertolongan Yahwe. Dalam kitab Hosea, periode masuknya Israel ke tanah Kanaan menyusul periode padang gurun, 11:2; 13:6. TAnah yang menjadi bagian kehidupan bangsa itu adalah anugerah Allah, milik Yahwe, 9:3, sehingga disebut ‘rumah Yahwe 9:4.8; 8:1. Bangsa Israel tinggal di Kanaan sebagai penyewa. Anggur, gandum serta minyak yang mereka nikmati adalah kurnia Yahwe, 2:7-8 bdk. 10:11; 11:2; 13:6. Hosea tidak menyebut sama sekali peristiwa Sinai, tetapi ia berbicara secara jelas dan tegas tentang hubungan perjanjian dengan Yahwe 6:7; 8:1. Perjanjian tersebut mengi­kat Israel untuk menaati perintah Yahwe, 8:1 serta peratu­ran-peraturan seperti termuat dalam kitab hukum, 8:13.

 

4.2.2. Setia Pada Tradisi Leluhur.

 

Hosea adalah tokoh yang menjunjung tinggi Tradisi lelu­hur. Namun tidak sepantasnya ia disebut seorang tradisiona­lis. Dalam alur pemikirannya ada hal-hal yang tradisional, tetapi juga kontemporer, kuno dan modern. Ia merupakan sosok yang kreatif mengolah tradisi leluhur, agar menjadi sapaan yang mampu menyentuh pendengar pada jamannya. Wartanya relevan untuk pendengarnya. Bahkan ada kalanya ia menyampai­kan warta tradisional itu secara provokatif sehingga menyen­tak orang-orang sejaman. Paling sedikit ada tiga hal yang menunjukkan kreatifitas nabi ini. Pertama adalah reaksinya atas bentuk-bentuk ibadah kesuburan agama Kanaan. Ia peka terhadap Tradisi bangsa dan dengan caranya ia menyampaikan kritik terhadap usaha mencari ibadah yang mudah dan mengelus nafsu. Kedua, kebebasannya merumuskan kembali keyakinan dan pemikiran iman secara metaforis, simbolis untuk mendukung pewartaan imannya. Ketiga, kemampuan dan kejeliannya membaca pengalaman sejarah dan mengartikannya bagi kehidupan iman bangsa. Ketiga hal itu dikombinasikan dalam nubuat-nubuatnya untuk menciptakan pesan kenabian secara dramatis, penuh warna dan mendesak, sehingga warta itu mampu mempengaruhi pikiran, perasaan dan emosi pendengar. Hal ini perlu dije­laskan sedikit:

 

1. Sejak Hosea 1 sampai penutupnya pada bab 14, peringatan nabi pada ibadat mitologi tentang Baal merupakan salah satu tema sentral. Melalui Hosea, Yahwe ingin membebaskan Israel dari penyembahan dewa asing serta kebiasaan yang dipengaruhi oleh ibadat Kanaan itu. Dengan kata lain Hosea ingin membebaskan Israel dari sinkretisme. Namun demikian Hosea juga memakai situasi sinkretistis terse­but, khususnya upacara mohon kesuburan dengan sundal bakti itu untuk merenungkan kembali hubungan emosionil dan iman Israel dengan bangsa yang dipilihNya. Ia menolak paham Baalisme dengan menggunakan bahasa dan keyakinan agama Kanaan. Dari lain pihak ia menggunakan pengalaman ibadah itu untuk memperdalam hubungan bangsa Israel dengan Yahwe dalam konteks perjanjian sebagaimana diajar­kan oleh Tradisi.

2. Hosea menggunakan banyak kiasan dan perbandingan dalam usahanya untuk menegaskan dimensi pemikiran iman dalam nubuat-nubuatnya. Dengan cara itu pula Hosea mencoba memperlihatkan mutu hubungan Allah dengan Israel. Kesan yang amat kuat dan yang rupanya mempengaruhi renungan iman sampai ke Perjanjian Baru ialah gambaran Yahwe sebagai suami dan Israel sebagai isteri sebagaimana diungkapkan dalam 2:2-22 dan bab 1 serta 3. Sebenarnya Yahwisme menghindari kiasan dengan nada seksual itu untuk melukiskan hubungan Yahwe dengan Israel. Hal ini disebab­kan oleh mitologi kultus kesuburan yang lazim dalam tradisi Kanaan. Dalam tradisi itu orang Kanaan menganggap Baal sebagai pemilik alam semesta dan suami bumi. Kehidu­pan seksual Baal mempengaruhi kesuburan bumi. Namun nampaknya Hosea memanfaatkan mitologi tersebut untuk menegaskan peranan Yahwe bagi Israel. Penegasan yang rupanya harus melibatkan pula pengalaman hidup perkawinan nabi sendiri. Di tangan Hosea mitologi tentang perkawinan ilahi itu menjadi alegori atau kiasan hubungan Yahwe dengan Israel. Kiasan yang berbau magis dan kultis dari agama Kanaan diubah sedemikian rupa olehnya sehingga menekankan warna moral perjanjian yang mendalam. Hubungan perjanjian Allah dengan Israel mestinya tercermin dalam perilaku kehidupan manusia yang merumuskan perjanjian kasih itu.

Maka Hosea menggambarkan dewa-dewi yang disembah di tempat-tempat ibadah Kanaan itu sebagai kekasih gelap dari Israel. Tempat-tempat jiarah itu dipadati umat Israel demi meminta berkah kesuburan panen anggur, gandum dan minyak, 2:5.6.10. Persundalan dipakai untuk menggam­barkan ketidaksetiaan Israel terhadap Yahwe yang telah memberikan segala kebutuhan bangsa dalam perjalanan hidup mereka. Hukuman Yahwe terhadap Israel dilukiskan sebagai usaha seorang suami untuk memperbaiki perilaku isterinya, 2:6-14.16, namun tindakan itu akhirnya diselesaikan dalam rekonsiliasi, 2:15.19. Periode keluaran oleh Hosea digam­barkan sebagai periode ketika Yahwe berperan bagaikan seorang ayah yang membimbing anaknya belajar berjalan, 11:1-2. Dalam usaha itu Yahwe digambarkan sebagai penyem­buh, 14:4; 7:1; 11:3 dan gembala 13:5 dst. Dalam mengadi­li Yahwe dilukiskan sebagai seorang pemburu, 7:12 seperti binatang buas, 5:14; 13:7-8, seperti ngengat dan bela­tung, 5:12. Sebagai penyelamat Yahwe dilukiskan sebagai embun, 14:6, dan tanaman berbuah, 14:8. Sedang Yahwe memandang Israel sebagai kawanan ternak, 13:5-8, anak lembu, 10:11, pohon anggur, 10:1, buah-buah anggur dan buah sulung dari pohon ara, 9:10. Dalam situasi berdoa dan menderita Israel digambarkan sebagai seorang sakit, 5:11, merpati tolol, 7:11-12; lembu degil, 4:16, anak yang lahir belum waktunya, 13:13, roti bundar yang tidak dibalik alias gosong, 7:8, kabut pagi, 6:4, embun, debu 13:3. Israel yang dipulihkan digambarkan sebagai pohon yang subur lebat di Libanon, 14:5-7. Kiasan tentang dunia tumbuh-tumbuhan pada kitab Hosea amat beragam dan gaya imaginasi. Hal ini sesuai dengan dunia Kanaan dengan upacara mohon kesuburan. Meskipun Hosea secara tidak langsung menegaskan pula bahwa kesuburan bumi adalah anugerah Allah, namun tema pook yang dikatakannya adalah seruan agar Israel setia kepada Yahwe yang telah menye­lenggarakan hidup bangsa dan mengaruniai mereka dengan berkah yang melimpah.

3. Hosea menggunakan pengalaman sejarah israel sebagai bahan pewartaannya. Periode sejarah Israel sebagai sejarah bangsa menjadi sejarah keselamatan yang dikerjakan Allah bagi bangsa tersebut. Periode sejarah itu dibagikan dalam beberapa periode, yaitu periode keluaran, periode padang gurun, dan periode pendudukan tanah terjanji, yakni Kanaan 2:14-15; 9:10; 11:1; 13:4-5. Pada masa itu Yahwe sungguh menjadi subyek sejarah keselamatan, Israel seba­gai bangsa yang dibentuk dan dibimbing Allah. Israel mendapatkan jatidirinya sebagai bangsa yang dipilih Allah justru berkat hubungan mereka dengan Allah dalam sejarah tersebut. Dengan latar belakang sejarah demikian Hosea memandang sinkretisme Israel sebagai perlakuan zinah terhadap Allah atau ketidaksetiaan bangsa terhadap kasih setia Allah yang nampak dalam sejarah tersebut. Israel tidak setia karena mengingkari perjanjian mereka dengan Allah dan menolak perintah serta ketetapanNya. Namun demikian ketidaksetiaan Israel itu bukanlah hal baru, karena sejak masuk tanah Kanaan Israel telah berulangkali melanggar perjanjian. mereka menumpuk dosa demi dosa sampai akhirnya merasuk sampai ke watak mereka, 7:1-2; 4:12. Sekarang mereka seperti telah terpenjara oleh dosa mereka, yang semakin menjadi penghalang untuk berbalik kepada Allah, 5:4. Ketidaksetiaan ini telah sampai pada dimensi di mana Yahwe harus mengatakan bahwa Israel adalah ‘Lo Ami’, bukan umatKu, 1:9.

Di mata Hosea Israel telah gagal mengintegrasikan iman mereka pada Yahwe ke dalam kehidupan berbangsa dan bernega­ra. Di satu pihak mereka telah memasukkan unsur-unsur agama asing – seperti ibadah kesuburan Kanaan – di lain pihak mereka terpaksa tunduk kepada kekuasaan bangsa lain, yakni Asyur dan Mesir. Pada masa Yerobeam, sinkretisme mencapai puncaknya, karena penyembahan dan pengenalan akan Allah telah di-kanaan-isasikan, sebagai hidup kita sekarang di-amerika-nisasikan! Mereka melupakan tradisi luhur bangsa dalam praktik kehidupan meskipun dalam teori mereka masih merasa sebagai bangsa beriman. Dalam praktik itu Baal menja­di dewa kesuburan, disembah dan dianggap sebagai pemberi kesejahteraan bagi bangsa di tempat-tempat jiarah, 2:12; 9:10; 11:2; 13:1. Terhadap kedurhakaan ini para imam ikut bertanggungjawab. mereka yang seharusnya membantu Israel mengenal Yahwe justru melakukan dosa yang kian menggerogoti iman umat, 4:1-10; 6:4.9.

 

4.2.3. Warna Kehidupan Sosial (Kehidupan Masyarakat)

 

Kehidupan masyarakat terutama kehidupan para pemimpin bangsa menjadi salah satu tema pewartaan nabi. Para penguasa merupakan obyek seruan Hosea. Mereka ikut bertanggungjawab pula atas sikap umat yang meninggalkan Yahwe, berperilaku sekular, meninggalkan Yahwe. Hutang darah di Jizreel ditim­pakan pada Yeroboam II, 1:4. Para penggantinya merebut kekuasaan dengan pertumpahan darah cara-cara politik yang culas dan kotor, 7:3-7. Mereka begitu percaya pada kekuatan militer dan melupakan peranan Yahwe yang berbudaya, 8:14; 10:13. Ketika mengalami krisis mereka tidak lari kepada Yahwe, melainkan minta bantuan Asyur atau Mesir, 5:13; 7:8-11; 8:8-9; 14:3-4. Raja tentu saja juga menjadi obyek murka Allah, 13:11 karena dialah yang mestinya mengejawantahkan penyelenggaraan kasih Allah yang berbudaya itu. Pendekatan budaya dalam kehidupan masyarakat diabaikan sedang semangat sekular diberi kesempatan luas.

 

Sebenarnya Hosea tidak merasa tertarik untuk membicarakan politik. Kekacauan kehidupan politik pada jamannya dan ambisi para penguasa untuk tetap menduduki takhta rakyat dilihat nabi sebagai unsur-unsur yang mendorong umat beriman menjauh dari Allah. Rasa tegang karena pembunuhan raja-raja sesudah kematian Yeroboeam II dan ketidakadilan yang meraja­lela menjadikan umat ‘mencari Allah lain’ dalam ibadah kesuburan Kanaan.

 

4.2.4. Masa Depan Yang Suram (Kehancuran Israel).

 

Sejumlah nubuat kehancuran Israel dikatakan oleh Hosea. Kekayaan tanah Israel yang mereka anggap datang dari Baal akan dimusnahkan oleh Allah yang menciptakan tanah dan menganugerahkan kepada bangsa untuk ditata dan direksa, 2:9-13. Penduduk akan menjadi mandul, 4:3.10; 8:7; 9:2.11-4:6. Ketika kekuasaan Asyur semakin menekan Israel, Hosea berbi­cara tentang penderitaan, kekalahan perang yang memalukan, kehancuran nasional 7:16; 8:3.13-14; 10:6-10.14; 11:6; 13:15-14:1. Setiap strategi politik akan gagal, usaha hubun­gan dengan negara lain menjadi sia-sia, raja dan para pang­eran akan ikut hancur. Rakyat akhirnya akan dibawa ke pem­buangan, 9:3.6.15.17; 11:5. Segala macam bencana itu adalah akibat ketidaksetiaan Israel terhadap nilai-nilai luhur yang diwahyukan Yahwe kepada mereka. Ibaratnya, mereka menuai hasil perbuatan mereka, 8:7. Hosea menyebut juga nubuat bahwa akhirnya Israel akan berseru kepada Yahwe dan mencari­Nya, kendati saat itu Yahwe membiarkan mereka mengikuti jalan sendiri, 5:6.15. Israel perlu mengalami kehancuran itu untuk menemukan kembali jati dirinya yang sesungguhnya.

 

Hukuman Yahwe atas Israel tersebut dipandang oleh nabi sebagai pedagogi yaitu cara mengingatkan dan mendidik Is­rael, 5:2.9; 10:10. Pendidikan tersebut tetap disertai oleh belaskasih dan harapan akan kembalinya Israel kepada Yahwe. Dalam Hosea 11:8 dan 13:14 digambarkan dengan amat manusiawi bagaimana dalam diri Yahwe ada pergumulan batin antara marah dan kasih terhadap bangsaNya.

 

4.2.5. Arah Pertobatan (Pastoral)

 

Kembalinya Israel kepada Yahwe adalah tujuan pewartaan Hosea. Akhirnya Yahwe sendirilah yang akan membawa kembali Israel, memulihkan kembali hubungan baik sebagai suami isteri serta mengembalikan kesejahteraan mereka, 2:16-23. Pada hari-hari terakhir Israel yang tragis Hosea mengajarkan Israel suatu doa sebagai ungkapan penyesalan dan tobat yang mendalam kepada Yahwe, 14:3-4 yang tidak pernah mengingkari janjiNya sebagai Penyelamat, 14:5-8.

 

Kegiatan Hosea sebagai nabi dilaksanakan menjelang jatuh­nya kerajaan Utara pada tahun 722 sebelum Masehi. Rupanya ingatan akan pewartaannya dibawa ke Yudea oleh para pengagum dan murid-muridnya, kemudian ditulis di sana. Warna karya tulis penulis Yudea ini nampak dalam beberapa bagian kitab. Meskipun demikian penyusun kitab Hosea ini nampaknya setia pada bahan-bahan yang disusun oleh nabi dan kelompoknya sewaktu nabi masih berkarya di Utara. para penulis itu nampaknya didukung oleh para simpatisan nabi Hosea dan menyadari pentingnya misi pewartaan yang disampaikan nabi kepada umatnya. Judul kitab ini nampaknya berasal dari penulis lingkungan Deuteronomis pada jaman pembuangan yang kemudian merumuskan kembali seluruh warta kenabian ini.

 

5. Susunan Kitab

 

Sebaiknya dilihat garis besar warta kenabian Hosea ini lewat alur pemik­iran atau susunan kitab. meskipun susunan itu tidak harus dimengerti secara kaku dan mati, namun susunan demikian akan membantu orang memahami benang merah pemikiran dan arahnya. Nampaknya kitab Hosea diwarnai tiga pemikiran dasar berikut: perkawinan yang tragis, Hosea 1-3; tuduhan dan pewartaan hukuman atas Israel yang berzinah 4:1-9.9 dan akhirnya dosa dan sejarah bangsa, 9:10-14:1, lalu kumpulan nubuat nabi ditutup dengan sebuah wasana kata, 14:2-9. Kalau dilihat secara rinci skematis dengan memperhatikan beberapa unsur yang dibicarakan di dalamnya, mungkin alur pemikiran itu bisa digariskan demikian:

Judul: Firman Tuhan datang kepada Hosea 1:1

 

1. Perkawinan yang tragis 1:2-3:5

1.1. Anak-anak sebagai lembang tragedi dan harapan 1:2-10

1.2. Tuduhan terhadap isteri yang tidak setia 2:1-12

1.3. Rekonsiliasi 2:13-22

1.4. Nabi dan isterinya sebagai lambang 3:1-5

 

2. Tuduhan dan pewartaan hukuman atas Israel 4:1-9.9

2.1. Tuduhan Yahwe terhadap Israel 4:1-3

2.2. Tuduhan terhadap para pemimpin 4:4-5:7

2.3. Israel mencari pertolongan yang sia-sia 5:7-14

2.4. Pertobatan yang palsu 5:15-7:2

2.5. Merosotnya wibawa raja 7:3-12

2.6. Keluhan atas kedurhakaan Israel 7:13-16

2.7. Dosa bangsa dalam bidang politik dan ibadah 8:1-14

2.8. Masa pembuangan tanpa upacara dan kebaktian 9:1-6

2.9. Penolakan terhadap kehadiran nabi 9:7-9

 

3. Dosa dan sejarah Israel 9:10-14:1

3.1. Dosa dan akibatnya 9:10-17

3.2. Hukuman atas ketidaktaatan kepada Allah 10:1-8

3.3. Kekecewaan Yahwe terhadap Efraim 10:9-15

3.4. Kasih mengatasi kedegilan 11:1-11

3.5. Kedurhakaan Israel 12:1-15

3.6. Hukuman mati 13:1-14:1

 

4. Wasana kata dan penutup 14:2-10

4.1. Pertobatan dan keselamatan 14:2-9

4.2. Penutup 14:10

 

 

6. Pokok Pemikiran Hosea

 

6.1. Hubungan Yahwe dengan Israel

 

Berpangkal pada pengalaman nabi mencintai seorang wanita yang tidak setia, Hosea semakin bisa menghayati pribadi Allah yang penuh belaskasih, lambat akan murka dan penuh ampun terhadap kedurhakaan dan dosa umat dari generasi ke generasi, bandingkan Keluaran 34:6-7. Di dalam diri manusia dan juga Allah ada dinamika cinta-cemburu, penyerahan diri tanpa pamrih, pembalasan dan pengampunan. Allah telah mengambil Israel sebagai isteri dan akan setia kepadanya, 2:13-22. Keputusan Yahwe untuk memanggil kembali Israel dengan cara memberikan hukuman adalah bukti cintaNya, buah belaskasih ilahi, yang dianugerahkan bukan atas jasa-jasa bangsa yang pantas dika­sihi, melainkan semata-mata anugerah. Yahwe dengan demikian menya­takan kasih setiaNya yang luar biasa. Keadilan bagi Yahwe adalah keadilan penuh kasih yang sanggup mengampuni dan memulihkan hubun­gan. Periode keluaran adalah periode jayanya hubungan kasih Yahwe dengan Israel ini, 2:17; 11:1; 13:4. Nabi Hosea menemukan hakikat cintakasih ilahi ini bukan dalam mitologi Kanaan tentang perkawinan suci melainkan dalam kasihsetia Yahwe yang penuh kepahlawanan ketika membela Israel sebagai kekasih, kendati Israel tidak setia. Heroisme kasih Yahwe inilah yang menjadi gagasan sentral dalam pemikiran nabi. Allah baginya bukan dewa-dewi naluri sebagaimana ditemukan dalam praktik Kanaan, melainkan sebagai pejuang kuat yang menyatakan diri kepada Musa dan telah mewahyukan diriNya dalam sejarah keselamatan umatNya pada masa keluaran dari tanah perbuda­kan Mesir, 12:10; 13:4.

 

6.2. Ketidaksetiaan Israel pada Cinta Kasih Yahwe

 

Setelah lewat masa bulan madu – sebagaimana digambarkan pada periode padang gurun – mulailah bangsa Israel masuk tanah terjanji, yakni TAnah kanaan 2:10; 9:10; 10:11-12; 11:11-13; 13:5-7. Periode ini ternyata diwarnai oleh ktidaksetiaan yang luarbiasa. Bangsa itu melakukan kejahatan, 7:1-3.15; 9:15; 10:15, kefasikan dan kecuran­gan 10:13, bermacam-macam dosa dibuat mereka 4:8; 5:5; 7:1; 8:13; 9:7.9; 10:10; 12:9; 13:12; 14:2, penipuan dan kebohongan 7:11; 12:1.8, pemberontakan 7:13; 8:1; 14:1.10, meninggalkan Yahwe 4:10, tidak mengenali Yahwe dan karya cintakasihNya, 5:4; 8:14; 11:3, mengikuti kekasih lain, 2:6.12, tanpa hati dan pengertian, 7:11; 4:11.14. Semua dosa dan kejahatan itu melanggar hukum yang telah tertulis, 8:12. Mungkin yang dimaksudkan di sini adalah dasa firman (dekalog) yang menjadi prasasti perjanjian Israel dengan Allah, bandingkan 4:2.

 

Mereka telah melawan kebaktian sejati yang didasarkan pada belaskasih dan pengenalan akan Allah, 6:6 dan menggantikannya dengan upacara meriah, formalistis dan dicemari dengan sundal bakti, 4:13. Mereka membangun berhala-berhala, 8:4-6; 13:2. Baal­isme telah merasuk dan merusak jatidiri bangsa dan dengan demikian mencemarkan Yahwe. Ketidaksetiaan Israel dilakukan bukan hanya oleh rakyat melainkan juga oleh para imam dan para pejabat masyarkat.

 

6.3. Yahwe yang cemburu

 

Yahwe sebagai ‘suami’ Israel menakut-nakuti bangsa dengan pembalasan tragedi Jizreel dan cinta yang dikecewakan. ia akan menghancurkan altar-altar mereka, meruntuhkan tugu-tugu berhala mereka, 10:2.9; 12:12, meremukkan anak lembu Samaria 8:6 yang menjadi lambang di tempat ziarah dan di bukit-bukit pengorbanan mereka akan tumbuh semak duri dan rumput duri, 10:8. Bangsa asing akan berkumpul melawan Samaria 10:10 dan Samaria akan dihancurkan 10:7, kubu-kubu pertahanan mereka akan hancur, 10:14, raja mereka akan menjadi sepotong ranting yang terapung di air, 10:7. Begitulah digambarkan penghukuman Allah terhadap israel. Penduduk akan dima­kan pedang, 11:6 dan bayi-bayi serta wanita mengandung akan ikut menjadi kurban, 14:1. Suatu tragedi besar akan dialami bangsa. Mengapa? Karena mereka lebih percaya pada upaya politik sekular. Mereka lebih suka memanggil Mesir dan pergi minta bantuan Asyur, 7:11. Maka Efraim harus kembali ke Mesir ke tempat mereka pernah diperbudak dan dibebaskan Yahwe 9:3; 11:1. Di Asyur mereka akan makan makanan najis 9:3, dan ke sana mereka akan dibuang bersama dengan lembu pujaan mereka. Efraim akan menjadi olok-olok di Mesir 7:16 dan menanggung malu di Asyur 10:6.

 

Gambaran kehancuran Israel amat jelas diungkapkan berkat ‘kecemburuan’ Yahwe terhadap bangsa yang disayangi itu. Oleh Hosea kehancuran itu dianggap sebagai hukuman Yahwe yang memang harus mendidik Israel sebagai bangsa yang dipilih, sebagai isteri yang tidak setia.

 

6.4. Kembalinya Harmoni Cintakasih.

 

Hukuman Yahwe tersebut dimaksudkan sebagai jalan pendidikan. Bukan sekedar pembetulan (koreksi) atau bahkan menghajar (positif) melainkan sungguh mendidik (edukatif), agar Israel menemukan kemba­li jatidiri mereka sebagai bangsa yang disayangi Yahwe. Israel perlu kembali kepada Yahwe. Kata kerja ‘sub’ yang artinya berbalik atau putar halauan begitu sering digunakan dalam pewartaan Hosea 2:9; 3:5; 5:4; 6:1; 7:10; 12:7; 14:2.3. Kendati menghukum Yahwe ternyata tetap mencintai Israel dan menginginkannya kembali kepada­Nya. Yahwe tetap setia pada perjanjianNya. Kekuatan cinta dan kesetiaan Yahwe itu akan membuat Israel melupakan Baal, meninggal­kan sinkretisme dan mengenal Yahwe sebagai satu-satunya ‘suami’ dan Allah, 2:15-16. Yahwe akan membaharui perjanjian mereka dengan alam semesta, 2:17 dan menjadikan Israel sebagai isteriNya untuk selama-lamanya dalam keadilan, kebenaran, kasihsetia dan kasihsayang, 2:18.

 

Dengan demikian nama Yizreel tidak lagi mengacu pada hutang darah Yehu, melainkan mengacu pada kehendak Allah menaburkan kesu­buran di bumi pada Israel. Lo Ruhama akan menjadi Ruhama, yaitu yang disayangi dan Lo Ami akan menjadi Ami, yakni umatKu. Sedang Israel akan menyebut Yahwe: Allahku, 2:22. Keharmonisan hubungan suami isteri akan tercipta lagi. Sebagai nabi, Hosea mewartakan cinta Yahwe yang dikhianati, kecemburuan ilahi dan pengampunan, pengharapan bahwa Allah akan melupakan pengkhianatan umatNya sebab Dia adalah pengasih dan penyayang, panjang sabar dan penuh belaska­sih, Mazmur 103:8.

 

 

7. Evangelisasi Dalam Masyarakat.

 

Evangelisasi berarti proses pembaharuan berdasarkan warta gembira. Proses itu dilaksanakan dalam masyarakat. Bagaimana hal ini dipahami?

 

Kisah Para rasul menggambarkan kehidupan jemaat perdana dengan kata-kata sederhana tetapi sangat menarik: “Orang-orang yang menerima perkataan itu (maksudnya pewartaan Petrus, Kisah 2:38 dst) memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Dan mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa”, Kisah 2:41-42. Gambaran singkat itu menunjukkan gerakan hidup baru yang didasari pada pewartaan kabar gembira Petrus. Kabar gembira itu ialah bahwa Allah mengindahkan manusia sekarang ini dalam diri Yesus Kristus, PuteraNya yang telah wafat dan dibangkitkan dalam kemuliaan. Dengan demikian orang percaya (beriman) mendapatkan arah baru dan kesempatan luas bagi pengembangan hidup mereka.

 

Ciri gerakan itu disebutkan: pertama, pendalaman ajaran rasuli; kedua, membangun persekutuan; ketiga, berkumpul untuk memecahkan roti; dan akhir­nya keempat, berdoa bersama. Sebagai gerakan hiduip baru mereka itu mengaw­ali perjuangan mereka dengan tanda baptis. Hal ini ditegaskan dalam Kisah 2:44-47. Cukup menarik keterangan pada akhir kutipan itu. Di situ disebut­kan bahwa gerakan hidup baru itu ternyata disukai (menjadi kesayangan) semua orang!

 

Gerakan hidup baru seperti itulah yang kemudian dibangun oleh St. Paulus di berbagai daerah: Tesalonika, Filipi, Kolose, Korintus dan daerah Gala­tia. Jemaat hidup baru itu mendasarkan gerakannya pada keprihatinan Yesus Kristus menjadi hidup bersama ini sebagai tanda kasih karunia Allah yang istimewa. Gerakan seperti itu memang tidak selalu mulus jalannya. Bisa dilihat misalnya, bagaimana jemaat Korintus bergolak; bagaimana jemaat Galatia menimbulkan kesulitan. Tetapi lambat laun gerakan itu membentuk gaya hidup dan nilai-nilai kehidupan bersama yang mempengaruhi seluruh kondisi dan situasi masyarakat. Gerekan seperti itulah yang membangun masyarakat baru. Injil lalu menjadi landasan pembangunan masyarakat baru.

 

7.1. Situasi Jemaat Beriman Menuntut Pembaharuan

 

Ketika Konsili Vatikan Pertama merumuskan keputusan-keputusan­nya, ternyata jarang digunakan istilah ‘kabar gembira’ (Injil=Evangelium). Apalagi istilah penginjilan (evangelisasi). Tetapi Konsili Vatikan Kedua ternyata membangun wawasan hidup iman secara lain. Istilah Injil digunakan kerap kali; istilah mewarta­kan injil (evangelizare) digunakan paling sedikit 18 kali; sedang akata pewartaan injil (evangelizatio) paling sedikit 31 kali. Memang bukan banyaknya istilah yang menunjukkan pentingnya gaga­san. Tetapi kehadiran istilah itu jelas menunjukkan wawasan lain dari Konsili Vatikan Pertama.

 

Setelah Konsili Vatikan II berakhir, Paus Paulus VI yang meng­gantikan Paus Yohanes XXIII menaruh perhatian besar pada pewartaan kabar gembira guna membangun kehidupan bersama ini. Namanya sudah menunjuk (Nomen est omen) pewarta kabar gembira besar dalam kehid­upan iman Kristen. Kemudian ketika mengadakan sinode tahun 1974 tema yang dipilihnya ialah “Evangelisasi Dunia Modern”. Jemaat beriman tidak boleh hanya memperhatikan kepentingan sendiri saja, melainkan perlu memperhatikan kepentingan seluruh dunia. Kemudian dalam ensikliknya yang terkenal Evangelium Nuntiandi (1975), ditegaskan olehnya bahwa evangelisasi atau penginjilan sesungguh­nya merupakan rahmat dan menjadi panggilan khas seluruh jemaat beriman. Di situlah menjadi nampak jatidirinya yang mendalam. Jatidiri jemaat ialah dikumpulkan oleh sabda untuk mewartakan dan mengajar, menjadi sarana dan tanda anugerah Allah. Paus Yohanes Paulus II ternyata juga meneruskan wawasan ini dan menandaskan bahwa perutusan mewartakan Injil bagi jemaat beriman berarti memperjuangkan keadilan dan perkembangan hidup manusia. Pada tahun 1983 di Haiti Paus Yohanes Paulus II berbicara tentang evangelisa­si baru dalam hubungan dengan diadakannya peringatan 500 tahun evangelisasi di Amerika Latin pada tahun 1982 yang lalu. Ditegas­kan bahwa penginjilan yang pertama itu sudah memberikan warna, jatidir dan budaya Amerika Latin, namun kini berhadapan dengan semangat jaman, sekularisme, korupsi dan kemiskinan yang parah, penindasan dan perampasan sesama manusia, ada kebutuhan bagi jemaat beriman membangun gerakan hidup baru berdasarkan Injil. Inilah yang dimaksudkan dengan evangelisasi baru, yakni baru semangatnya, metodenya dan ungkapannya. Sejak saat itu Paus Yo­hanes Paulus dalam amanat-amanatnya mengembangkan wawasan tersebut untuk kepentingan abad mendatang, tahun 2000. Pada tahun 1990 ada dua dokumen besar yang mengungkapkan keprihatinan bapa Paus ini. Dokumen yang pertama untuk kaum religius di Amerika Latin. Di situ Paus mengundang kaum religius dewasa ini untuk melanjutkan dan mengembangkan kebesaran hati dan keterlibatan mereka atas gerakan yang sudah dirintis oleh para pendahulu mereka. Paus meminta perhatian terutama pada kebutuhan-kebutuhan khusus jaman kita ini. Evangelisasi Baru harus memperdalam iman orang kristen sendiri, menciptakan budaya baru yang terbuka bagi amanat Injil, dan mema­jukan pembaharuan sosial. Sedang pada akir 1990 dikeluarkan ensik­lik mengenai kegiatan misioner jemaat, Redemptoris Missio. Dalam ensiklik tersebut dinaytakan bahwa tugas evangelisasi bersifat ganda: pertama, untuk kawasan-kawasan/orang-orang di mana Kristus dan Injil belum dikenal diperlukan evangelisasi baru; dan kedua, evangelisasi kembali dituntut bagi kawasan/orang yang mengaku kristen, tetapi sudah kehilangan citarasa iman yang hidup dan tidak lagi menganggap diri sebagai anggota jemaat beriman.

 

7.2. Manakah kepentingannya?

 

Dari anjuran Paus Yohanes Paulus II yang sudah disinggung di atas kita diajak memasuki tahun 2000 tahun penebusan manusia dengan evangelisasi baru. Dalam semangat dan keterlibatan terhadap kepentingan manusia ini, kita diharapkan bukan hanya memahami, melainkan melibatkan diri dalam gerakan hidup baru dalam Injil itu, Kepentingan ini semakin terasa dan menjadi nyata bila kita sejenak memperhatikan situasi jemaat beriman saat ini.

 

Umat kristen di kawasan barat yang mengalami pewartaan injil pertama, kini mengalami krisis pemahaman dan penghayatan iman yang sangat kentara. Bukan hanya bahwa gereja-gereja besar menjadi kosong, melainkan juga bahwa banyak di antara kaum muda yang acuh-tak-acuh terhadap iman leluhur ini. Budaya dan nilai-nilai kehidu­pan yang dibangun berlandaskan pewartaan injil itu tidak lagi ‘menawan’ hati mereka. Ada banyak yang lain yang lebih menarik perhatian.

 

Umat kristen di Amerika Latin yang mendapatkan pewartaan Injil dari kaum penjajah pada tahun 1492 ternyata selama 500 tahun berjuang terus menerus meningkatkan mutu kehidupan manusia yang menampilkan kepincangan-kepincangan yang nyata sekali. Aneka gerakan/sekte mengalihkan perhatian orang kristen untuk meninggal­kan Gereja.

 

Umat di Afrika sedang bergumul dengan aneka kesulitan, baik dari alam maupun dari politik. Perbedaan suku, ras, agama dan antar golongan demikian besar, sehingga banyak orang ‘kecil’ yang disingkirkan dari percaturan hidup. Mereka sedang mencari jatidiri mereka seperti nyata dalam usaha inkulturasi.

 

Umat di Asia sebagian besar bergulat dengan kemiskinan dan aneka ragam kehidupan beragama. Dirasakan bahwa kehidupan beragama tidak mendekatkan orang dengan sesamanya, melainkan bahkan memi­kirkan kepentingan golongan sendiri, sehingga perselisihan antar agama kerap kali menjadi kerusuhan antar golongan. bagaimanakah dalam situasi seperti itu Yesus Kristus yang datang untuk memberi­kan kelimpahan hidup – Yohanes 10 – menjadi kenyataan dan bukan hanya pernyataan? Jangan-jangan Injil hanya menjadi omongan, dan bukan seperti santo Paulus menyatakan: kekuatan Allah yang menye­lamatkan, Roma 1:16.

 

7.3. Kabar Gembira Yang Membangun Hidup Bersama.

 

Mencanangkan evangelisasi baru berarti mencanangkan suatu gerakan. Gerakan itu diawali dengan penyadaran bahwa manusia memiliki bekal untuk menghadapi situasi dan kondisi kehidupan masa kini. Bekal itu ialah perjuangan leluhur kita dalam iman. Namun demikian situasi dan kondisi masyarakat jaman ini memang lain. Maka menjadi penting sekali usaha mencari jembatan bagaimana bekal yang diwariskan oleh leluhur dalam iman ini bisa menjadi kekuatan baru bagi kehidupan di jaman yang baru? Usaha seperti itu merupa­kan perutusan bagi setiap orang yang mau hidup serius dengan imannya. Apa artinya serius dengan imannya? Pertama, orang itu mau menjadi saksi rencana dan kasih Allah bagi manusia, termasuk dirinya. Kedua, orang itu mau mewartakan rencana dan kasih Allah tersebut dalam situasi dan kondisi yang berubah-ubah. Ketiga, orang itu mau menghadapi kenyataan hidup sekarang bukan hanya sebagai ancaman bagi rencana dan kasih, melainkan juga sebagai jalan memetik buah-buah kasih tersebut. Dengan demikian pewartaan iman tidak perlu dipisahkan dari pembangunan seluruh kehidupan manusia yang nyata ini. Kemerdekaan manusia memungkinkan ia memi­lih jalan mengembangkan hidup secara bertanggungjawab. Dalam hubungan ini evangelisasi harus dilaksanakan bersama dengan pem­bangunan manusia secara utuh. Kitab nabi Hosea memberikan pelbagai macam unsur untuk mengembangkan kehidupan manusia secara utuh itu.

 

Evangelisasi Baru lalu bisa dilihat sebagai rencana pastoral seluruh Gereja untuk melibatkan diri dalam kepentingan umat manu­sia di manapun. Dalam era globalisasi ini kepentingan manusia di manapun juga perlu mendapat perhatian dalam penginjilan tersebut. Usul yang sebetulnya dilancarkan mengingat kepentingan Gereja lokal tertentu (Amerika Latin) dan berhubungan dengan peristiwa sejarah di masa lalu (500 tahun evangelisasi di Amerika) kini diajukan sebagai rencana gerakan pastoral bagi seluruh jemaat beriman, berdasarkan surat Apostolik Christi Fideles Laici (1988).

 

Rencana pastoral itu sendiri sebetulnya mau menggarisbawahi pelbagai hal ini: pertama, mengembangkan budaya kasih sejati dan solidaritas antar bangsa; kedua, mengembangkan pola-pola pembinaan pastoral baru yang membuka arah lebih partisipatif; ketiga, mer­angsang penemuan wujud-wujud penghayatan iman yang otentik yang sesuai dengan kondisi jaman ini; ini sering disebut inkulturasi; keempat, mengembangkan jiwa dan semangat baru berlandaskan pewar­taan injil; jiwa dan semangat injili inilah yang harus digali. Hal ini bisa dilakukan dalam kelompok-kelompok basis, terutama dengan menggali kembali warta Kitab Suci. Dengan membaca, merenungkan, mendoakan dan melibatkan diri anggota kelompok basis itu bisa mengembangkan iman mereka dan dukung-mendukung dalam perjuangan hidup bersama.

 

7.4. Manakah unsur-unsur pembaharu itu?

 

7.4.1. Semangat Baru

Evangelisasi Baru sesuai dengan cita-citanya mau meng­hayati semangat injili itu secara baru. Evangelisasi teruta­ma adalah suatu kesaksian hidup beriman. Maka untuk melaksa­nakan kesaksian itu, orang beriman sendiri harus peka pada penghayatan imannya. Orang beriman sendiri harus mendapatkan kesempatan membaharui diri. Ini merupakan sekaligus kesempa­tan menemukan wajah Allah yang baru (Gaudium et Spes 19). Orang beriman perlu menggali imannya untuk menyuburkannya, dengan mengingat kekurangan-kekurangan yang selama ini mungkin saja terjadi. Dengan emlihat kekurangan sendiri, orang beriman lebih menyadari jalan yang ditempuh Allah dalam kasihNya, untuk menawarkan pengampunan dan penciptaan baru.

 

Dengan memahami semangat baru ini, tidak cukup hanya mencari informasi baru atau sistem pengajaran baru. Perlu diperhatikan dalam hubungan ini terutama adalah hubungan (relasi dan komunikasi) penuh kegembiraan yang muncul dari kehadiran kasih Allah yang hendak membangun. Rahmat Allah yang menyelamatkan itu harus menjadi kenyataan dalam perwu­judan iman. Ciri jiwa dan semangat baru itu akan nampak dalam pola seperti dinyatakan dalam diri Yesus Kristus, yang mau menjadi miskin, meskipun Ia sendiri kaya, untuk membagi­kan kekayaan itu bagi kehidupan bersama, lihat 2 Korintus 8:9. Semangat sabda Allah yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita untuk menganugerahkan kehidupan yang melimpah itu harus menjadi ciri semangat ini.

 

Kecuali itu ciri itu juga ciri perjuangan dari manusia menuju Allah pantas diindahkan. Salib dan kebangkitan, kejatuhan dan rahmat, merupakan warna khas dari perjuangan ini. Semangat evangelisasi baru adalah semangat mewujudkan kasih karunia Allah dalam hidup yang terbatas dan memelas ini.

 

Semangat itu diwarnai oleh perjuangan para nabi. Para nabi berusaha menafsirkan rencana dan kehendak Allah dalam situasi kehidupan mereka. Mereka mewujudkan rencana dan kehendak Allah itu bagi kepentingan seluruh umat, kendati nabi sendiri harus menderita dan merana. Ciri kenabian ini tidak boleh diabaikan. Ciri lain dari semangat ini ialah altruisme dan bukan egoisme. Bukan diri sendiri melainkan kepentingan bersama. Semangat ini didasarkan pada keyakinan bahwa Allah adalah Bapa bagi semua, Roma 8:15; semua manusia adalah saudara, Matius 23:8-10; kewajiban kita untuk saling melayani, Matius 20:25-28, dalam kerukunan sejati, Matius 6:24; 19:21. Dengan demikian maka akan berkembanglah kasih yang sejati, Yohanes 13:34; 15:13.

 

7.4.3. Metode Baru

Cara penyampaian warta gembira menjadi penting dalam situasi dan kondisi kehidupan yang baru. Bukan hanya soal warta melainkan juga soal perwujudannya. Evangelisasi itu akhirnya harus menyentuh jatidiri manusia yang amat pribadi. Ia menyapa manusia secara merdeka. Maka evangelisasi itu juga mengarahkan manusa kepada kemerdekaannya sebagai anak-anak Allah yang bertanggungjawab. Pola seperti itu nampak dalam diri Yesus Kristus sebagai pewarta Injil. Ia sendiri mengajukan rencana dan kehendak Allah dan memperjuangkannya. Kepada orang lain Ia mengajak hidup demikian. Ia membebaskan orang dari kungkungan dosa pribadi, keterikatan pada beleng­gu sosial dan mengantar orang sampai pada pengalaman Roh Allah yang membaharui kehidupan. Ia memperlakukan pendosa, orang miskin dan papa sebagai manusia yang dikasihi oleh BapaNya.

 

Ciri metode baru itu pertama-tama ialah, bahwa tidak membedakan melainkan mencoba menangkap inti pribadi yang disapa. Maka orang miskin diperlakukan sebagai manusia, yang tersingkir diperhatikan. Ciri lain adalah kegembiraan. Cara menyampaikan kegembiraan adalah spontan dan tulus, tanpa tedeng aling-aling. Maka kesaksian hidup yang penuh pengha­rapan, dengan membuka pelbagai alternatif bagi kehidupan ini menjadi amat penting dalam memperhitungkan cara evangelisa­si.

7.4.3. Ungkapan Baru

 

Evangelisasi ini mau mulai dengan menghargai apa yang ada dalam budaya dan kondisi kehidupan bersama. Ini sudah menjadi nyata dalam sejarah kehidupan jemaat awal. Mereka itu berhasil menyampaikan kegembiraan Kristen, karena pewar­taan mereka bisa diungkapkan dalam pelbagai budaya: Yahudi, Yunani, Latin tanpa kehilangan inti warta gembira sendiri. Maka pemisahan antara warta gembira dan budaya merupakan bencana besar bagi umat manusia, bandingkan Evangelii Nun­tiandi 20. Untuk menghayati iman dalam budaya tertentu memang perlu dipertimbangkan pelbagai model yang ada. Model iman yang memandang rendah budaya yang ada (integralisme) pernah terjadi, dengan menyingkirkan apa yang disebut ‘adat yang tidak pas’. Model ini memaksakan bentuk kebudayaan iman tertentu sebagai pola untuk penghayatan iman yang lain. Model iman yang menyamakan diri dengan sembarang budaya, mencoba menyerasikan segala unsur budaya bagi kehidupan iman. Sikap campuran (sinkretistis) seperti ini tentu bisa mengaburkan inti iman dalam bentuk dan perwujudan yang ada.

 

Model lain ialah model dialog. Iman bisa berdoalog dengan budaya yang ada dan mengolah unsur-unsur budaya itu untuk mengembangkan diri dan menyuburkan kehidupan iman sendiri. Dalam usaha seperti itu jelas muncul ketegangan-ketegangan antara yang satu dan yang aneka ragam, yang umum dan yang khusus, yang tetap dan yang bisa berubah, antara jatidiri dan pengembangkannya. Untuk menemukan bentuk dan wujud yang baru ternyata dibutuhkan kearifan, kesabaran, dan pemahaman yang luas.

 

7.5. Kita Mau Berbuat Apa?

 

Dari sinilah diharapkan menjadi jelas: apa yang sebetulnya dimaksudkan dengan Evangelisasi Baru: manakah unsur pembaharuan itu; relevansi dan urgensinya; dan terutama arah dan tujuannya. Berdasarkan pemahaman di atas maka dalam Minggu Kitab Suci Nasion­al ini kita bisa menggali warta gembira dari Allah lewat Kitab Nabi Hosea yang disajikan bagi pengolahan batin kita masing-masing. Bacaan itu disajikan untuk mengembangkan baik semangat, cara dan ungkapan kehidupan iman yang baru. Sabda gembira dari Allah itu sendirilah yang akhirnya memberikan kekuatan untuk membaharui hidup orang beriman, sesuai dengan kondisi dan situasi mereka. Sabda kenabian Hosea bisa membantu kita menerjemahkan nilai-nilai warta gembira itu dalam situasi masyarakat kita. Bukankah soal religiositas, sinkretisme, sekularisme, kesetiaan dalam hidup bernegara maupun berkeluarga masih tetap menjadi tantangan jaman kita? Pesan itu pantas dikumandangkan kembali dalam diri kita masing-masing, dalam keluarga dan masyarakat kita.

 

Warta nabi itu bisa diolah secara pribadi maupun dalam kelompok basis: misalnya beberapa keluarga, beberapa orang yang dekat, dengan mengembangkan lectio divina. Lectio divina yang sudah menjadi tradisi dalam kehidupa beriman bisa memberikan ilham bagi kegiatan kerasulan Kitab Suci. Lectio divina sendiri mempunyai langkah-langkah sebagai berikut:

- membaca (lectio)

- merenungan (meditatio)

- mendoakan (oratio)

- melibatkan diri (contemplatio)

Membaca teks Kitab Suci bisa dilaksanakan beberapa kali, agar kandungan warta itu menjadi jelas bagi peserta. Merenungkan bisa dilakukan dengan memilih kata-kata, gagasan atau kalimat yang menyapa. Mendoakan berarti menjalin hubungan dengan Allah, bisa setiap anggota kelompok saling mendoakan. Sedang melibatkan diri berarti terutama terlibat dalam keprihatinan yang ada dalam warta itu maupun melibatkandiri dalam situasi dan kondisi yang ada sekarang.

 

Dengan cara demikian diharapkan kelompok melakukan pembacaan itu untuk berkelakuan dan berperilaku setia, seperti nabi Hosea dalam memperjuangkan iman di tengah masyarakat. Melakukan pemba­caan berarti latihan (exercitia) agar orang memiliki watak (kela­kuan) sebagaimana diwartakan oleh nabi Hosea, yakni berperilaku (moral) setia pada panggilan warta gembira iman dalam hidup berma­syarakat, baik dahulu, kini maupun nanti.

 

Stanislaus Darmawijaya Pr

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s