EVANGELISASI BARU

Dua rangkuman

 

Tulisan

Dr. I. Suharyo Pr

 

POKOK-POKOK PIKIRAN MENGENAI EVANGELISASI BARU

 

a. Yang menggerakkan Evangelisasi Baru adalah Kristus yang hidup, yang berkarya melalui RohNya. Karenanya Evangelisasi Baru bukan sekedar meneruskan ajaran, melainkan pertemuan pribadi dengan Sang Penyelamat yang sampai menyentuh hati. Dengan demikian unsur kesaksian hidup mutlak perlu (bdk. RM 42). Dengan kata lain, Evangelisasi Baru dapat berkembang kalau orang-orang beriman secara pribadi, maupun Gereja secara keseluruhan mampu memberi kesaksian tentang pengalamannya akan Allah yang membuahkan kegembiraan dan menyelamatkan.

 

b. Evangelisasi Baru adalah karya Gereja, yang diutus oleh Yesus Kristus. Gereja adalah satu subyek Evangelisasi (bdk. RM 45). Komunitas-komunitas kristiani basis dapat menjadi pusat-pusat Evangelisasi Baru (RM 51). Demikian juga keluarga, yang adalah “Gereja rumah” (CL 62).

 

c. Meskipun diakui bahwa semangat dan cara-cara misi Gereja di masa lalu sungguh besar dan berhasil, Evangelisasi Baru tidak mungkin hanya kembali mengulang semangat dan cara-cara misi itu. Jaman ini menuntut Evangelisasi yang mutunya baru dan cara-cara yang sesuai dengan sensibilitas manusia jaman ini.

 

d. Dialog dengan agama-agama lain, yang memang mengandung benih-benih sabda dan terang kebenaran ilahi (RM 55), tidak boleh menyingkirkan Evangelisasi. Dialog harus dilihat sebagai salah satu unsur dalam pewartaan Injil (RM 55).

 

e. Perpecahan dalam Gereja Kristen adalah salah satu penghambat dalam usaha Evangelisasi. Maka semangat Evangelisasi Baru dapat mendorong usaha lebih giat dalam gerakan ekumene (RM 50). Kesatuan yang ada, meskipun tidak sempurna, dapat menjadi landasan untuk usaha memberi kesaksian bersama dan bekerjasama dalam bidang sosial dan keagamaan.

 

f. Tantangan dunia yang paling besar adalah sekularisme, sikap acuh tak acuh dalam hal-hal keagamaan dan ateisme (praktis) (bdk. CL 34) Hidup orang-orang beriman sangat dipengaruhi oleh gaya hidup modern yang berkelimpahan, konsumerisme, hedonisme yang disebarkan melalui media massa dan sudah menjadi kebudayaan baru. Sementara di tempat lain orang tidak bebas memeluk agama, dan sangat besar jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan yang sangat merendahkan martabatnya.

Di balik keadaan hidup nyata yang sangat berbeda-beda itu, orang di mana-mana mencari makna hidup dan rindu akan kehadiran Allah dalam hidup mereka (bdk RM 38). Evangelisasi Baru ditantang untuk menumbuhkan benih-benih sabda yang terdapat dalam berbagai macam keadaan yang kadang-kadang saling bertentangan ini. Melalui Evangelisasi yang memaklumkan Yesus sebagai jalan, kebenaran dan hidup, Gereja memberikan pelayanan kepada dunia seperti itu (RM 2 bdk.no 38).

 

g. Evangelisasi yang tertuju kepada kebudayaan ternyata mendapat perhatian yang sangat penting. Iman tidak dapat mengakar, tumbuh dan mengungkapkan diri kalau tidak ‘menjelma’ dalam bentuk-bentuk kebudayaan setempat (bdk. CT 53). Maka semua saja yang terlibat dalam Evangelisasi Baru harus memahami mentalitas dan sikap-sikap yang ada dalam dunia modern, membacanya dalam terang Injil dan mengangkat unsur-unsur yang baik yang ada di dalamnya (CT 44).

 

 

h. Ajaran Sosial Gereja, yang dilandaskan pada paham mengenai manusia yang didasarkan pada wahyu ilahi, adalah sarana Evangelisasi Baru yang sangat baik (CA 54 bdk SRS 41). Pengembangan manusia yang otentik harus dilandaskan pada Evangelisasi yang semakin dalam (RM 58). Dengan membuka akar-akar sistem politik dan ekonomi yang tidak adil, Evangelisasi masuk ke dalam masalah ketidakseimbangan sosial yang mendasar. Evangelisasi mencakup keterlibatan dinamis dalam usaha demi masyarakat yang lebih sejahtera, damai dan adil dan terciptanya kebudayaan kasih yang baru (bdk CA 55; RM 51).

 

i. Tak ketinggalan disebut pentingnya media komunikasi masa. Kekuatan media komunikasi sangat besar dan tergantung pada kita untuk berusaha agar media komunikasi itu menjadi sarana untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan mutu kehidupan susila yang tinggi. Karena perkembangannya yang begitu cepat dan pengaruhnya yang begitu dalam, media komunikasi menuntut perhatian Gereja (CL 44). Usaha untuk mengintegrasikan pesan Kristiani dalam kebudayaan baru yang diciptakan media massa adalah tugas yang sangat rumit, meliputi masalah bahasa yang baru, teknik-teknik baru dan psikologi yang baru pula.

 

NB:     1. RM = REDEMPTORIS MISSIO

            2. CL = CHRISTIFIDELES LAICI

            3. CA = CENTESSIMUS ANNUS

            4. CT = CATHECHESI TRADENDAE

 

Bahan Pembicaraan Bersama.

CARILAH CONTOH KONKRET PERBUATAN YANG BISA KITA LAKUKAN UNTUK MELAKSANAKAN MASING-MASING POINT DI LINGKUNGAN ANDA SENDIRI.

 

 

 

 

 

 

 

 

LANGKAH-LANGKAH EVANGELISASI BARU

 

01. Iman kita mengatakan bahwa Allah hadir dalam kehidupan, dalam alam dan dalam sejarah (Mzm 8:1-10; 19:2-7), karena segala sesuatu diciptakan dalam Kristus dan bagi Kristus (Kol 1:15-16) Roh Allah bekerja dalam hati semua manusia (Keb 8:1), membimbingnya kepada Kristus melalui bermacam jalan dan karunia (lih. Yoh 14:2). Maka dari itu, kita hendak­nya mendengarkan Firman yang hidup, yang diucapkan Allah kepada kita supaya dapat kita wartakan (DV 1).

 

02. Demikian, kita adalah seperti murid-murid dalam perjalanan ke Emaus (Luk 24:13-35). Kita kadang-kadang tidak memahami kehadiran Kristus, yang berjalan bersama kita (Luk 24:16). Melihat kehidupan dan sejarah bangsa kita, kita tidak selalu dapat mengenal di dalamnya kehadiran Kristus, seperti Paulus melihatnya dalam sejarah bangsanya, ketika ia berkata “Batu karang itu adalah Kristus!” (1 Kor 10:3).

 

03. Berhadapan dengan tantangan-tantangan baru, kita membutuhkan cara-cara baru. Kita memerlukan evangelisasi yang “baru dalam keharumannya, baru dalam caranya, baru dalam pengungkapannya” (Yohanes Paulus II, Sambutan dalam Sidang Raya Celam ke-19, Haiti, 9 Maret 1983).

 

04. Kita, para murid, agar dapat melakukan evangelisasi, hendaknya membiar­kan diri kita menerima evangelisasi, yaitu:

 

  • merasakan tantangan dan krisis dari pembaharuan (Yes 43:18-19)
  • melewati kegelapan dan pengalaman tidak mengetahui apa-apa (Rat 3:2.6; Yes 42:18-20)
  • mengalami penggodaan untuk mengikuti jalan lain (Mat 4:1-11; Mrk 8:33; Ibr 4:15)
  • supaya lewat ketaatan radikal (Ibr 5:8; Flp 2:8), dengan jalan yang baru dan penuh rahmat, mengalami wajah ramah dari Allah, yang membangkitkan kehidupan dari kematian (Flp 3:10-11; Ef 1:18-23) dan untuk mengalami bahwa Yesus adalah Tuhan (Kis 2:31; Flp 2:11).

 

 

05. Pengalaman baru akan Allah akan memberikan kepada kita mata yang baru untuk dapat memahami, apa yang direalisasikan Allah pada masa lalu. Dengan sinar masa lalu, dapat membeda-bedakan tanda-tanda dari Kerajaan Allah, yang sedang datang dalam kehidupan dan sejarah bangsa kita.

 

06. Dengan cara demikian, Roh Yesus akan membuat kita mampu untuk memahami Firman yang ditujukan kepada kita (Yoh 14:26; 16:13) Dibimbing dan dikuatkan oleh Roh, kita hendaknya menjadi saksi, sampai akhir jaman. Maka kita akan mampu, seperti Petrus, mengenal kebangkitan Yesus hadir dalam peristiwa-peristiwa (Kis 2:14-36; 3:11-26); untuk membuka Kitab Suci, seperti Filipus (Kis 8:26-40); untuk melihat, seperti Paulus, kehadiran Allah Abraham dalam kebudayaan bangsa-bangsa (Kis 17:22-31); untuk mengatakan, seperti Stefanus dan Paulus, apa yang salah dalam agama-agama dan budaya-budaya itu (Kis 7:1-54; 14:11-18); untuk men­jangkau, seperti umat di Antiokia, mereka yang bukan Kristen (Kis 11:9-26); untuk mengatakan, seperti Paulus di depan Petrus, apa yang salah di dalam Gereja sendiri (Gal 2:14); untuk memahami, seperti Paulus, bahwa

Allah terus memimpin semua bangsa kepada Kristus (lih. Ef 1:9-10) – supaya semua mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan (Yoh 10:10), dan semoga Allah menjadi semua dalam semua (1 Kor 15:28).

 

07. Dari pengalaman baru Allah dalam Yesus Kristus, aroma baru lahir, yang menghasilkan keberanian dan mendesak kita untuk berkata: “Kami tidak dapat diam! Kami harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia” (Kis 4:19-20). Aroma baru ini dalam diri kita akan menjadi kekuatan dan sinar terang, yang akan membantu menjadi adonan kemanusiaan baru (Mat 13:33), jaminan dari langit baru dan bumi baru (Yes 65:17). Aroma ini mendesak kita untuk memberitakan Kabar Gembira dan Kerajaan Allah dengan cara seperti dilakukan Yesus pada jalan ke Emmaus.

 

08. Kedua murid ada dalam situasi kematian, seperti kita lihat dialami banyak dari bangsa kita: mereka takut (Yoh 20:19) dan lari dari Yerusa­lem (Luk 24:13); mereka tidak lagi mampu percaya pada tanda-tanda kecil dari pengharapan, karena mereka menolak percaya kepada para wanita (Luk 24:22-23); mereka menantikan Mesias yang jaya dan demikian tidak mampu menerima kemuliaan Allah dalam kematian Yesus (Luk 24:12). “Kami meng­harap ia akan menjadi pembebas Israel tetapi….!”

 

09. Yesus datang sebagai teman dan sahabat, yang berjalan bersama mereka. Ia mendengarkan dan menyapa: “Apa yang kalian perbincangkan?” (Luk 24:17). Prihatin dengan keadaan kedua murid, Yesus ingin menolong mereka merubah salib, tanda kematian, menjadi tanda hidup dan penghara­pan.

 

10. Sikap dialog, mendengarkan dan merangkul adalah langkah pertama menuju Evangelisasi Baru. Itu berarti hidup selama 30 tahun secara sederhana di Nazaret, agar dapat mempelajari apa yang akan diwartakan selama tiga tahun hidup di depan umum.

 

11. Langkah kedua adalah membantu para murid membaca peristiwa-peristiwa dengan pandangan baru. Yesus menelusuri Kitab Suci, masa lalu, tradisi. Ia menelusuri apa yang sudah mereka ketahui. Kitab Suci dibaca lagi dalam cahaya kebangkitan, menjelaskan situasi yang dihadapi para murid sendiri.

 

12. Cara YESUS mendidik bijaksana. Hal BARU yang Ia wartakan tidaklah sama sekali baru. Itu adalah kebaruan yang lama, yang ditemukan dalam seja­rah dan dalam pengharapan bangsa-bangsa. Yesus mengambil selubungnya:

“Bagaimana lambannya kalian untuk mempercayai apa yang diwartakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita itu semua untuk dapat masuk dalam kemuliaanNya?” (Luk 24:25-26). Membaca Kitab Suci dengan cara demikian, Yesus memecahkan visi salah dari ideologi yang dominan dan mempersiap­kan para murid untuk menemukan kehadiran Allah.

 

13. Dengan cara demikian Yesus menempatkan peristiwa, salib, ke dalam perspektif yang lebih luas dari rencana Allah, dan demikian para murid menyadari, bahwa mereka tidak tersesat. Sejarah dunia berlanjut di tangan Allah.

 

14. Yesus menggunakan Kitab Suci, bertolak dari problem konkret para murid, dan menemukan dalam situasi itu kriteria baru untuk mendengarkan teks. Dengan bantuan Kitab Suci, Yesus memberi terang pada situasi dan membu­ka suatu cakrawala pengharapan. Dalam waktu yang sama Ia membantu mereka untuk memahami kesalahan dan mendorong kepada pertobatan.

 

15. Tetapi Kitab Suci sendiri tidak perlu membuka mata kita, tidak membuat mata kita melihat. Kitab Suci hanya membuat hati kita bernyala-nyala dari dalam (Luk 24:32). Apa yang membuka mata dan mendorong kita meli­hat kehadiran Kristus yang bangkit adalah sikap syering yang konkret (Luk 24:31). Tanda syering menumbuhkan persekutuan di mana orang-orang Kristen hidup rukun (Kis 2:44-45; 4:32-35). Pengungkapan tertinggi dari persekutuan ini adalah Ekaristi, yang mewahyukan kepada kita dimensi sakramental dari Firman Allah. Ini adalah langkah ketiga dari Evange­lisasi Baru, yang membuka mata kita dan memungkinkan kita menemukan kehadiran kabar gembira kebangkitan dalam hidup kita.

 

16. Kebaharuan dari kebangkitan memberikan terang kepada kehidupan kedua murid. Jika Yesus hidup, maka di dalamnya ada kekuatan yang lebih kuat daripada kekuatan yang membunuhNya. Inilah akar dari kebebasan dan keberanian. sekarang mereka sendiri bangkit dan lahir kembali. Salib, tanda kematian, menjadi tanda kehidupan dan pengharapan.

 

17. Akibatnya dari Evangelisasi Baru: bukannya ketakutan, melainkan kebera­nian; bukannya lari, mereka kembali ke Yerusalem; bukannya tersebar, mereka berkumpul dalam persekutuan; bukannya takdir yang menerima saja apa yang terjadi, melainkan muncullah kesadaran kritis yang memberi reaksi terhadap kekuatan yang membunuh; bukannya tidak percaya dan putus asa, melainkan iman dan pengharapan. Inilah kebangkitan dalam perjalanan Inilah kehidupan yang baru dan jaya yang masuk dalam sejarah (Ef 1:18-20). Pertobatanlah yang mengubah kenyataan, menciptakan jalan-jalan baru dari manusia yang hidup bersama-sama.

 

Bahan Pembicaraan bersama:

 

BUAT RINGKASAN POKOK-POKOK TEKS DI ATAS DENGAN PERHATIAN POKOK PADA:

1. APA ITU EVANGELISASI BARU.

2. SEBUTKAN LANGKAH-LANGKAH EVANGELISASI BARU.

3. SEBUTKAN BUAH DARI EVANGELISASI BARU.

About MIK'ers admin. Katolik Roma

Katolik Roma Vatikan City. Kami meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang direncanakan oleh Tuhan Allah, didirikan oleh Yesus Kristus Putera-Nya, dan dikuduskan terus menerus oleh Roh Kudus. Dan sesuai dengan amanat Yesus sendiri, Gereja Katolik menjadi "sakramen keselamatan" bagi seluruh bangsa. Setiap anggota Gereja telah dibekali dengan Roh Kristus yang memampukannya untuk hidup kudus dan yang menghantarkannya kepada keselamatan dan kehidupan yang kekal .

Terima kasih telah membaca artikel blog ini !! Jangan lupa tinggalkan komentarnya pada artikel yang di baca.. God Bless You.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s